AIR MATA SCARLETT

AIR MATA SCARLETT
KEPERGIAN MATHIAS


__ADS_3

Tok tok tokk


"Jam berapa ini hah ? ada apa kau mengganggu ku malam-malam begini !"


Alejandro menghardik pelayan yang mengetuk pintu kamar nya dengan keras.


"Ma-maaf tuan Alejandro, tuan Mathias kena serangan j-jantung,.."


"Hubungi dokter ayah ku sekarang !"


Alejandro memasang jubah tidurnya, ia lari ke kamar Mathias yang ada dilantai bawah.


Nampak Scarlett, sudah ada di samping Mathias. Wajah putih susu Scarlett semakin terlihat pucat. Wajah cantiknya terlihat panik. Ketakutan.


"Ayah, bangun...", Alejandro menggenggam tangan Mathias yang begitu dingin. Sedangkan wajah nya sudah pucat seperti tidak ada darah yang mengalir di wajah itu.


"A-Ale, anak ku waktu ayah tidak banyak nak"


Dikamar itu hanya ada mereka bertiga. Sementara itu pelayan menunggu di luar kamar, tidak ada yang berani masuk.


"Sebaiknya ayah jangan banyak bicara, tunggulah dokter Abraham datang", Alejandro membujuk ayah jangan banyak bicara dulu karena akan menguras tenaganya.


"Ti-dak Alejandro, ka-u harus mendengarkan ayah . Kembalikan menetap di perkebunan ini. Jangan pernah pergi lagi. Rawat lah dan jagalah perkebunan ini bersama Scarlett, anak ku", suara Mathias terdengar terbata-bata.


Mata Mathias tiba-tiba langsung terpejam.


Sementara Scarlett hanya bisa menutup mulutnya dengan ke dua tangannya. Ia menangis' tertahan di tenggorokan nya.


"TU-tuan Mathias..." isakan terdengar dari mulutnya.


tok tok tokk


Nampak dokter Abraham, tergesa-gesa memeriksa dada serta nadi Mathias.


Dokter Abraham memeriksa kedua bola mata Mathias, kemudian ia membuka baju Mathias melakukan CPR kompresi dada dan pemberian napas buatan untuk seseorang yang detak jantung atau pernapasannya berhenti.


Sementara wajah Mathias semakin pucat , tangan dan kakinya semakin dingin.


Alejandro memijat keningnya, wajahnya tampak sedih. Ia sebenarnya termasuk laki-laki lemah, yang tidak bisa menunggu seseorang dalam keadaan kritis. Karena hal itu mengingat kan nya pada kematian Lolita ibu nya sepuluh tahun yang lalu.

__ADS_1


Tampak dokter Abraham menggelengkan kepalanya. Dan mendekati Alejandro "tuan Mathias sudah tidak ada, tuan Mathias sudah meninggal", ucap Abraham prihatin.


Tubuh atletis Alejandro serasa ingin ambruk, mendengar ucapan Abraham.


Alejandro menggelengkan kepalanya rasa tidak percaya.


Sementara Scarlett, terisak dengan berlinang air mata yang membasahi pipinya.


"BA-BANGUN tuan Mathias," lirihnya


"Anda belum melihat aku membuat perkebunan ini semakin maju tuan. Aku sudah berjanji kepada mu bukan, bahwa aku bisa melakukan nya," isak Scarlett dengan linangan air mata.


"A-Ayah...lirih Alejandro, ia tidak bisa menutupi perasaan sedihnya. Ia tidak menyangka ayahnya pergi secepat ini.


.


Siang hari Alejandro dan Scarlett serta seluruh orang-orang perkebunan dan rekan-rekan ayah Alejandro menghantarkan Mathias ke peristirahatan terakhir nya.


Langit yang biasanya disinari cahaya matahari, tiba-tiba mendung tertutup awan.


Wajah-wajah tampak berduka dari semua yang hadir. Alejandro dengan stelan jas hitam dan kacamata hitam nya tidak dapat menutupi rasa sedih di wajahnya.


Baginya Mathias bukan saja suaminya tetapi juga ayah buatnya.


Scarlett hanya bisa menelaah perkataan terakhir Mathias yang menyampaikan kepada Alejandro untuk bersama-sama dengan Scarlett supaya merawat dan menjaga perkebunan ini.


Satu persatu orang-orang pergi meninggalkan Scarlett yang masih terduduk di depan makam Mathias. Isak tangisnya masih terdengar.


"Nona Scarlett, sebaiknya kita kembali ke hacienda. Hari sudah sore nona."


"Tinggalkan aku sendiri Levia, aku masih ingin menemani tuan Mathias", lirih Scarlett.


Sementara Alejandro, sudah didalam mobil mewahnya. Alejandro menatap tajam Scarlett yang masih terduduk didepan makam ayahnya.


Perempuan itu tampak begitu terpukul dengan kepergian Mathias.


Alejandro melihat tangisan begitu pilu dari Scarlett. Entah lah tangisan itu apakah benar-benar tulus dari hatinya atau hanya kepura-puraan saja.


Huh...

__ADS_1


Alejandro menarik nafas dalam-dalam, ia menyandarkan kepalanya di jok mobil, sembari memejamkan matanya sesaat.


Begitu banyak pikiran yang berkelebat di kepalanya.


Terutama dengan ucapan ayahnya yang meminta Alejandro untuk tinggal diperkebunan dan bersama-sama dengan Scarlett menjaga perkebunan peninggalan nya itu.


Alejandro sudah lama meninggal kan perkebunan. Ia sudah tidak perduli lagi. Iya walaupun dihati kecilnya masih ada perasaan yang tertinggal rasa kecintaan nya terhadap tempat ini. Tapi sekarang ia tidak terpikir untuk menetap di perkebunan itu .


Alejandro telah memiliki kehidupan sendiri di London, ia punya bisnis yang begitu besar dan sukses.


Sementara perkebunan anggur ini memang sangat besar juga, bahkan pabrik yang dimiliki Mathias sangat maju pesat. Hasil produksi juga berkembang pesat dengan mutu dan kualitas yang bagus.


Tapi Alejandro tidak tertarik. Ia sudah memeriksa semua pembukuan pabrik anggur itu, dan memang hasilnya sangat lah baik. Pengolahan manajemen dan hasil produksi yang sangat baik pula.


Bisa di lihat, berdirinya pabrik anggur itu dan juga perkebunan membuat kehidupan para pekerja lebih makmur dan sejahtera.


"Kita sudah sampai tuan Alejandro..."


Sopir menyadarkan Alejandro, yang tidak menyadari bahwa mobil yang ia tumpangi sudah berhenti di carport.


Huh..


Alejandro menarik nafas, dan membuka mata'nya yang terpejam.


Ia melangkah masuk ke dalam rumah yang begitu megah itu. Alejandro menuju ruang kerja Mathias. Ia ingin memeriksa semuanya tentang perkebunan.


Sebelum ia masuk kedalam ruangan, Alejandro berpesan kepada pelayan yang di lihat nya "Jangan ada yang menggangu ku selama aku di ruang kerja ", ketus Alejandro.


Dan pelayan itu mengangguk kan kepalanya "Ba-baik tuan", jawabnya ketakutan.


...


JANGAN LUPA LIKE'KOMEN DAN VOTE


🙏


IKUTI JUGA "PENGANTIN PENGGANTI"


JANGAN LUPA LIKE'KOMEN DAN VOTE

__ADS_1


JUGA 🙏🤗


__ADS_2