
"Kamu mau tinggal di daerah mana, nanti biar Jimmy carikan rumah untuk kita?" tanya Arsya setelah kembali dari makan malam.
Hari ini memang banyak waktu mereka habiskan untuk berbicara. Selesai salat Taubat dan dilanjut salat Isya, mereka hanya turun sebentar untuk makan malam. Selanjutnya Arsya dan Alisha memilih kembali ke kamar dan duduk di sofa, di mana dulu sering digunakan Arsya untuk tidur. Seolah ingin menebus semua waktu yang hilang tanpa komunikasi di pernikahan mereka sebelumnya. Arsya ingin lebih mengenal Alisha kali ini.
"Memang kenapa dengan rumah ini, Mas. Apartemen Mas Arsya juga masih ada, 'kan?"
"Rumah ini terlalu besar, lagi pula aku berencana menjual rumah ini." Arsya terdiam sejenak, teringat banyak kenangan dari rumah ini yang tak pernah ia inginkan. Terlebih jika ingat bagaimana dulu orang tuanya bisa memiliki rumah megah ini. "Kalau apartemen, aku merasa di sana tidak leluasa. Apalagi kalau nanti kita punya anak," sambungnya.
Alisha tersedak ludahnya sendiri. Kaget. Tentu saja. Ia memang kembali menikah dengan Arsya tapi belum berpikiran jauh ke sana.
"Kenapa? Ada yang salah?"
Alisha menggeleng cepat. "Hanya saja, apa tidak terlalu cepat membicarakan anak sementara kita baru dua hari menikah?"
"Tentu tidak. Cepat atau lambat kita pasti punya anak, 'kan. Bukankah salah satu tujuan menikah adalah memiliki keturunan, dan semoga Allah memberi kita kepercayaan untuk bisa menjadi orang tua."
Tidak ingin mendebat karena apa yang Arsya ucapkan benar, Alisha memilih diam. Kebisuan mengisi ruang di antara mereka untuk sesaat. Alisha dengan pikirannya dan Arsya disibukkan dengan memandang wajah cantik di sampingnya. Tak ingin lepas, Arsya terus memaku pandang. Terlihat sorot mata sayu tertuju pada Alisha. Mendadak keinginan untuk lebih dekat menyeruak tak terduga. Statusnya sebagai suami yang melatari itu semua.
Arsya pun meraih dagu Alisha. Membuat wanita itu kini menghadap padanya. Perlahan wajahnya mendekat. Tangannya pun berpindah dari dagu ke pipi halus bak pualam. Beberapa kali mengusap lembut di sana, kemudian turun ke bibir merah muda yang sejak tadi menggoda imajinasinya.
Dengan ibu jari, Arsya menyusuri bibir Alisha bolak-balik. Tanpa suara, pria itu mulai mencondongkan tubuh. Bibir mereka hampir tertaut kalau saja Alisha tidak menghentikan pergerakan pria itu dengan mendorong pelan tubuhnya.
Tidak ada tanya yang keluar dari bibir, tapi ekspresi kaget dari wajah Arsya cukup untuk menggambarkan semua yang ada di pikiran pria itu.
"Boleh aku minta waktu?"
Bingung, tapi Arsya tetap mengangguk. Mendadak ia teringat akan sikap Alisha dulu jika berdekatan dengannya.
"Apa aku masih membuatmu takut?" tanya Arsya tiba-tiba.
Arsya menyesal baru tahu belakangan tentang trauma pelecahan yang dulu ia lakukan pada Alisha. Ia tak menyangka dampaknya akan sebesar ini. Bahkan selama ini.
Padahal dulu Alisha sering memperlihatkan tanda-tanda kondisi jiwa yang tidak sehat. Namun, Arsya tidak peka dan tidak mengerti. Ia bersikap seolah semua baik-baik saja padahal Alisha menyimpan luka sendiri.
Barulah, saat pertemuan mereka kembali, ia tahu saat Fatih tanpa sengaja menyentuh bahu Alisha. Respon yang ditunjukkan Alisha sama seperti dulu ketika mereka masih menjadi suami-istri.
"Bukan, Mas. Insyaallah aku sudah baik-baik saja. Aku hanya butuh menyesuaikan diri."
__ADS_1
Alisha kembali ikut sesi terapi sejak kejadian ia dan Fatih di restoran kala itu. Alisha harus menyembuhkan diri ketika ia dan Fatih sudah berniat serius. Ia tidak mau mengecewakan suaminya karena masa lalu yang ia bawa. Sebab itulah ia sungguh-sungguh ikut sesi terapi dengan metode hipnoterapi.
"Mas Arsya tidak keberatan, 'kan?"
Senyum manis tersungging di bibir Arsya. Ia paham apa yang Alisha inginkan meski harus menahan sesuatu yang mulai bergejolak dalam dada.
"Aku tidak akan lupa akan tanggung jawabku, aku hanya minta waktu. Aku pasti menjalankan apa yang seharusnya seorang wanita jalankan sebagai seorang istri."
Tangan Arsya kembali terulur. Bukan lagi mengusap pipi atau bibir, melainkan kepala sang istri.
"Ayo tidur," ajak Arsya setelah menilik jam dinding. Inilah cara terbaik Arsya untuk memupus semua yang sempat ia inginkan. Mengubur dalam-dalam hasrat yang sempat bangkit.
Malam pertama pun berlalu begitu saja tanpa kehangatan yang terbagi di antara keduanya. Hanya selimut tebal yang menjadi pelindung tubuh sekaligus penghangat dari pendingin ruangan.
Pagi mereka diawali dengan Subuh berjamaah. Setelahnya Arsya memilih untuk berenang. Menyalurkan kelebihan tenaga yang tak tersalurkan semalam.
Dari atas balkon kamar Alisha menyaksikan suaminya bolak balik menyusuri dinginnya air kolam. Rasa bersalah membuat ia tidak tenang. Ia tahu apa tujuan Arsya berenang sepagi ini. Dis saat rumah masih nampak sepi. Belum terlihat aktifitas dari Bi Sumi dan suami. Rasa bersalahnya semakin bertambah kala Arsya menyadari keberadaannya di atas balkon.
Senyum yang Arsya tunjukkan dari bawah membuat Alisha tak tahan untuk berlama-lama melihat suaminya. Perang batin dalam dirinya pun terjadi tak terelakan. Ia masuk begitu saja kala Arsya menunjukkan senyum tulus dari bawah.
Bersandar pintu yang menghubungkan antara kamar dan balkon, tangis Alisha pecah. Ia remas ujung hijab yang ia kenakan. "Ya Allah, ampuni aku."
Baru tiga kali aktivitasnya bolak-balik menyusur kolam renang, tiba-tiba Alisha muncul dengan membawa bathrobe hitam untuknya. Segera Arsya naik dan menghampiri.
Senyum manis pria itu terus tersungging di bibir saat mengambil bathrobe dari tangan Alisha. Segera ia memakai untuk menutupi tubuh yang basah.
"Bukalah matamu, aku sudah menutupnya," ujar Arsya. Pria itu tahu benar alasan Alisha langsung menutup mata begitu melihat Arsya naik dari kolam renang. Pasti karena celana renang yang ia kenakan.
"Aku suka saat kamu malu-malu," goda Arsya saat istrinya membuka mata.
"Ayo masuk, pasti dingin, 'kan?" ajak Alisha seraya balik badan. Tujuannya sudah pasti mengalihkan godaan Arsya.
Belum juga melangkah, Arsya menahan pergelangan tangannya. Membuat Alisha sontak menoleh.
"Aku masih ingin berenang."
"Tapi ini dingin sekali Mas, nanti Mas Arsya sakit."
__ADS_1
"Ini lebih baik. Setidaknya bisa membuatku tertidur pulas setelahnya."
Alisha tahu maksud Arsya. Semalam, Alisha pun tak bisa tidur nyenyak karena merasakan kegelisahan Arsya di sampingnya.
"Aku akan bantu Mas Arsya tidur pulas."
Sedikit terperangah dan serasa tak percaya. Tapi raut bahagia disertai senyum terlihat jelas di wajah.
"Serius?"
Alisha memutar bola mata malas karena harus menjawab pertanyaan konyol Arsya. "Hmmm." Tapi mengangguk jua.
"Yes!" teriak Arsya girang. Juga langsung memeluk Alisha. Menciumi wajah wanita itu dengan penuh semangat. Tak ada se-inchi pun yang terlewat, semua terkena sentuhan bibir Arsya.
"Mas, hentikan!"
"Kenapa, apa kamu tidak suka?" Pertanyaan bodoh yang keluar dari bibir Arsya. "Tenang saja, aku punya seribu satu cara untuk membuatmu bahagia," sambungnya.
Membuat Alisha semakin kesal saja dengan tingkah suaminya. "Hentikan!" pekik Alisha ketika tangan Arsya kembali menyentuh wajahnya.
Penolakan Alisha langsung membuat Arsya kecewa.
"Jangan lakukan di sini, aku malu," ujar Alisha akhirnya setelah melihat kekecewaan Arsya.
Arsya terbengong menyadari kebodohannya yang tak tanggap maksud sang istri.
"Di kamar saja."
Spontan Arsya mengangkat tubuh Alisha. Menggendongnya naik ke kamar.
"Mas ...!" pekik Alisha karena tak siap
ππππππππππππππππ
Maaf ya baru bisa update. Aku alih profesi jadi Kang nastar biar bisa beli baju lebaran ... hehehehe.π€
Alhamdulillah udah kelar semua orderan jadi come back ke dunia ketik-ketik. Semoga masih ada yang mau lanjut baca ya.
__ADS_1
Terima kasih sudah bersedia menunggu, maafkan aku yang belum bisa rajin.π
Tengkyuβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈSayang Hee