
"Kamu yakin kalau dokumen milik ibuku di simpan di rumahnya?" tanya Jenna pada Devon.
Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil. Mengawasi sebuah rumah mewah milik bosnya.
"Aku tidak tahu, ini semua hanya tebakanku saja. Kita sudah mencari dikantornya tapi tidak menemukan, barangkali dia menyimpannya di rumah. Kalau kita tidak membuktikannya mana kita tahu," jawab Devon jujur.
Benar juga kata Devon. Beberapa hari lalu pria itu membantu Jenna untuk mencari dokumen milik ibu Jenna yang mana akan mengungkap jati diri Jenna sebenarnya. Supaya ia bisa lepas dari pria tua yang menjerumuskannya pada pekerjaan hina. Namun, setelah mengobrak-abrik ruangan di kantor presdir, dokumen yang di maksud tak ditemukan.
Sebab itulah, Devon mengajak Jenna datang ke rumah pria tua itu. Siapa tahu pria itu menyimpan dokumennya di rumah.
Jenna mengangguk setuju pada akhirnya.
"Pakai, ini." Devon mengulurkan sebuah rambut palsu untuk Jenna pakai.
Gadis itu justru menatap aneh.
"Semua agar tidak ada yang mengenalimu," jelas Devon tanpa di minta.
Selesai menunggu Jenna menyamar, Devon segera mengajak Jenna masuk.
"Tunggu, sebelum kita masuk aku ingin tahu dulu apa yang membuatmu akhirnya mau membantuku?" tanya Jenna menahan tangan Devon yang memegang handle pintu.
"Apa itu penting? Apa aku harus membuang waktu untuk menjelaskannya sekarang dan melewatkan waktu mencari dokumen milik ibumu?"
Jenna menggeleng perlahan.
__ADS_1
Benar kata Devon. Tidak seharusnya ia membuang waktu hanya untuk tahu alasan Devon kini berada di pihaknya. Bukankah masih banyak waktu nanti. Itu pun kalau mereka selamat dan berhasil keluar dari rumah mewah presdir.
Melihat raut wajah Jenna yang setuju dengan ucapannya, Devon segera membetulkan rambut palsu Jenna agar terlihat lebih natural.
"Ayo," ajaknya untuk segera masuk ke rumah mewah di depannya.
Seolah akan berperang, Devon dan Jenna benar-benar berhati-hati dalam mengatur strategi. Mereka harus berhasil kalau ingin selamat.
Devon yang sudah beberapa kali datang ke rumah karena cukup lama bekerja dengan presdir tahu benar seluk beluk rumah bosnya ini. Sebelumnya ia juga sudah memberitahu Jenna ke mana nanti harus mengambil langkah.
"Selamat malam, Pak. Saya ditugaskan oleh Bapak untuk mengambil dokumen di ruang kerjanya," lapor Devon pada petugas keamanan rumah.
Dengan mudah Devon diijinkan masuk. Devon memang tidak berbohong, tadi bosnya memang menyuruhnya mengambil sebuah dokumen di rumahnya. Dan kesempatan itu juga yang Devon ambil untuk mengajak Jenna.
Jenna langsung terlihat panik. Takut jika ketahuan. Berbeda dengan Jenna, Devon justru lebih tenang. Semua ia lakukan agar tidak menarik perhatian petugas keamanan.
"Yang bersama Mas Devon siapa?" tanya petugas keamanan."
Devon menoleh pada Jenna. "Oh ... ini, ini karyawan baru Bapak, masih training. Makanya saya ajak kemari sekalian memberi pelatihan. Soalnya sebentar lagi akan menjadi asisten baru Bapak," bohongnya.
Petugas keamanan itu percaya saja dengan penjelasan Devon. Lalu membiarkan dua orang itu masuk dengan mudah.
Seperti biasanya ketika bertemu dengan asisten rumah tangga di rumah itu, Devon dibiarkan bebas. Para asisten rumah tangga sudah hafal siapa Devon. Yang sering datang ke rumah ini atas perintah majikan mereka. Bahkan kali ini biarpun Devon membawa orang asing, pelayan di rumah itu tak ambil peduli. Takut jika dianggap menghalangi langkah Devon.
Tentu hal ini merupakan keuntungan tersendiri bagi Devon dan Jenna. Mereka akan lebih leluasa untuk bisa menyelesaikan pekerjaan dengan mudah.
__ADS_1
"Kamu masuk ke atas. Kamar utama yang merupakan kamar presdir ada di bagian paling ujung. Pintunya berwarna cokelat.
Jenna paham akan arahan Devon. Dengan lincah, gadis itu menaiki tangga. Menuju kamar yang Devon maksud. Sementara Devon masuk ke ruang kerja bosnya.
Selang beberapa menit, Jenna dan Devon pamit pergi. Mereka sengaja bergerak cepat agar tidak mencurigakan.
Napas mereka bahkan ngos-ngosan saking cepatnya mereka bekerja.
"Sudah dapat?" tanya Devon begitu sampai di mobil.
Jenna segera mengeluarkan dokumen yang ia ambil dari kamar milik bosnya Devon. Begitu ketemu tadi, Jenna langsung menyembunyikannya di dalam tas yang ia bawa.
Melihat dokumen yang dicari sudah ada di tangan, Devon segera membawa mobilnya menjauh dari rumah presdir. Mencari tempat yang aman untuk Jenna membuka dokumen tersebut.
Di sebuah jalan yang sepi, Devon berhenti dan membiarkan Jenna membuka kebenaran akan jati dirinya.
"Bukalah," ujar Devon.
Jenna menatap dokumen yang sejak tadi ia peluk. Perasaanya campur aduk. Ada rasa bahagia, takut juga haru karena sebentar lagi ia akan tahu kebenaran dirinya.
Perlahan Jenna membuka amplop cokelat yang di dalamnya terdapat surat-surat yang ditulis ibunya. Gadis itu mengeluarkan satu persatu lembaran kertas dan membacanya. Air mata luruh begitu saja mengetahui bagaimana dulu ia bisa sampai ke London.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Jenna tak berbicara sama sekali. Hanya air mata yang Devon lihat. Air mata yang tidak bisa Devon artikan.
__ADS_1