Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 105 Hmm ....


__ADS_3

Alisha mengulurkan handuk kecil pada Arsya yang tengah terduduk lemas di atas closet. Ia menatap iba sang suami.


Sudah beberapa hari ini pria itu sering sekali mual. Mungkin karena stres. Sebab akhir-akhir ini suaminya banyak pekerjaan. Akan ada pagelaran besar yang menuntut Arsya bergabung di dalamnya.


Pria itu sibuk mempersiapkan semua.


Pun, dengan masalah Jenna. Arsya sudah bercerita pada Alisha tentang dugaan siapa Jenna. Semua bermula karena Alisha yang tanpa sengaja mendengar percakapan antara suaminya dan Anton.


Sejak itu Arsya memilih untuk bercerita. Selain untuk menghilangkan prasangka yang tidak-tidak juga untuk membagi beban yang ia rasa.


Semua membuat energi Arsya seolah terkuras. Pagelaran bahkan sebentar lagi tapi hari ini kondisi Arsya benar-benar tidak bisa dipaksa. Ia terlihat lemas dan pucat.


"Aku telfon Mas Jimmy, ya. Sebaiknya Mas Arsya istirahat dulu. Aku antar ke rumah sakit," ujar Alisha masih menunggui suaminya.


Arsya mengangguk pasrah. Ia sudah berusaha kuat seperti sebelum-sebelumnya tapi kali ini rasanya ia sudah tidak mampu lagi. Sejak subuh tadi perut rasanya seakan diaduk dan diremas. Sakit dan mual. Belum lagi tenaga yang ia keluarkan ketika ingin muntah tapi tak ada apa pun yang bisa ia muntahkan. Sungguh sangat menyiksa.


Melihat Arsya dengan kondisi begitu menyedihkan, membuat Alisha berjongkok di depan pria itu. Mengambil handuk yang tadi diterima Arsya dengan lemas. Lalu mengusap mulut pria itu dengan lembut.


"Aku siapkan baju ganti, kita ke rumah sakit sekarang," ujar Alisha lagi.


Usai membantu Arsya bersiap, Alisha segera memesan taksi online. Di dalam mobil tak lupa ia menghubungi Jimmy untuk ijin hari ini suaminya tidak bisa ikut gladi resik.


Sampai di rumah sakit, Alisha menuntun pelan Arsya ke IGD. Setelah melakukan pendaftaran dengan sabar Alisha menemani Arsya menunggu panggilan.


"Bapak Arsyanendra." Suara seorang perawat menggema di ruang tunggu pasien.


Segera Alisha membantu Arsya berdiri sekaligus menemani untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Setelah ditanya tentang apa saja yang Arsya rasakan dan dilakukan pemeriksaan, dokter menyarankan untuk Arsya melakukan cek darah dan USG.


Dari hasil USG dan cek darah semua dinyatakan normal. Tidak ditemukan apa pun yang bisa memicu gejala yang Arsya alami.


"Bisa jadi rasa mual dan pusing yang Mas alami karena tingkat stres yang tinggi. Saya sarankan untuk istirahat dulu saja, jika gejala masih dirasakan Anda bisa berkonsultasi pada psikolog," ujar dokter yang memeriksa Arsya.


Mendengar saran dokter, akhirnya Alisha dan Arsya segera pulang. Hari sudah siang kala mereka selesai melakukan pemeriksaan. Sebelum pulang Arsya meminta untuk mampir ke makam orang tua dan anaknya.


Ditemani Alisha, Arsya begitu khusyuk berdoa. Tatapannya tertuju pada tiga makam di hadapannya. Cukup lama Arsya menumpahkan rindu pada orang tua dan juga calon anaknya.


Di samping suaminya, Alisha hanya bisa mengusap lengan pria itu untuk memberi kekuatan. "Mau ke mana lagi?" tanya Alisha usai Arsya berdoa.


"Kita pulang," jawab Arsya.


Sampai di rumah, Arsya yang baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu langsung berlari ke kamar. Ia kembali mual gara-gara mencium aroma menyengat dari dapur.


Alisha yang bingung ikut panik dan lari mengejar Arsya. "Mas ... Mas Arsya, Mas baik-baik saja, kan?" seru Alisha.

__ADS_1


"Kepalaku tambah pusing," jawab Arsya usai kembali ingin muntah.


"Ya udah, Mas Arsya istirahat dulu saja nanti aku bangunkan kalau tiba salat Ashar."


Tanpa penolakan Arsya mengikuti Alisha yang membawanya ke ranjang. Di sana Arsya bisa beristirahat untuk meredakan mual dan pusing.


Seperti janji Alisha sebelumnya, ia membangunkan Arsya di jam-jam salat. Selebihnya ia biarkan saja Arsya beristirahat di atas ranjang.


Selepas makan malam dan salat isya, Arsya kembali rebahan. Tentu setelah minum obat yang ia dapatkan tadi siang.


Sedangkan Alisha memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya di sofa. Agar suaminya bisa beristirahat tanpa ada gangguan. Namun, baru beberapa saat ditinggal Arsya sudah menyusul Alisha.


"Kamu, ngapain?" tanya Arsya yang menyusul Alisha dan langsung duduk di samping wanita itu.


Alisha menoleh pada suaminya yang kini meletakkan kepala di bahunya. "Loh, Mas Arsya ngapain ke sini. Istirahat aja biar cepet baikan."


"Aku capek tiduran terus."


"Terus maunya apa?"


"Nemenin kamu di sini aja."


Alisha mengulas senyum lalu mengusap pipi Arsya lembut.


"Ngecek laporan keuangan yang tadi sore dikirim sama Salwa."


"Ya udah, lanjutin aja ... aku temani."


Alisha biarkan suaminya duduk menemani. Masih dengan posisi yang tidak berubah, kepala Arsya masih bersandar di bahu istrinya. Meski agak kurang leluasa bergerak tapi Alisha berusaha senyaman mungkin.


Ia pun kembali fokus pada lembar-lembar laporan keuangan yang sudah ia cetak tadi agar mudah memeriksanya.


"Sayang, besok kalau sudah selesai pagelaran kita liburan ya?"


"Hmm ...." Hanya itu yang keluar dari bibir Alisha karena fokusnya masih pada lembaran laporan keuangan.


"Nggak usah jauh-jauh, staycation aja udah cukup. Nanti aku minta Jimmy buat booking hotel atau kita bisa ke cottage. Mau, 'kan?"


"Hmm ...." Tatapan Alisha tak sedikitpun beralih dari angka-angka yang tertulis dalam lembaran kertas putih.


"Nggak lama kok dua hari aja, aku pengen banget berdua sama kamu."


"Hmm ...."

__ADS_1


Mendengar jawaban Alisha yang tidak berubah dari tadi membuat Arsya mengangkat kepalanya. Sontak Alisha pun menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada suaminya.


"Kamu dengar kan kalau dari tadi aku bicara?"


Alisha mengangguk. "Hmm ...."


"Berarti kamu dengar kalau tadi aku bilang aku cinta sama kamu?"


Kembali Alisha mengangguk pelan.


"Serius?"


"Hmm ...."


"Kalau begitu katakan apa yang tadi aku bilang?"


Alisha menatap Arsya bingung.


Arsya mengambil kertas di tangan Alisha dan meletakkannya di meja. Mata Alisha pun mengikuti ke mana tangan Arsya bergerak.


"Lihat aku," ujar Arsya.


Alisha semakin bingung.


"Aku dari tadi bicara padamu."


Alisha mengangguk. "Hmm ...."


Ish ... Arsya jadi gemas sendiri dengan istrinya. Dari tadi hanya menggumam saja.


"Kamu dengar semuanya?"


"Hmm ...." Masih mengangguk juga.


"Kalau begitu ulangi apa yang tadi aku bilang padamu."


"Aku mencintaimu," ujar Alisha yakin.


Demi Tuhan ... Arsya sangat gemas dengan sikap Alisha ini. Rasanya ia ingin sekali menggigit bibir ranum sang istri.


Bagaimana mungkin Alisha dengan mudah mengatakan kata itu jika ia mendengar dengan baik apa yang sebelumnya Arsya ucapkan. Arsya bahkan tidak pernah mengatakan kalimat itu sebelumnya. Dan ini menjadi bukti jika Alisha sama sekali tidak mendengar apa pun yang ia ucapkan tadi.


Ingin marah dan kesal tapi Arsya terlalu cinta. Alhasil, Arsya hanya bisa mengecup bibir Alisha berkali-kali. Sedang yang dikecup semakin bingung. Bukankan yang ia ucapkan sudah benar.

__ADS_1


Lalu kenapa ekspresi suaminya terlihat aneh dan kesal.


__ADS_2