Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 17 Khawatir


__ADS_3

Arsya terbangun setelah tertidur lama. Ia memegangi kepalanya yang terasa pening sekaligus perih. Tangannya menyentuh darah yang sudah mengering di pelipis tapi masih terasa pekat. Ia mencium tangannya, aroma anyir masih terasa.


Bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa kepalanya bisa berdarah. Arsya mencoba mengingat apa yang terjadi.


Meski samar, tapi ia bisa melihat bayangan-bayangan apa yang ia lakukan semalam. Mabuk dan berusaha memaksa Alisha. Ya ... Alisha. Ia ingat ia menahan sakit setelah wanita itu memukulkan sesuatu ke kepalanya. Mungkin inilah yang membuat kepalanya berdarah.


Lalu, di mana wanita itu sekarang setelah membuatnya pingsan. Arsya menatap sekeliling, mencari keberadaan istrinya. Pandangannya tertuju ke arah kamar mandi. Pasti di sana. Beberapa kali ketika ia membuat Alisha ketakutan wanita itu akan bersembunyi di balik bilik kecil itu.


"Alisha," panggil Arsya sembari mengetuk pintu kamar mandi.


Semalaman Alisha mengurung diri di kamar mandi. Ia tertidur di dalam bath tube setelah lelah menangis. Baru tersadar ketika suara adzan memanggil.


"Alisha, buka pintunya!" Kali ini bukan sekadar mengetuk tapi menggedor.


"Al," teriak Arsya.


Tak sabar lagi karena tak ada sahutan, Arsya membuka pintu secara paksa. Ternyata tidak dikunci. Tidak ada orang juga di sana.


Mata Arsya menangkap cahaya terang yang masuk dari tirai jendela saat pria itu keluar dari kamar mandi. Kemudian beralih ke jam dinding. Rupanya hari sudah sangat siang. Pantas saja wanita itu sudah pergi.


Arsya putuskan untuk mandi saja. Supaya efek alkohol dalam tubuhnya bisa berkurang.


Ia merasakan kepalanya kian perih akibat guyuran air tadi. Namun tak berniat mengobati. Setelah berganti pakaian, Arsya segera mencari ponselnya. Menghidupkan kembali ponsel yang sejak kemarin ia non aktifkan.


Banyak pesan yang masuk. Semua bertanya tentang kebenaran berita yang beredar. Tak terkecuali mamanya.


Wanita yang sudah melahirkannya tersebut, mengirimi banyak pesan meminta konfirmasi dari sang putra terkait gosip yang merebak.


Ia juga kembali melihat media sosial milik wanita yang saat ini tengah gencar digosipkan dengannya. Foto-foto mesra dirinya dan juga si wanita masih terpampang nyata. Mungkin tak ada niatan dari wanita itu untuk menghapusnya.


Bingung harus menghubungi siapa, sebab Jimmy tak mungkin lagi bisa ia ajak berbicara. Manajernya itu sudah ia usir kemarin. Mana mungkin mau mengurusi masalahnya lagi.


Arsya menjambak rambutnya sendiri, dan memekik kesakitan saat ingat ada luka di kepalanya.

__ADS_1


"Sial!"


Di tengah-tengah keresahan menghadapi masalah, perut Arsya tak mampu berbohong. Ia merasakan lapar.


"Alisha, buatin gue makanan!" teriak Arsya. Ia lupa jika hanya ada dia seorang dalam apartemennya. Baru ia sadari ketika kesunyian yang menjawab.


Rasanya semakin frustasi. Arsya keluar dari kamar dan mencari sesuatu di dapur yang ia bisa makan.


_________________________


Matahari mulai tenggelam. Lembayung senja nampak indah menghiasi langit ibu kota. Di sebuah taman kota, Alisha duduk sendiri di bangku kayu.


Usai menyelesaikan salat subuh tadi, Alisha segera pergi dari apartemen. Ketika itu Alisha lihat suaminya masih tertidur. Mungkin karena pengaruh alkohol.


Kesempatan itu ia gunakan untuk segera pergi. Ia ingin menjauh sesaat dari suaminya. Ketakutan-ketakutan yang acap kali Arsya buat semakin menyiksa batin Alisha.


Ia juga ijin pada Mbak Ratih tidak masuk kerja hari ini. Ia hanya ingin sendiri.


Alisha tak ingin membuat senyum Imran kala menikahkannya pudar jika tahu masalah yang ia hadapi. Atau cibiran dari Laras jika ia bercerita tentang kondisi dirinya.


Pun, tak bisa bercerita kepada Sarah—ibu mertuanya—sebab pasti akan membuat wanita itu kepikiran. Teman dekat, Alisha juga tak ada. Wanita itu memang introvert, yang selalu membatasi pergaulannya sendiri. Jalan satu-satunya yang terpikir oleh Alisha adalah bantuan dari seorang ahli jiwa.


Namun, setelah berpikir panjang, niat itu ia urungkan. Kalau pergi ke psikiater, ia harus bercerita tentang detil masalah yang ia hadapi agar ahli jiwa tersebut bisa membantunya keluar dari masalah.


Tapi, pasti akan menimbulkan masalah baru, karena sekarang ada nama baik suami dan juga keluarganya yang harus ia jaga. Pikiran Alisha terlalu kompleks untuk bisa menemukan jalan keluar.


Pada akhirnya ia hanya berakhir seorang diri. Tersiksa dengan segala masalah yang bergelut dalam hati.


_____________________


Malam sudah tiba. Biasanya jam seperti ini Alisha sudah pulang tapi sekarang tak ada batang hidungnya yang nampak.


Bahkan sampai malam semakin larut dan istrinya itu belum juga kembali.

__ADS_1


"Argh ... ngapain gue mikirin tuh cewek. Biar aja, mau pulang atau enggak bukan urusan gue!" ucap Arsya pada dirinya sendiri.


Walaupun ucapannya demikian, tapi Arsya tak beranjak dari sofa ruang tamunya. Di sana, ia masih menunggu istrinya pulang.


Beberapa kali ia mencoba menghubungi nomor Alisha tapi tidak aktif. Ia juga menelepon kediaman orang tuanya. Menanyakan keberadaan Alisha dan mendapat jawaban jika mamanya tidak tahu.


"Apa Alisha pergi karena berita ini?" tanya Sarah di seberang telpon. Bukannya menjawab Arsya justru memutus sambungan telepon. Mengabaikan Sarah yang berteriak-teriak memanggil namanya di sana.


Ingin menelepon Pakdhe Alisha tapi ia tak tahu nomornya.


Mbak Ratih juga tak luput dari orang yang ia tanyai. "Alisha ijin hari ini, dia tidak bekerja," jawab Mbak Ratih tadi.


Sekali lagi Arsya mencoba menghubungi Alisha. Masih sama saja. Tidak aktif.


"Cewek sialan, bikin repot orang aja!" umpatnya dengan geram.


Ia mulai berpikir ke mana Alisha pergi sebenarnya. Hingga membuat ia tidak tenang.


Hah ... tidak tenang. Untuk apa ia mengkhawatirkan wanita itu. Bukankah Arsya benci pada Alisha. Karena wanita itu adalah awal dari kemunduran karirnya.


Arsya tersadar dengan apa yang ia lakukan. Untuk apa ia menunggu Alisha dan menambah masalah bagi dirinya sendiri. Harusnya ia fokus saja pada gosip yang sedang ia hadapi. Bagaimana cara membungkam mulut netizen dan juga wanita yang ia anggap sedang panjat sosial atas dirinya.


Demi men-distrack pikirannya tentang ketidakpulangan Alisha, Arsya mulai membuka kembali aplikasi media sosial. Mencari celah untuk bisa menyelesaikan masalahnya.


Buntu. Arsya tak menemukan jalan. Ternyata ia tak bisa sendiri tanpa bantuan Jimmy.


Mengingat menajernya tersebut, Arsya berniat mengirimkan pesan untuk minta maaf. Ia sudah mengetikkan pesan di ponselnya.


"Kirim nggak, ya." Gengsi Arsya membuatnya ragu. Ia hapus lagi pesan tersebut. Sekarang tangannya bergerak ke aplikasi media sosial. Ia melihat laman media sosial milik Jimmy.


Matanya membuka lebar melihat foto yang baru saja Jimmy update. Untuk memastikan lagi jika foto itu benar, Arsya melihat tanggal dan jam foto itu di-publish. Hari ini, dua jam yang lalu.


"Bener-bener sialan nih cewek. Udah bikin gue khawatir, ternyata malah hang out bareng Jimmy!"

__ADS_1


__ADS_2