A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
77. Berkah atau kemampuan diri?


__ADS_3

“Secara sederhana, chi adalah esensi dasar dari segala hal, baik fisik maupun metafisik. Chi adalah kekuatan vital yang merupakan jantung dari segala pertumbuhan di alam semesta, bumi, dan kemanusiaan. Namun Kaisar agung Qin Shi Huang berhasil menemukan metode pemanfaatan chi dalam tubuh. Pemanfaatan itu disebut kontrol jiwa."


Hasan tertarik mendengar penjelasan itu karena dia sudah merasakan sendiri manfaatnya. Tapi dia masih belum percaya dengan aliran chi kacau, karena itu terlalu sulit diterima secara logika sama seperti kekuatan super yang dia miliki.


Puncak pembelajaran chi ini adalah praktek langsung dari si tabib. Dia menantang Hasan main tebak benda. Caranya si Hasan harus menyembunyikan sesuatu di bawah bantal. Benda tipis seperti kertas dan si tabib akan menebak tulisan di atasnya.


Hasan menulis kata 'benarkah?' di atas kertas lalu menimpa kertas itu dengan bantal dan selimut dari kamar pelanggan.


"Kalau benar akan ku kasih 100 ribu."


"Kalau mau memberi hadiah, aku bisa mengajarimu membuka aliran chi mu. Jadi hadiah ku adalah pengetahuan untukmu."


Penawarannya tidak buruk. Hasan pun menerimanya dan berjanji akan berguru dengan tabib itu.


"Kau menulis kata 'benarkah' dengan huruf besar. Sekarang jadilah muridku."


Si tabib menebak sampai ke cara penulisannya membuat Hasan tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya.


Nyonya Yin menutup semua jendela dan pintu sesuai anjuran si tabib, lalu tabib itu mulai dengan membuka pakaian atas Hasan.


"Salah satu cara yang paling manjur adalah akupuntur."


"Tunggu! Bukankah itu menyakitkan!?!?"


"Yang ini tidak. Percayalah, aku bisa memasukkan jarum dengan cara yang tidak menyakitkan. Tapi kau tidak boleh bergerak selama seharian penuh. Kau ingin membuka aliran chi mu kan?"


Hasan mengangguk.


Satu persatu jarum akupuntur dimasukkan namun saat jarum yang terakhir menembus kulit Hasan merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Dia seperti mengulang kembali semua rasa sakit yang dialaminya. Patah tulang leher dan rusuk, kaki terbakar, keracunan, dihancurkan dengan batu. Rasa sakitnya tidak tertahankan.


Hasan mengalami parkinson parah, semua jarum akupuntur terdorong keluar dari tubuhnya.


Tiba-tiba Hasan merasakan kekuatan di kakinya. Dia berlari menuruni tangga ke lantai satu.


Tubuhnya kembali bertenaga, rasa sakit di tubuhnya berkurang, pandangannya berubah drastis. Matanya berkunang kunang disertai dengan munculnya bayangan masa depan.


Sebuah minibus menabrak restoran. Beberapa detik kemudian sebuah minibus benar-benar menabrak pintu masuk restoran.


Area restoran rusak parah, terlihat banyak pelanggan terluka, dan seorang waitress mengalami patah tulang di pergelangan kakinya.

__ADS_1


Hasan kembali melihat bayangan masa depan. Dalam penglihatannya itu Hasan melihat Miguel, pelanggan yang di blacklist kemarin keluar dari kursi pengemudi dan Hasan masa depan melempar beling yang tepat menancap di lehernya.


Penglihatan masa depan itu berpengaruh pada tindakan Hasan selanjutnya.


Alih alih melempar beling ke atas Hasan melempar belingnya ke bawah dan tepat mengenai buah zakarnya pelaku.


"Yang barusan itu? Apa sekarang aku punya penglihatan masa depan?"


Hasan merasa segar bugar setelah akupuntur tadi gagal.


Dia menolong para korban sebelum menangkap pelaku. Toh si pelaku tidak bisa pergi ke manapun. Dia hanya meringkuk kesakitan di lantai.


"Anda tidak apa apa?"


Hasan menolong si waitress.


"Sa~kit, aku mau... pulang," rintih wanita itu sambil menangis.


Hasan pun membantunya berdiri.


Silver Tongue yang menggantikan posisi Hasan sebagai penjaga di siang hari terkejut melihat kondisi restoran yang amburadul setelah dia tinggalkan sebentar.


"Kau pantas mendapatkannya brengsek!"


Miguel mendapat tendangan dari Silver Tongue sebelum ditolong oleh warga yang berkumpul di lokasi.


Hasan masih memegang matanya, tak lama setelah membawa si waitress ke kamar dia langsung pingsan dan dahinya terbentur ujung ranjang sampai berdarah.


...***Di kantor DKK SELATAN***...


Kolonel Graham diberitahu kejadian itu oleh Bounty Hunter yang mengintai dari seberang jalan.


"Misi pengintaian ini kurang efektif. Terlalu banyak masalah mulai dari terlalu banyak memakai agen, agen Hall Fame yang tidak cocok, dan rendahnya persentase kemunculan The Flow. Misi ini lebih cocok disebut misi pengawalan biasa. Tidak, aku ingin kalian berdua menggantikan pekerjaan SB dan HF selama satu bulan mereka bertugas disana. Kalian mengerti Lim? Bertrand?"


"Kami mengerti pak...!" (Lim dan Bertrand)


...***...


Hasan terus menerus mengalami evolusi kemampuan.


Sekarang dia bisa melihat masa depak maksimal 5 detik yang akan datang. Dia melihat cahaya samar yang mana merupakan bayangan dirinya yang siuman dan menatap lampu kamarnya.

__ADS_1


5 detik kemudian Hasan benar-benar sadar, dan dia berada di rumahnya sendiri. Perasaan senang dan sedih bercampur aduk dikala melihat istrinya memegangi sebuah serbet basah untuk mengompres dahinya.


"Ini benar kamu Siska?" tanya Hasan dengan suara lemah.


"Iya mas, apa yang sakit?" Siska menggenggam tangan Hasan yang menyentuh pipinya dengan lembut.


"Aku enggak tau. Rasanya seperti ada yang aneh pada tubuhku. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa."


Hasan tersenyum lembut pada istrinya. Mengingat dirinya meninggalkan sang istri di saat hamil besar membuat Hasan merasa bersalah. Tapi kenapa dia dipulangkan? Silver Blade pasti tahu apa yang terjadi pada Hasan.


Hasan mencoba bangun, kakinya masih lemas seperti orang yang habis lari maraton tapi bukan atlet.


"Kamu bisa melepaskanku sekarang Sis. Kakiku sudah kembali normal soalnya." Kata Hasan.


"Kalau begitu gantian, bantu aku berjalan menuruni tangga."


Hasan memegang tangan istrinya, sedangkan tangan kanan memegang pinggul si istri.


Dengan perlahan mereka menuruni tangga. Drama turun tangga itu terjadi karena Hasan dan Siska sangat berhati-hati dalam mengasuh anak mereka yang akan lahir.


Rumah Hasan cukup ramai walau sore sudah berganti malam.


Disana ada ayah dan ibu Hasan, Hajeera. Yang mengejutkan di ruang tamu rumah itu juga ada Carol, Ren, nyonya Yin dan si tabib. Mereka berkumpul untuk membahas hal pentingnya masing-masing.


Dimulai dari ayah dan ibu yang mencemaskan anaknya, lalu Hajeera yang mencemaskan bosnya. Selanjutnya ada Carol dan Ren. Melihat mereka bersama sudah mengindikasikan kalau rencana Hasan sebelumnya sukses.


Carol dan Ren menundukkan kepalanya. Ren mengucapkan terima kasih dengan nada yang tinggi, sangat berbeda dengan wajah yang dia tampilkan sebelumnya. Momen Hasan mengejek tradisi keluarga Hajimoto sangat sakral dan berarti besar di mata mereka terutama Ren yang telah lama terbelenggu oleh tradisi itu.


Alasan lain Carol bertamu ke rumah Hasan adalah untuk bertukar nomor lagi, karena hp Carol yang sebelumnya rusak setelah terendam di kubangan air. Carol menceritakan kejadian itu dengan malu malu.


Kali ini Hasan juga memberikan nomor aliasnya yaitu nomor agen Hall Fame.


Selanjutnya nyonya Yin. Dia berdalih datang bersama tabib karena ingin menawarkan pengobatan tradisional.


"Saya tidak bisa diam saja saat pegawai terluka. Karena itulah saya bawakan tabib kesini."


Hasan mengetahui maksud Yin Yue yang sebenarnya. 


"Sepenting itukah aliran chi kacau ku sampai kau mendatangi rumah orang Yin Yue?" Gumam Hasan dalam hati.


...***...

__ADS_1


__ADS_2