
"Lihat apa?" tanya Arsya yang baru keluar dari kamar mandi. Di tangan kirinya ia memegang handuk kecil untuk mengeringkan kepalanya yang basah.
Alisha menunjukkan sebuah kartu nama yang sejak tadi ia pegang. Jujur, kartu itu sempat terlupakan karena kejadian honeymoon dadakan kemarin. Baru setelah pulang, ketika Alisha membuka kembali dompet yang ia bawa ke pasar dulu, kartu tersebut muncul dan mengingatkan dia akan siapa pemiliknya.
Arsya meletakkan handuk di tangannya ke atas meja dan mengambil kartu dari tangan Alisha. Kemudian membaca nama yang tertera pada kartu. "Riski Berkah, CEO cuci motor dan mobil?" Arsya mengernyit. Menatap bingung pada Alisha. Ia juga menunjukkan lagi kartu yang sebelumnya ia baca seakan bertanya tentang siapa pemilik kartu tersebut.
"Itu teman SMA-ku, Mas. Tiga hari yang lalu dia menyelamatkan dompetku yang sempat kecopetan waktu aku pergi ke pasar bersama Bi Sumi. Dia meminta nomorku, tapi aku tidak memberinya karena belum dapat ijin dari Mas Arsya. Sebab itu dia memberiku kartu nama, dia bilang kalau aku sudah dapat ijin dia memintaku untuk menghubunginya." Alisha menjawab jujur.
"Hanya teman?" Terdengar nada menyelidik pada ucapan Arsya.
"Maksudnya?"
"Bukan mantan, 'kan?"
Alisha tersenyum mendengar nada cemburu dalam ucapan suaminya. "Aku tidak punya mantan, Mas Arsya adalah pria pertama." Alisha mengakui meski malu.
Arsya memang pria pertama dalam hidup Alisha. Bukan karena Alisha tidak laku, tapi Alisha memilih untuk tidak bermain-main dengan seorang pria. Salah satu contoh pria yang mendekati Alisha adalah Riski. Teman semasa SMA dulu.
Riski secara terang-terangan mengaku jatuh hati pada Alisha dan ingin menjadikan Alisha kekasihnya. Namun, hal itu ditolak halus oleh Alisha. Semua Alisha lakukan karena ia menjaga dan menjunjung tinggi didikan Pakdhe Imran padanya. Alisha tidak ingin mengecewakan orang tua yang sudah membesarkan dan juga mendidiknya itu.
Pengakuan Alisha tentang dirinya adalah pria pertama dalam hidup sang istri, membuat Arsya sedikit bangga. Ia pun langsung memeluk Alisha. Mengecup kepala wanita itu beberapa kali. "Maaf jika aku sempat cemburu."
Dalam dekapan Arsya, Alisha mengangguk pelan. Dirasakannya pelukan hangat Arsya yang membuatnya nyaman.
"Jadi, aku berikan nomorku atau tidak?" tanya Alisha setelah cukup lama Arsya tak melepaskan dirinya.
"Berikan nomorku saja."
Kontan Alisha mendorong pelan tubuh Arsya. Ia menatap suaminya tak percaya. Jarak yang tercipta meski tak seberapa membuat Arsya jelas melihat sorot mata Alisha yang kaget.
"Mas, bercanda?"
__ADS_1
Arsya menggeleng. "Tidak, aku serius. Hubungi dia pakai handphone-ku. Kalau ada urusan penting nanti aku sampaikan padamu."
Alisha masih tidak percaya dengan yang ia dengar.
"Aku tidak rela jika ada pria lain yang bicara pada istriku."
Alasan Arsya semakin membuat Alisha kaget.
"Iya ... aku tidak rela ada pria lain yang bicara padamu."
"Mas Arsya meragukan aku?"
Arsya menggeleng pelan. "Bukan kamu yang aku ragukan, tapi pria lain di luar sana. Aku sangat mencintaimu sampai aku tidak rela jika ada pria lain yang bicara padamu."
Arsya sedikit menunduk, menatap lekat wajah bersemu merah Alisha.
Sebagai seorang istri, hati wanita mana yang tidak meleleh mendengar ucapan posesif sang suami. Begitupun Alisha. Pipinya terlihat jelas merona ketika ungkapan Arsya terdengar di telinga.
Hatinya berdebar kencang bak pertama kali mendengar ungkapan cinta. Semakin dibuat tak karuan oleh Arsya kala bibir pria itu mendadak mengecup bibirnya.
Sayangnya, panggilan di ponsel milik Arsya tak cukup berdering sekali. Melainkan berkali-kali. Menuntut untuk segera dijawab. Dengan berat hati Arsya harus melepaskan manisnya rasa bibir Alisha.
Segera ia mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja. Melihat nama Jimmy di layar pipih itu, Arsya menjadi kesal. Tak urung, ia angkat juga panggilan dari manajernya.
Di seberang sana Jimmy langsung bicara tanpa jeda begitu panggilan diangkat. Pria itu mengomel mengingatkan Arsya tentang jadwal pemotretan yang kemarin sempat tertunda. Jimmy juga memberi tahu tentang rumah yang Arsya inginkan kemarin dan akan mengirimkan contoh gambarnya segera.
Arsya bahkan belum bicara sepatah kata tapi Jimmy sudah menutup panggilan.
"Siapa, Mas?" tanya Alisha yang melihat Arsya geleng-geleng kepala.
"Jimmy."
__ADS_1
Usai panggilan diakhiri, beberapa notifikasi pesan di ponsel Arsya terdengar. Seperti yang tadi Jimmy katakan, rupanya pria itu mengirim contoh gambar rumah untuk Arsya.
"Mas Arsya mau kerja?" tanya Alisha yang sejak tadi masih berada di dekat Arsya.
"Sebenernya malas, tapi aku sudah janji dengan klien."
Alisha mengangguk paham.
"Jimmy sudah dapat contoh rumah dari agen properti, nanti aku share ke handphone kamu. Kamu pilih yang mana saja yang kamu suka. Kapan-kapan kita lihat rumahnya sama-sama. Ok."
"Beneran Mas mau beli rumah?"
"Iya, Sayang. Aku ingin punya rumahku sendiri." Arsya mencubit hidung Alisha. Entah kenapa, pria itu mulai hobi mencubit hidung sang istri. Rupanya bukan hanya bibir saja yang menjadi candu tapi hidung mbangir Alisha pun membuat Arsya ketagihan untuk mencubitnya.
"Ish ... sakit tau, Mas." Alisha melepas tangan Arsya dan mengusap bekas cubitan Arsya. "Buruan ganti baju, katanya mau kerja."
Arsya kembali menatap lekat wajah sang istri. Tidak rela jika harus pergi sekarang.
Kalau tidak ingat ada Jimmy yang sudah menunggunya, Arsya pasti lebih memilih di rumah dan menghabiskan hari di kamar bersama Alisha. Namun, rasa tanggung jawab dan profesionalitas menuntutnya untuk pergi. Arsya pun bergegas menuju walk in closet untuk mengganti pakaian.
Arsya bahkan tidak sarapan karena Jimmy kembali menghubunginya dan memintanya untuk segera datang.
"Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. I love you," pamit Arsya. Tak lupa mencium kedua pipi Alisha, kening, dan juga bibir wanita itu. Tidak cukup hanya sekali tapi diulanginya beberapa kali.
"Udah, Mas. Udah ditungguin Mas Jimmy." Alisha menahan tubuh Arsya ketika pria itu hendak mengulang setiap kecupan di wajahnya. "Sudah, sana berangkat." Alisha mendorong tubuh Arsya untuk masuk ke mobil. Menutup pintu mobil dan segera melambaikan tangan.
"Assalamualaikum," ucap Alisha agar Arsya segera berangkat.
"Waalaikumsalam," jawab Arsya. Ia terus menatap Alisha. Enggan untuk berpisah.
"Hati-hati di jalan." Alisha kembali melambaikan tangan.
__ADS_1
Akhirnya Arsya harus rela berpisah untuk beberapa saat. Ia pun melajukan mobilnya keluar gerbang rumah. Sepanjang jalan, ia senyum-senyum sendiri mengingat tingkahnya pada Alisha.
Alisha bukan wanita pertama dalam hidup Arsya, tapi hanya Alisha yang mampu membuat Arsya bertingkah konyol.