
"Olivia..
"Kau..
"Kenapa kau ada di apartemen ku tuan ?"
"Aku kebetulan lewat sini dan perut ku lapar. Aku tidak punya teman di kota ini, aku ingat kepada mu Olivia. Jadi aku meminta kau menemani ku makan sekarang", jawab Mark hendak menerobos masuk ke dalam apartemen Olivia.
"No no no...anda tidak boleh masuk", Olivia mencegah tubuh Mark masuk kedalam dengan kedua tangannya.
"Jadi kau mau kita makan di depan pintu ini ? baik lah ayo kita makan di sini", ucap Mark sambil menatap intens Olivia.
Olivia tak bergeming sedikitpun. Ia masih mencerna semuanya. Bagaimana bisa Mark Rufaro ada di apartemen nya saat ini. Dari mana ia tahu alamat apartemen nya.
"Apa kau tidak malu dengan pakaian tidur seperti itu di lihat penghuni apartemen yang lain ?", ucap Mark membuat Olivia lengah karena baru sadar ia memakai baju tidur tipis dengan celana sangat pendek.
Mark menerobos masuk ke dalam apartemen Olivia dan duduk di sofa ruang tamu.
"Apa yang tuan lakukan, aku tidak menerima tamu laki-laki dalam rumah ku", ketus Olivia.
"HM...bagus lah itu artinya aku yang pertama dan berhentilah memanggil ku tuan, aku lebih suka kau memanggil nama ku", balas Mark sambil menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu apartemen Olivia.
"Sampai kapan kau berdiri seperti itu Olivia. Duduklah, ayo temani aku makan malam", ucap Mark dengan nada memerintah Olivia yang masih diam tak bergeming di depan pintu.
"Ini apartemen ku, kau tidak punya hak memerintah ku. Sebaiknya kau pergi dan mintaklah kekasih mu menemani mu makan...!", ketus Olivia sambil membuka pintu lebar-lebar menyuruh Mark pergi.
Seakan menulikan pendengaran nya Mark membuka makanannya dan dengan cueknya menyuapkan makanan kemulutnya.
"Hmm...ini sangat lezat", gumamnya tanpa mengalihkan perhatian nya pada makanan. Dengan lahap ia menghabiskan makanan itu.
Olivia kesal dan akhirnya berdiri di hadapan Mark Rufaro sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Kau tidak makan ?"
__ADS_1
"Makanannya enak sekali", ucap Mark sambil mengelap ujung bibirnya. Ia baru saja menghabiskan makanannya.
"Makanan mu sudah habis, sebaiknya kau pergi sekarang. Ini sudah malam aku mau beristirahat", seru Olivia menatap tajam laki-laki yang masih duduk santai bersandar di sofa milik nya.
Mark menyilangkan kakinya, menatap intens Olivia yang berdiri sambil bersedekap dihadapannya. Ia suka melihatnya seperti itu. Dengan rambut panjangnya dibiarkan terurai. Bahkan Olivia membiarkan tubuhnya terekspos seperti itu dihadapan nya.
"Caroline bukan kekasih ku. Aku tidak memiliki kekasih saat ini", ucap Mark masih dengan tatapan intens nya pada Olivia.
"Aku tidak perduli, itu urusan mu", ketus Olivia
"Benarkah kau tidak perduli, hem ?" balas Mark sambil berdiri mendekati Olivia.
Melihat Mark bangkit dari tempat duduknya dan mendekati nya, spontan membuatnya mundur.
Harum maskulin laki-laki itu menyeruak di indera penciuman nya.
"Oh shitt..
"Stop...jangan mendekat atau kau akan menyesal...!"
Mark tidak perduli ia menarik kuat pinggang Olivia merapat pada tubuhnya. Membuat Olivia spontan mendorong kuat dada Mark, tetapi sialnya tindakannya itu berakibat fatal Mark terlentang diatas sofa dan tubuh Olivia tertarik hingga menindih tubuh laki-laki itu.
Ke-dua nya bertukar tatapan dengan lekat. Dengan cepat Olivia mengalihkan pandangannya. Tubuhnya bergetar hebat dan nafas nya menderu.
Olivia sekuat tenaga ingin melepaskan dirinya, tetapi dekapan Mark begitu kuat.
Mark menatap kedua netra coklat terang Olivia, ia tidak bisa menahan dirinya lagi. Tangannya menarik teguk Olivia dan mencium kasar bibir ranum yang saat ini berada diatas tubuh nya.
"A-pa yang kau lakukan...
Seakan tidak mendengarkan protes Olivia, Mark semakin intens mengecup bibir itu dengan ciuman menuntut. Kali ini ia mencium dengan sangat lembut bibir itu. Membuat tubuh Olivia bergetar hebat menahan sekuat tenaga gelanyar pada tubuhnya yang ditimbulkan dari ciuman lembut itu. Sekuat tenaga menahan diri agar tidak membuka mulutnya tetapi ciuman Mark terasa begitu nikmat. Dan akhirnya Olivia membiarkan Mark memperdalam ciumannya ia membuka mulutnya. Mengetahui hal itu Mark membalik tubuh Olivia dibawah kungkungan tubuh atletis nya. Ia memperdalam ciumannya hingga membelit lidah Olivia.
Olivia menerimanya, tangannya meremas kuat switer yang dipakai Mark. Bahkan membalas ciuman itu.
__ADS_1
Mark memutuskan ciumannya, netra abu-abu miliknya menatap lembut kedua hazel milik Olivia yang sudah berkabut. Mark mendudukkan tubuhnya, begitu juga Olivia dengan kaki di luruskan di sepanjang sofa. Sementara tangannya merapikan rambutnya yang berantakan. Olivia menutupi rasa gugupnya.
Mark tahu itu, ia mengusap lembut wajah Olivia yang tampak salah tingkah. Mark mengusap bibirnya. "Aku menyukai mu Oliv", bisiknya didepan bibir Olivia kembali mengecup bibir itu sesaat.
Olivia tak bergeming, bahkan ia seperti orang linglung saat ini. Pikiran nya mencerna semua yang baru saja ia alami. Yang dilakukan Mark Rufaro pada nya, dan ia menerima semuanya.
"Aku pulang, lanjutkan lah istirahat mu", ucap Mark beranjak dari tempat duduknya.
"Ehm...Mark, terima kasih karena kemarin sudah menyelamatkan aku dari rumah kaca itu", ujar Olivia pelan.
"HM... semua itu tidak gratis kau harus membayarnya", jawab Mark sambil mengusap wajah Olivia.
"Apa maksud mu ?"
"Datanglah ke kantor ku besok, sekarang aku pulang", ucap Mark yang tidak di balas Olivia.
Olivia hanya menatap punggung kokoh laki-laki itu berlalu dari hadapannya.
...***...
LIKE KOMEN DAN VOTE YA KAKAK KESAYANGAN AUTHOR. KASIH BUNGA OR KOPI DONG 💃🙏
...KARYA EMILY :...
...1. PENGANTIN PENGGANTI (tamat)...
...2. AIR MATA SCARLETT...
...(on-going)...
...3. SERPIHAN HATI ELLENA...
...(on-going)...
__ADS_1