AIR MATA SCARLETT

AIR MATA SCARLETT
CURAHAN HATI CAITLIN


__ADS_3

"Aww...Ale, otot kaki ku tertarik lagi", ucap Scarlett dengan meringis menahan rasa sakit di betisnya.


Alejandro yang sedang tertidur pulas seketika bangun begitu mendengar Jeritan tertahan Scarlett. Ia mengusap-usap lembut betis Scarlett yang mengalami kram.


"Sekarang bagaimana, apa kau masih merasakan sakit ?"


"Tidak terlalu sakit lagi Ale, sudah sedikit baikan", jawab Scarlett.


"Kemari lah,.." Alejandro membawa tubuh Scarlett kedalam pelukan hangatnya.


"Tidurlah lagi, sekarang masih malam", ucap Alejandro sambil mencium pucuk kepala Scarlett.


Akhir-akhir ini Alejandro selalu menjadi suami siaga, karena usia kehamilan istrinya yang semakin tua sehingga Scarlett sering kali mengalami kram di kaki maupun di perutnya saat malam hari.


Scarlett sendiri bukanlah termasuk perempuan hamil yang rewel, walaupun ia mengandung anak pertama. Scarlett tidak pernah mengeluh atau menyusahkan suaminya jika apa yang di rasa itu tidak benar-benar sakit atau membuat nya tidak nyaman.


Alejandro mengusap punggung istrinya, untuk membuatnya lebih baik.


*


Dua Minggu sudah berlalu..


"Selamat pagi ibu, bagaimana keadaan ibu pagi ini", sapa Mark yang sudah duduk di kursi makan begitu melihat Caitlin turun tangga bersama seorang perawat yang selalu menemani nya.


"Pagi nak, ibu baik pagi ini", jawab Caitlin.


Memang beberapa Minggu ini kondisi Caitlin semakin membaik. Berbicara nya lancar walau kadang masih sesekali lupa dengan kosa kata. Ia juga sudah sering mengucap nama Mark. Dan memanggil Scarlett dengan namanya tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Gabby lagi .


"Nyonya Caitlin mau sarapan apa pagi ini biar saya ambilkan ?" tanya Rossa dengan sopan.


"Sereal dan susu kedelai saja, Rossa. Aku harus memilih makanan yang banyak mengandung serat baik untuk otakku", jawab Caitlin.


"Baik nyonya..


"Nak, bisakah setelah sarapan kita berbicara sebentar ?"


Mark menatap lembut kepada Caitlin, "tentu saja bisa, ibu bisa kapan pun berbicara kepada ku. Sesibuk apapun pekerjaan ku ibu adalah hal yang terpenting untuk ku", jawab Mark memeluk pundak Caitlin yang duduk di samping nya.


Perubahan Caitlin tidak membuat Mark terkejut. Ibu nya itu kadang kala seperti tidak sakit . Ada waktu tertentu ingatan Caitlin kembali normal dan berbicara dengan lancar, tetapi setelah itu ia sesekali masih akan mengalami lupa lagi.

__ADS_1


Jika pada saat ingatan nya kembali, akan dipergunakan Caitlin sebaik mungkin berbicara kepada Mark putra nya.


Menurut dokter yang merawatnya keadaan seperti itu biasa dialami pasien Demensia. Untuk saat ini kondisi Caitlin sudah sangat membaik. Walaupun belum seratus persen sembuh, tetapi melihat perkembangannya tidak menutup kemungkinan bahwa daya ingat Caitlin akan sepenuhnya pulih.


Setelah sarapan Caitlin mengajak Mark ke kamarnya.


Mark menuntun tangan Caitlin menaiki tangga.


"Ibu menyukai kekasih mu Olivia nak, ia wanita cantik yang baik", ucap Caitlin membuka pembicaraan nya bersama Mark putranya. Keduanya duduk di tepi tempat tidur yang biasa ditempati Caitlin.


"Iya bu, Olivia adalah gadis yang sangat baik. Aku mencintai nya"


Caitlin mengusap lembut wajah Mark. Ia menggenggam tangan Mark.


"Nak, ibu senang berada di perkebunan ini. Tetapi ada hal yang harus kau ketahui, ibu tidak mau menyimpan nya lagi seorang diri. Ibu bertekad ingin sembuh dari sakit agar bisa melihat mu menikah dengan Olivia serta melihat cucu yang akan kalian berikan kepada ku. Sebelum waktu ku habis", ujar Caitlin sambil menggenggam tangan anaknya Mark.


Caitlin menarik nafas panjang..


"Saat ibu meninggal kan mu dulu, ibu melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak akan kau maafkan. Ibu menikah lagi dengan laki-laki yang ibu cintai dalam hidup ibu, tanpa bercerai terlebih dahulu dengan ayahmu."


"Laki-laki itu hanya lah orang biasa yang berasal dari kota ini. Dulu nya Ia hanya menjadi pemetik anggur di perkebunan mu ini . Ibu benar-benar terkejut saat sadar dan mengetahui ibu tinggal di perkebunan Merciel yang sudah menjadi milik mu, Mark".


"Saat itu kehidupan kami sangat kesulitan, bahkan untuk sekedar makan satu kali saja dalam sehari kadang terlewatkan. Saat mengalami keadaan itu semua, aku benar-benar menyesal meninggalkan kalian. Kadang aku teringat ucapan orang tua ku, bahwa hidup di dunia ini tidak akan bahagia jika hanya mengandalkan kekuatan cinta".


"Saat aku akan kembali pada ayah mu, ternyata aku hamil anak Damian laki-laki yang aku cinta itu. Hati ku benar-benar terguncang, aku benar-benar merasa bersalah ke pada mu dan juga calon bayi ku".


"Pada akhirnya orang tua ku meminta ku memilih, kembali kepada Arthur atau terus bersama dengan Damian dan putri kami yang baru saja aku lahirkan".


"Dan aku memutuskan kembali kepada Arthur dan kau nak. Konsekuensinya aku tidak akan pernah melihat dan bertemu dengan putri kecil ku lagi", ucap Caitlin dengan raut wajah sedih dan tertekan.


"Hingga perasaan rindu kepada bayi perempuan yang tidak bersalah itu begitu membuat batinku hancur. Aku melalui hari-hari dengan rasa penuh penyesalan dan rasa bersalah yang mendalam kepada Gabby nama bayi perempuan yang aku lahirkan", lirih Caitlin.


"Hingga penyakit ini menyerang daya ingatan ku", ucap Caitlin dengan suara bergetar.


"Maaf kan ibu atas semua kesalahan yang sudah ibu lakukan kepada mu nak, ibu benar-benar bersalah kepada mu juga kepada ayah mu yang sudah sangat baik kepada ku bahkan menerima ibu kembali dengan semua kekurangan yang ibu miliki. Mungkin saat ini lah waktu yang tepat ibu mengatakan semuanya disaat ibu ingat semuanya", ucap Caitlin dengan tubuh bergetar.


"Ibu juga sangat sangat berdosa kepada Gabby adik mu, ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang ku. Aku adalah wanita dan ibu terburuk di muka bumi ini. Aku tidak pantas di sebut ibu oleh Gabby, karena tidak pernah merawatnya".


"Aku hanya bisa mengirim berdoa untuk putri kecil ku dan Damian, harapan ku mereka menemukan kebahagiaan yang seutuhnya.

__ADS_1


Walau pun kesalahan ku tidak termaafkan karena begitu jahat terutama untuk Gabby. Aku tega meninggalkan bayi yang tidak berdosa itu", ucap Caitlin terisak-isak.


Mark memeluk tubuh yang sudah semakin susut tergerus usia itu. Untuk Mark, sudah sejak lama ia memaafkan ibu nya. Itu semua karena Arthur ayah nya yang selalu memberikan nasihat agar Mark tidak membenci wanita yang sudah melahirkan nya itu. Ayah nya memang laki-laki yang sangat bijak, menyikapi kesalahan yang dilakukan Caitlin dengan menyebut nya TAKDIR yang sudah di tentukan sang pencipta.


"Ibu, Aku sudah memaafkan semua kesalahan ibu di masa lalu. Ayah selalu mengingat kan aku, untuk mengingat hal baik yang sudah ibu lakukan untuk kami", ucap Mark.


Mark mengendur kan pelukannya pada tubuh Caitlin.


"Ibu, apakah saat ini ibu ingin menemui bayi perempuan ibu Gabby?", ucap Mark pelan sambil menatap kedua bola mata abu-abu milik Caitlin.


Caitlin menarik nafas panjang..


"Ibu tidak memiliki hak untuk menginginkan itu, nak. Walaupun ibu sangat menginginkan bertemu dan memeluk Gabby walau hanya sekejap saja, tetapi jika hanya akan menambah luka untuknya ibu tidak akan menemuinya. Tapi ibu cukup berharap bisa melihat Gabby dari jauh. Ibu tidak mau dengan kehadiran ibu akan mengusik kebahagiaan yang sudah dimilikinya saat ini", jawab Caitlin dengan suara bergetar.


Huhh..


Mark menarik nafas panjangnya.


"Ibu..Apakah ibu ingin bertemu dengan Gabby adikku ?", ucap Mark pelan.


Mendengar pertanyaan Mark membuat Caitlin berlinang air mata. Ia menggelengkan pelan kepalanya


"Kalau akan membuat perasaan Gabby semakin terluka lebih baik tidak Nak. Tapi biarkan ibu melihatnya dari kejauhan Walaupun tidak dapat memeluknya", jawab Caitlin pelan.


...***...


LIKE KOMEN DAN VOTE, KASIH BUNGA OR KOPI JUGA BOLEH BANGET 💃🙏


...KARYA EMILY :...


...1. PENGANTIN PENGGANTI (tamat)...


...2. AIR MATA SCARLETT...


...(on-going)...


...3. SERPIHAN HATI ELLENA...


...(on-going)...

__ADS_1


__ADS_2