Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.57 Calon Istri


__ADS_3

Malam hari setelah Alisha menerima pinangan Fatih, ia justru gelisah. Matanya tak mampu terpejam walau sekejap.


Sebisa mungkin ia berusaha menepikan nama Arsya dari hati dan pikirannya. Mencoba untuk mengisinya dengan nama yang lain. Namun, apalah daya bila nama Arsya seolah terukir di hati. Terpatri tanpa bisa diganti.


Kegelisahan Alisha tersebut membawanya untuk menghubungi Imran—pakdhenya. Ia menceritakan semua tentang dirinya yang sudah menerima pinangan Fatih dan kegelisahannya tentang Arsya.


Setelah mendapatkan petuah dari orang tua yang membesarkannya itu, Alisha baru tenang.


"Jangan membuat keputusan sendiri Alisha, libatkan Allah untuk setiap hal dalam hidupmu. Terlebih, jika itu urusan yang besar. Mintalah petunjuk pada-Nya, agar jalanmu dipermudah," pesan Imran semalam.


Tenang mendengar nasehat Imran, Alisha kini siap untuk kembali beraktifitas. Meskipun kantuk masih terasa, ia justru memaksakan diri untuk datang lebih awal ke toko. Menyibukkan diri dengan bersih-bersih dan membereskan toko pastilah akan lebih baik untuk dirinya.


Lina dan Niken, dua pegawai toko miliknya sampai heran saat mereka tiba. Biasanya mereka berdualah yang akan melakukan semua tugas itu, tapi kini semua dikerjakan oleh bos mereka.


"Mbak Alisha nginep di sini semalam?" tanya Niken heran.


"Enggak lah, aku datang jam enam tadi. Di rumah nggak bisa tidur."


"Apa?" pekik Niken dan Lina bersamaan.


"Datang jam enam pagi cuma mau bersih-bersih toko?" ujar Lina lirih.


Alisha mengangguk.


Lina dan Niken saling tatap. Seolah saling bertanya ada apa dengan bos mereka.


"Lagi pada ngapain, briefing di sini?" tanya Salwa yang baru saja masuk.


"Ini, Mbak Salwa, kita heran saja sama Mbak Alisha yang pagi-pagi sudah sampai toko dan bersih-bersih. Katanya nggak bisa tidur di rumah," jawab Niken.


"Jelas saja nggak bisa tidur, wong semalam dia abis nerima lamaran seseorang kok." Salwa tersenyum sembari menyenggol bahu Alisha dengan bahunya.


"Beneran, Mbak?" pekik Lina.


Alisha tak menjawab. Ia hanya tersenyum bingung.


"Ciye, yang malu," goda Salwa.


"Apaan, sih. Sudah ... sudah, buruan mulai kerja." Tak ingin menjadi objek gurauan Salwa, Alisha segera membubarkan dua pegawainya. Ia sendiri langsung naik dan masuk ke ruang kerja miliknya. Diikuti Salwa tentu saja.


Di tempat lain, masih di kota yang sama.


Jimmy sudah bersiap untuk bertemu teman yang akan menjalin kerjasama dengannya. Mereka berjanji untuk bertemu di sebuah ruko, di mana usaha mereka akan dibangun.

__ADS_1


"Lo harus ikut gue, Sya," bujuk Jimmy karena Arsya enggan ikut.


"Nggak ah, Jim, gue di hotel aja."


"Ngapain lo di sini sendirian. Makin stres aja lo entar. Ikut gue keluar, biar otak lo segeran dikit. Sapa tahu lo beruntung bisa ketemu Alisha."


"Kalau gue ketemu dia, pasti lo nggak percaya sama gue."


"Gue percaya kalau gue lihat pake mata gue sendiri. Udah buruan siap-siap, kalau nggak ketemu Alisha lo bisa kenalan sama adiknya temen gue entar. Dia punya adik cewek yang cantik. Siapa tahu aja di antara kita ada yang jodoh sama dia," gurau Jimmy.


Arsya memutar bola matanya malas, tapi dituruti juga ajakan jimmy. Dengan pakaian casual dan topi yang kini jadi favoritnya Arsya mengikuti Jimmy pergi dari hotel.


Mereka menuju lokasi yang sudah dijanjikan. Tempat yang tidak jauh dari hotel, hanya butuh waktu sepuluh menit dengan taksi. Terletak di lingkungan kampus terkenal di kota Solo membuat ruko itu mudah dicari. Jimmy dan Arsya bahkan tidak perlu bertanya pada orang untuk sampai ke sana.


"Selamat siang, Brother. Selamat datang kembali di kota Solo. Gimana perjalananya?" sapa Fatih begitu Jimmy dan Arsya turun dari taksi.


"No thing special. Soalnya nggak ada pramugari yang nyantol sama gue."


Fatih hanya bisa tertawa dengan ucapan konyol Jimmy.


"Ngomong-ngomong, bawa siapa ini?"


"Oh, ini, kenalin ini temen gue, namanya Arsya. Dia lagi cari jodoh. Kalau punya kenalan cewek lo bisa bantu dia, atau adik lo mungkin."


"Ayo masuk, kita lihat bisa dirubah jadi apa ruko kosong ini," ajak Fatih.


Jimmy langsung memeriksa setiap sudut di bangunan dua lantai ini. Sekaligus memikirkan konsep untuk usaha kuliner mereka. Karena berada di lingkungan kampus, mereka harus bisa membuat para anak muda tertarik untuk datang. Konsep yang Instagram able tentu merupakan daya tarik tersendiri untuk kalangan anak muda. Juga diimbangi dengan menu yang kekinian dan harga yang ramah untuk kantong mahasiswa.


Mendengar apa yang Jimmy tuturkan, Fatih setuju saja. Pria itu belum pernah berkecimpung di dunia kuliner sebelumnya karena usahanya selama ini adalah pemilik showroom motor.


Ruko yang akan ia jadikan usaha kuliner ini adalah milik orang tuanya yang cukup lama kosong setelah penyewa sebelumnya mengembalikan karena tak mampu lagi membayar sewa. Kini ia ingin memanfaatkan untuk usaha sendiri. Berjejer dengan ruko satunya yang disewa oleh calon istrinya.


Puas melihat dan membicarakan akan bagaimana usaha mereka nanti dibangun, Fatih mengajak mereka untuk makan siang.


"Ngomong-ngomong, sorry kalau kemarin harus batalkan janji. Soalnya semalam aku ada urusan penting."


"Gimana, diterima lamaran lo?" Fatih memang sudah bercerita pada Jimmy. Harusnya mereka bertemu kemarin tapi karena ada urusan Fatih menundanya jadi hari ini.


"Jelas dong, siapa yang bisa nolak Fatih Ibrahim." Dengan bangga Fatih memegang kerah kemejanya. Jimmy tertawa menanggapi, sementara Arsya hanya tersenyum karena belum akrab dengan teman Jimmy satu ini.


"Kapan-kapan kenalin sama gue."


"Ini juga mau aku kenalin."

__ADS_1


"O ... ya?"


Fatih mengangguk. "Ayo, dia ada di sini juga."


"Mana ... mana?" Jimmy celingukan melihat kanan dan kirinya.


"Ya nggak di sini juga. Ada di ruko sebelah. Dia buka toko busana muslim di sana."


Jimmy mengangguk paham. Mereka bertiga pun berjalan menuju ruko yang berada tepat disamping tempat mereka berada sekarang.


"Selamat datang di toko kami," Niken menyambut ketika Fatih membuka pintu.


"Eh, Mas Fatih, mau ketemu mbak bos, ya?"


"Iya, tolong panggilkan, ya."


"Baik, Mas."


"Ini toko calon istriku, Jim. Ini juga alasan kenapa aku ingin kerjasama dengan kamu buka usaha di ruko sebelah. Biar aku bisa sering datang kemari nggak cuma liat istriku nanti tapi juga liat usahaku sendiri di sini."


"Belum nikah aja udah bucin, gimana kalau dah nikah nanti. Pasti lo golongan suami-suami takut istri," Jimmy berkelakar.


Fatih tertawa dengan godaan Jimmy.


"Mas Fatih," sapa Alisha yang baru saja turun. Membuat tawa Fatih dan Jimmy berhenti seketika.


Begitu ketiga pria di depannya menoleh, Alisha terperangah. Matanya tidak lagi tertuju pada Fatih, sang calon imam. Akan tetapi pada pria bertopi yang saat ini juga tengah menatapnya tanpa kedip.


Langkahnya terhenti seketika. Enggan melangkah untuk bisa mencapai di mana Fatih berada. Bibirnya pun sama kakunya untuk sekadar menyapa dua pria dari masa lalunya.


"Alisha, aku ingin memperkenalkan kamu sama temanku dari Jakarta." Fatih yang mendekat, menoleh pada Jimmy dan Arsya yang masih terdiam di tempat.


"Jim, Sya, kemari. Aku kenalkan dengan calon istriku."


Jimmy menoleh pada Arsya. Ia saja tak mampu bergerak apa lagi Arsya. Mereka berdua mematung di tempat, begitu melihat Alisha berdiri di hadapan.


Ucapan Jimmy tadi pagi sebelum berangkat menjadi nyata. Mereka bertemu dengan Alisha. Kini Jimmy percaya jika wanita itu ada di kota yang sama.


"Eh, malah bengong." Fatih menarik Jimmy. "Kenalin ini Alisha, dia calon istriku."


"Alisha, ini Jimmy temanku dari Jakarta, dan itu Arsya, aku juga baru kenal hari ini."


Alisha segera berusaha untuk menguasai diri. Memasang senyum dan menangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai salam untuk Jimmy dan Arsya.

__ADS_1


__ADS_2