
"Ada apa dengan suamiku, Javi ?"
"Alejandro..., Scarlett i-ia...
Scarlett berjalan cepat melangkah kan kakinya keruangan dimana suaminya berada. Tanpa berpikir apapun lagi, Scarlett tidak perduli dengan yang lainnya. Yang ada dalam pikirannya hanya Alejandro. Bahkan ia tidak memakai alas kaki karena sangat panik.
"Alejandro jangan tinggalkan aku", isak Scarlett dengan suara bergetar.
Sementara Javier dan Moza berlari mengejar Scarlett, mereka tidak mau terjadi apa-apa dengan Scarlett.
Tanpa berpikir panjang, Scarlett menerobos masuk keruangan Alejandro. Tubuh Scarlett langsung lemas melihat para perawat menggelengkan kepalanya. Scarlett semakin histeris melihat wajah Alejandro pucat dan terbujur kaku dihadapannya.
"Aleee..." Jeritan menyayat sembiluh Scarlett memenuhi ruangan itu. Ia memeluk tubuh Alejandro dan menangis tersedu-sedu.
"Alejandro, jangan tinggalkan aku dan anak kita. Kau sangat menginginkan anak ini kan, sekarang ia ada di perutku. Kau harus bertahan dan melihat anak kita Aleee", Scarlett menjerit.
Sementara para perawat menundukkan kepalanya. Begitupun Javier.
Moza hendak menghampiri Scarlett tetapi tubuhnya ditahan Javier. Akhirnya Moza mengurung kan niatnya.
"Aleee, A-Aku mencintaimu.
Dari palung hatiku yang terdalam, aku mencintaimu Ale", isak Scarlett dengan suara jelas mengucapkan kata-kata cinta pada Alejandro.
Scarlett memeluk tubuh Alejandro, dan menyandarkan wajahnya pada dada yang tidak terkena tembakan.
"A-ku mencintaimu A-Ale", ucapnya lirih dan tersedu-sedu.
"Be-benarkah itu Sa-sayang ?"
Suara bariton itu, suara yang selalu didengar nya tiap saat, suara yang sangat dirindukannya beberapa hari ini.
Scarlett mengangkat pelan kepalanya yang ada di dada Alejandro yang terbalut perban.
"Aleee, kau masih hidup ? Kau tidak mati ?" Seru Scarlett menciumi wajah Alejandro. Hinggap bibir nya. Scarlett tidak perduli dengan semua disekitar nya, ia tidak bisa menutupi rasa bahagianya saat ini. Ia melupakan malunya.
Para perawat saling bertukar pandang dan meninggalkan ruangan, mereka tersenyum melihat pasangan romantis itu.
Sementara Moza memukul dada Javier. "Kau tega sekali membohongi aku dan Scarlett Javi, kau mengambil resiko yang bisa membahayakan keadaan Scarlett yang sedang hamil Javier", ketus Moza memarahi Javier yang telah membuat Scarlett sangat panik.
"Kau jangan menyalahkan aku, tapi salahkan saudara mu itu ia yang memaksaku melakukannya. Padahal dengan tegas aku sudah menolak nya", jawab Javier menggenggam tangan Moza yang memukul dada bidang nya.
Moza hendak protes pada Alejandro, tetapi ia urungkan niatnya. Saat melihat Scarlett dan Alejandro sedang berciuman dengan mesra.
Javier mengajak Moza keluar ruangan itu, memberikan privasi pada sahabat mereka menghabiskan waktu berdua.
Scarlett membuka mulutnya membiarkan Alejandro masuk lebih dalam. Bahkan air mata di pipinya masih berlinang. Bagaimana tidak, yang ada dipikiran Scarlett Alejandro sudah pergi meninggalkannya.
Scarlett tidak bisa mengungkapkan perasaannya saat mengetahui Alejandro masih ada bersamanya.
"Aww, Ahh", Alejandro meringis kesakitan sambil memegang dadanya yang terluka. Saat dirinya terbawa suasana ingin lebih memperdalam ciumannya pada Scarlett.
Scarlett tersentak sadar dan melihat perban yang ada darahnya.
__ADS_1
"Alejandro, kau masih sakit. Luka mu belum kering", bisik Scarlett mengusap wajah Alejandro yang menatapnya lembut.
"Aku sangat menguatirkan mu dan anakku", jawab Alejandro sambil mengusap lembut perut Scarlett.
"Kau tega sekali membuat aku dan anakmu panik Ale", protes Scarlett mengingat dirinya histeris beberapa saat yang lalu.
"Karena aku ingin mengetahui perasaan mu pada ku yang sebenarnya", ucap Alejandro sambil mengusap lembut perut Scarlett dengan tangannya yang bebas.
Scarlett tersenyum mendengar jawaban Alejandro. Ia kembali menyandarkan wajahnya pada dada Alejandro yang tidak terluka.
"Aku sangat mencintaimu Ale, aku tidak tahu lagi dengan hidupku kalau kau meninggal kan aku sendirian didunia ini", bisik Scarlett.
Alejandro mengeratkan pelukannya pada tubuh Scarlett.
"Aku tidak akan pergi meninggalkan istri dan anak ku", jawab Alejandro.
*
Sore harinya..
Alejandro sudah di perbolehkan pindah ke ruang rawat inap.
Di ruangan mewah itu susananya sangat berbeda dengan ruangan Alejandro sebelumnya.
Sekarang Scarlett bisa ikut tidur di sebelah Alejandro karena tempat tidurnya berukuran king size .
"Kau harus menahan diri mu Ale, luka mu belum kering", ucap javier. Ia sangat tahu sahabatnya itu dari tadi selalu ingin berdekatan dengan istrinya. Bahkan mereka selalu berciuman dengan mesra.
"No problem Javi, aku sudah sehat sekarang", jawab Alejandro.
"Tentu saja aku melakukannya, kau hampir mati Alejandro. Peluru itu mengenai bilik jantung mu. Operasi yang dilakukan pada mu beresiko tinggi", jawab Javier.
"Aku tidak akan mati secepat itu", ucap Alejandro tertawa tengil.
"Kau ini selalu menyebalkan setelah membuat semua orang panik kau malah seperti tidak terjadi apa-apa", balas Javier kesal.
Sementara Scarlett dan Moza menata makanan makan malam mereka di atas meja sofa.
*
Seminggu kemudian..
Hari yang di nantikan itu datang juga, Alejandro sudah diizinkan pulang ke rumah. Walaupun ia belum pulih seratus persen, masih butuh perawatan intens.
Masih diharuskan beristirahat belum diperbolehkan bekerja.
Perban tebal masih membalut dadanya.
Sementara tangan kanan nya belum bisa digerakkan dengan sempurna karena masih ditopang dengan gendongan. Tangan itu masih terasa sakit saat di luruskan sehingga posisinya harus ditekuk untuk mengurangi rasa sakit nya.
Samuel mendorong kursi roda Alejandro masuk kedalam hacienda. Diikuti Scarlett, Moza dan Javier.
Sementara para pekerja menyambut nya diluar hacienda, tampak raut wajah bahagia dari semuanya melihat tuan mereka sudah pulih. Minggu lalu para pekerja itu diliputi rasa cemas begitu mengetahui Alejandro kritis. Tak henti mereka memanjatkan doa bersama untuk kesehatan tuannya itu. Alejandro memang sangat dekat dengan orang-orang yang bekerja dengan nya .
__ADS_1
Sementara Paul dan Ana serta para pelayan menyambut nya di dalam hacienda.
"Selamat datang kembali tuan muda Alejandro", ucap Paul dengan hormat. Diikuti oleh yang lainnya juga.
"Terima kasih paman, aku bahagia bisa berada di hacienda lagi", jawab Alejandro tersenyum pada semua orang-orang yang ada.
"Alejandro kau harus istirahat, sebaiknya kau langsung kekamar mu saja", ucap Javier.
"Iya Javi, Sam.. bantu aku kekamar", ucap Alejandro.
Perlahan Alejandro dibantu Samuel, berdiri dan menaiki tangga.
*
Malam semakin larut, Scarlett merebahkan tubuhnya dalam pelukan Alejandro.
"Alejandro, maaf kan aku karena melindungi ku akhirnya kau yang tertembak", ucap Scarlett pelan sambil mengusap lembut lengan Alejandro yang melingkar di lehernya.
"Aku pasti akan mencari mu ke ujung dunia sekalipun", jawab Alejandro.
"Kau jangan menyalakan Moza, aku yang memaksanya untuk menemani ku ke kota. Aku ingin memberikan kejutan kepada mu tentang kehamilan ku, Ale", ucap Scarlett sambil mendudukkan tubuhnya dihadapkan Alejandro.
Alejandro menatap Scarlett dan mengusap wajah cantiknya.
"Apa kau sangat menguatirkan aku, hem ?", tanya Alejandro.
Scarlett menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"A-ku mencintaimu sepenuh hatiku, Ale", ucapnya pelan sambil menundukkan kepalanya.
Semenjak menikah Scarlett tidak pernah menunjukkan perasaannya secara terbuka. Seakan ada rasa tabuh untuk mengungkapkan perasaannya.
Alejandro tersenyum mendengar ungkapan perasaan cinta Scarlett yang selalu didengar beberapa hari ini.
Alejandro membawa Scarlett kedalam pelukannya dan mencium keningnya dengan lembut.
"Scarlett, kapan kau membeli boneka kayu itu?", tanya Alejandro menunjuk pahatan yang ada di nakas yang dilihatnya Minggu lalu.
"Saat kita mengunjungi pusat suvenir di London. Aku membelinya dua, untuk mu satu dan untuk ku satu", jawab Scarlett.
"Oh ya, tapi aku hanya melihat satu, mana satunya lagi ?
Scarlett duduk dan beranjak mengambil kedua boneka pahatan itu.
"Ini punya mu, yang bertuliskan Scarlett Alejandro. Sementara milik ku bertuliskan Alejandro Scarlett. Kalau gelap setiap sisinya akan memancarkan cahaya", jawab Scarlett sambil memadamkan semua penerangan didalam kamar. Agar pahatan itu memancarkan sinarnya. Dan benar saja pahatan patung itu memancarkan sinar.
Alejandro menarik Scarlett dan mencium lembut bibirnya.
"Aku mencintaimu, sayang. Aku sangat merindukan mu", bisik Alejandro di telinga Scarlett. Ia membuai setiap jengkal leher Scarlett.
"Em.. A-le jangan sekarang, kau masih sakit luka mu belum kering. Tunggulah beberapa hari lagi".
Oh shitt..
__ADS_1
...***...
JIKA INGIN DILANJUTKAN NOVEL INI, SELALU TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA. LIKE, VOTE DAN BERIKAN HADIAH UNTUK AMS 🙏🤗