
KEESOKAN HARINYA..
Seperti hari yang lainnya suasana pagi di perkebunan. Setelah bangun tidur Scarlett berjalan pagi ke taman yang terletak disebelah hacienda.
Sementara Alejandro pagi-pagi menunggangi kuda Zabo kesayangannya. Ia dan Dante serta Demian menyusuri perkebunan miliknya yang sangat luas. Alejandro melihat ke wilayah perbatasan dengan perkebunan Merciel yang kemarin pagar pembatas antara perkebunan Chalons dan Merciel di robohkan pekerja perkebunan sebelah.
Saat ini terlihat orang-orang Mark sedang menggali tanah dan mendirikan kembali pagar yang roboh akibat ulah orang mereka sendiri.
"Ayo kita kembali ke hacienda", ucap Alejandro sambil menghentakkan tali kekang kuda nya. Mengitari perkebunan langsung balik ke hacienda.
Scarlett menyiapkan pakaian kerja suaminya. Sementara Scarlett sendiri sudah siap pergi kekantor nya. Alejandro tidak pernah melarang ia pergi kekantor asalkan Scarlett hanya melakukan pekerjaannya didalam ruangannya saja tidak pergi kerumah kaca apalagi ke lahan terbuka yang langsung terkena sengatan terik matahari.
Semenjak Olivia bekerja bersama ia membuatnya lebih tenang. Scarlett sangat tahu akan kemampuan sahabat nya itu.
Alejandro membuka handle pintu kamar mandi, ia hanya menggunakan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara handuk kecil masih di usap-usapkan ke atas kepalanya.
"Alejandro kita makan pagi di kamar saja ya", ujar Scarlett
"Hmm, sayang minta pelayan membuatkan ku kopi pahit saja pagi ini. Mata ku butuh terbuka seharian. Pekerjaan ku sangat banyak hari ini", seru Alejandro yang di jawab anggukkan kepala Scarlett.
"Tapi kau tidak boleh meminum kopi tiap hari Ale", balas Scarlett sambil menekan tombol Intercom yang terhubung langsung ke pantry. Ia meminta pelayan mengantarkan sarapan mereka pagi ini ke dalam kamar.
Setelah selesai makan pagi, Alejandro dan Scarlett pergi bersama dengan mobil Alejandro ke kantor Scarlett. Kemudian setelah Scarlett turun Alejandro melajukan mobilnya menuju kantor nya di bagian belakang perkebunan yang letaknya satu area dengan pabrik Wine.
Sebenarnya perkantoran keduanya berada didalam wilayah perkebunan Chalons itu sendiri, tetapi karena lahan perkebunan begitu luas sehingga untuk sampai ke satu tempat masih membutuhkan moda kendaraan atau pun kuda yang biasanya mereka gunakan. Untuk berjalan kaki tentu saja memakan waktu, terasa sangat jauh dan melelahkan.
"Selamat pagi Olivia, apa kau sudah lama datang ?"
"Tidak juga, aku tiba sesaat sebelum kau datang Scarlett", ucap Olivia.
"Scarlett pagi ini aku dan team akan memulai penanaman bibit yang sudah bertunas di lahan kemarin yang di rusak orang-orang tidak berguna itu, Hughh"
"Akibatnya petani kita berkerja dua kali, mencabut dan menanam kembali bibit yang sudah di rusak mereka".
"Menaman dengan bibit yang baru lagi hari ini. Pemilik perkebunan itu benar-benar orang brengsek dan menyebalkan yang pernah aku temui di dunia ini", lanjutnya lagi.
"Ia bahkan mencengkram kuat pergelangan tangan ku", ucap Olivia kesal dan memperlihatkan tanda merah bekas cengkraman tangan Mark Rufaro pada Scarlett.
__ADS_1
"Olivia, kenapa tidak kau periksa ke dokter saja. Nanti tangan mu membekas", jawab Scarlett terkejut melihat kondisi tangan temannya itu.
Tok...tok tok
"Masuk..
"Nona, di luar ada kiriman bibit-bibit anggur dari perkebunan Merciel", ucap Albert memberi tahu Scarlett.
Scarlett dan Olivia bertukar tatapan, tampak bingung dengan informasi yang di sampaikan Albert barusan.
Scarlett dan Olivia melangkah bersama melihat keluar kantor mereka. Tampak mobil pickup yang berisikan dengan polibag bibit-bibit anggur yang sudah bertunas. Sementara seorang laki-laki muda parlente turun dari mobilnya.
Olivia ingat pria itu yang berbisik dengan pemilik perkebunan itu kemarin, batinnya
Olivia memeriksa satu persatu polibag dengan teliti, bahkan menggunakan kaca pembesar meneliti lembaran tunas yang akan menjadi daun.
Ia berdiri dan menatap semua polibag.
"Apa maksudnya semua ini ?", ucap Scarlett pada orang yang membawa semua bibit itu.
"Perkenalkan saya Peter asisten tuan Mark Rufaro. Semua ini kiriman dari tuan Mark nona, tuan kami menyampaikan permohonan maafnya atas perbuatan pekerja yang sudah merusak semua proyek anda", ucap Peter dengan hormat.
"Ruby Roman", ucap Olivia sambil menatap Scarlett.
"Ruby Roman adalah anggur
yang sangat langka. Kualitas dari anggur tersebut sudah terjamin dan teruji mutu kualitasnya", balas Scarlett.
Tapi perkebunan Chalons tidak menanam jenis Ruby Roman, karena masa budi daya yang tergolong sangat lama mencapai empat belas tahun.
Olivia menatap Scarlett, semua keputusan ada ditangan Scarlett sang pemilik perkebunan. Tentu saja Olivia tidak bisa memutuskan semuanya. Semua hak ada di tangan Scarlett.
Scarlett tampak berpikir, ia kira tidak ada salahnya menerima bibit itu.
Anggur Ruby Roman bukanlah jenis anggur sembarangan. Sebelum memasarkannya harus di uji terlebih dahulu yang terpilih akan diberikan segel sertifikasi. Tidak bisa beredar secara sembarangan, terdapat aturan yang ketat untuk menjual anggur tersebut.
"Baiklah aku terima, bibit-bibit ini" jawab Scarlett.
__ADS_1
"Baik nona", tentu tuan Mark akan sangat senang mendengarnya" ucap Peter sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
Olivia memberikan pertunjukan agar bibit-bibit anggur tersebut di letakkan di depan rumah kaca. Karena orang-orang nya akan melakukan pengujian terhadap pH tanah dan air yang terkandung didalam pohon anggur Ruby Roman yang di kirim oleh pemilik perkebunan Merciel.
Setelah selesai semua urusannya, Peter pun pamit meninggalkan perkebunan Chalons.
Olivia meminta Asisten kedua Chalons Joe untuk memeriksakan semua pH bibit yang baru di kirim itu. Sementara Olivia dan Albert menuju ke perbatasan melihat petani mereka menanam kembali bibit yang ditanam kemarin. Dengan menunggangi kuda keduanya berpacu dengan waktu.
Terlihat dari kejauhan para petani bekerja dengan giatnya mencangkul dan menanam.
Olivia yang menggunakan kemeja ketat berwarna putih itu terlihat sangat cantik, dipadukan bersama jeans dan sepatu boot serta topi fedora coklat.
Ia melompat turun dari punggung kuda yang di tungganginya. Berjalan dengan tegap kearah pekerja. Beberapa kali ia berjongkok dan meraup tanah menggunakan tangannya serta menelitinya menggunakan kaca pembesar.
Gadis itu terlihat memberikan beberapa instruksi, dan semua ucapannya diikuti oleh para petani.
Olivia tidak menyadari semua gerak gerik nya diperhatikan seseorang dari kejauhan. Laki-laki itu menatapnya tak henti dibalik kacamata hitam mahal yang bertengger di wajah tampannya. Ia adalah Mark Rufaro, pria yang menabuh genderang permusuhan dengan Olivia mulai kemarin.
Rahang yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus itu semakin membuat ketampanannya memancar keluar.
Tubuh atletis yang dibalut kemeja biru itu berada diatas kuda hitam sedang memperhatikan para pekerja nya yang sedang membetulkan pagar yang roboh akibat ulah pekerja nya yang sudah dipecat.
Sesaat ia tertegun melihat siapa yang mendekati perbatasan itu. gadis yang kemarin menyiram kan minuman ketubuhnya.
"Dia lagi...siapa gadis itu sebenarnya, ia benar-benar gadis yang kasar. Aku tidak pernah dihadapkan dengan seorang wanita seperti itu. Kasar dan tidak ada segi feminim nya sama sekali sebagai seorang wanita", gumam Mark Rufaro memandang dengan sinis Olivia yang tidak menyadari sedang ditatap intens seperti itu.
...***...
LIKE KOMEN DAN VOTE 🙏🤗
...KARYA EMILY :...
...1. PENGANTIN PENGGANTI (tamat)...
...2. AIR MATA SCARLETT...
...(on-going)...
__ADS_1
...3. SERPIHAN HATI ELLENA...
...(on-going)...