
para wartawan sudah berkumpul memenuhi ruangan di mana Arysanendra Bagaspati akan mengadakan konferensi pers. Pasalnya pria itu akan mengklarifikasi foto-foto yang tersebar di dunia maya berkaitan kedekatannya dengan wanita yang merupakan seorang artis peran sekaligus model.
Sesuai rencana Arsya, konferensi pers pun digelar oleh Jimmy di kantor management miliknya. Manajer Arsya tersebut mengundang banyak wartawan baik media televisi maupun cetak.
Semua orang bersiap termasuk Alisha yang sudah cantik dengan gamis berwarna ungu dan hijab senada. Begitu pun Arsya, pria itu tak bisa diragukan lagi penampilannya. Profesinya sebagai model membuatnya selalu tampil memesona bagi yang memandangnya.
"Sudah siap?" tanya Jimmy yang masuk ke ruangan mereka berdua.
Arsya mengacungkan jari jempolnya.
Hanya Alisha mungkin yang tak siap di sini. Telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Ia sangat gugup dan takut. Bingung apa yang harus ia lakukan dan katakan nanti di depan media. Padahal sebelumnya Arsya sudah memberikan briefing padanya tentang apa saja nanti yang harus Alisha lakukan. Bahkan suaminya itu sudah menyiapkan jawaban jika ada wartawan yang bertanya kepadanya.
"Ayo!" Arsya mengulurkan tangannya. Mengajak Alisha untuk masuk ke pertemuan.
Bukannya langsung menyambut uluran tangan suaminya, Alisha justru hanya menatapnya. Ia berdiri sendiri dan mengabaikan tangan suaminya. Arsya menarik kembali tangannya dan mempersilakan Alisha berjalan lebih dulu.
Begitu memasuki ruangan, sorot lampu kamera terus terarah pada mereka berdua. Membuat Alisha semakin gugup saja. Arsya yang menyadari kegugupan istrinya, mendekati Alisha. Ia berbisik tepat di telinga Alisha. "Jangan takut, ada gue."
Alisha menoleh pada Arsya yang sudah berdiri sejajar dengannya. Pria itu menggandeng tangan Alisha tanpa persetujuan. Membawanya ke hadapan media.
Sikap manis Arsya tak berhenti sampai di situ. Ia menarik kursi yang akan digunakan Alisha untuk duduk. Ia kembali lagi berbisik setelah Alisha mendudukkan dirinya. "Ingat apa yang gue katakan, jawab saja seperlunya. Abaikan pertanyaan yang tidak penting."
Alisha mengangguk perlahan.
Acara pun dibuka oleh Jimmy yang menyampaikan ucapan terima kasih pada wartawan yang sudah bersedia hadir. Kemudian berlanjut dengan klarifikasi yang disampaikan oleh Arsya.
Pria itu menyangkal semua berita yang selama ini beredar. Ia memberikan penjelasan tentang semua foto-foto tersebut.
"Di sini saya tegaskan sekali lagi bahwa saya dengan Sherly tidak ada hubungan apa pun selain profesional kerja. Semua foto-foto itu diambil saat kami sedang menjalani pemotretan untuk sebuah iklan. Saya rasa tidak perlu ada yang meragukan foto tersebut karena tidak ada gambar fulgar dan sebagainya," terang Arsya.
"Lalu bagaimana dengan caption yang dituliskan oleh Mbak Sherly dalam unggahannya di media sosial. Di sana dia menyebutkan 'kangen pengen bermalam bersama lagi'. Bagaimana tanggapan Mas Arsya?" tanya seorang wartawan setelah sesi tanya jawab di buka.
"Itu kan hanya caption untuk menarik perhatian publik. Tidak ada yang perlu dipertanyakan. Lagi pula kami memang bermalam di hotel yang sama, tapi tidak sekamar," tegas Arsya.
"Mas Arsya, bagaimana hubungan Mas Arsya sekarang dengan istrinya. Apakah benar merenggang karena berita ini?" tanya salah seorang wartawan lain.
__ADS_1
"Benar apakah, berita ini berpengaruh pada pernikahan kalian?" sambung lainnya lagi.
Arsya menjawabnya dengan tersenyum. "Tentu saja berpengaruh, kami menjadi lebih dekat satu sama lain." Arsya meraih tangan Alisha dan mengecupnya di depan para wartawan. Alisha yang mendapat perlakuan itu hanya bisa menoleh menatap suaminya. Heran.
"Jadi tidak terjadi keretakan dalam rumah tangganya seperti kabar yang beredar, ya?" teriak wartawan lagi.
"Tentu saja tidak. Saya sangat mencintai istri saya dan bagi kami berita seperti itu bukanlah berita yang harus dirisaukan." Arsya benar-benar pandai bermain peran. Ucapan dan sikapnya mampu membius semua orang untuk bisa percaya padanya.
"Apakah cinta bisa tumbuh secepat itu setelah semua yang terjadi?" seloroh salah seorang wartawan wanita.
"Benar, bukankah dulu Mas Arsya hampir dipenjara karena perbuatannya kepada Mbak Alisha?"
"Apa Mbak Alisha juga sudah bisa mencintai Mas Arsya setelah apa yang Mas Arsya lakukan pada Mbak sebelumnya?" Pertanyaan seorang wartawan membuat Alisha tak mampu menjawab. Ia menatap Arsya kebingungan.
Dengan sigap, pria itu menyelamatkan Alisha dari kebingungan. "Saya rasa cukup sekian dulu ya teman-teman." Arsya mengajak Alisha bangun dan meninggalkan konferensi pers tersebut. Menurut Arsya pertanyaan-pertanyaan wartawan sudah tidak sesuai yang ia harapkan. Mereka justru mengungkit masa lalunya yang hampir di bui.
Banyak wartawan yang seolah belum terima jika sesi tanya jawab hanya berlangsung singkat. Masih banyak tanya yang ingin mereka utarakan. Sebab itulah mereka langsung menyerbu pasangan suami istri itu ketika ingin keluar. Semua berdesakan untuk bisa melontarkan kembali pertanyaan tentang kehidupan rumah tangga mereka yang dimulai dari sebuah skandal.
"Mas, Mas Arsya, bagaimana selama ini Anda menjalani pernikahan yang awalnya tanpa cinta?"
Masih banyak lagi tanya yang menjejali telinga Alisha. Namun, Arsya terus menggandeng tangannya dan menuntunnya keluar dari kerumunan wartawan. Membawanya menuju mobil yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Jimmy.
Para wartawan itu tak menyerah begitu saja. Mereka mengikuti sampai pasangan itu masuk ke dalam mobil bahkan berlari kecil mengejar demi berita yang akan membuat rating naik.
"Mas Arsya tolong berikan keterangan sedikit," ujar wartawan yang mengejar sampai ke mobil.
"Mbak Alisha, tolong beri keterangan, Mbak," ujar yang lain.
Arsya hanya membalas mereka dengan senyum dari balik jendela mobil dan menangkupkan tangannya sebagai tanda terima kasih. Supir yang berada di depan sudah siap dengan kondisi seperti ini. Tanpa perintah ia sudah mulai melajukan mobilnya perlahan meninggalkan para wartawan.
Terlihat raut wajah Arsya yang berubah. Wajah yang sedari tadi berhias senyum ramah kini terlihat begitu kesal dan marah.
"Brengsek ... bener-bener sialan tu orang!" Arsya mengumpat mengingat pertanyaan para wartawan yang seolah memojokkannya.
Alisha yang duduk di samping Arsya hanya bisa memperhatikan perubahan sikap Arsya tersebut. Benar-benar piawai memainkan peran.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arsya dengan nada ketus ketika ia sadar istrinya menatapnya.
"Eng-enggak." Alisha segera mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Kini justru berbalik. Arsya yang memperhatikan Alisha. Meski dari samping, Alisha tetap bisa dibilang cantik.
Sejujurnya kalau boleh mengakui, Alisha tidak seburuk yang dulu Arsya katakan. Kulit Alisha yang bersih, dengan mata bulat dan bibir sedikit tebal serta lesung pipi membuat Alisha terlihat manis.
Sampai di depan gedung apartemen, Alisha turun lebih dulu baru disusul oleh Arsya. Wanita itu meninggalkan Arsya begitu saja dan masuk ke apartemen mereka.
Walk in closet adalah tujuan pertama Alisha. Ia mengambil baju ganti dari sana dan akan membawanya ke kamar mandi.
Namun, kehadiran Arsya yang tiba-tiba ketika ia berbalik dari lemari baju membuat Alisha terkesiap hingga baju di tangannya jatuh seketika.
"M-mas Arsya ...."
Pria itu terdiam. Fokusnya hanya pada wajah cantik Alisha.
"A-ada apa, Mas?" Alisha takut. Apakah ia melakukan kesalahan sampai Arsya bersikap sedingin ini. Ia mengingat-ingat apa salahnya. Apa karena ia meninggalkan Arsya dan masuk ke apartemen lebih dulu.
Tubuh Arsya perlahan bergerak maju. Membuat Alisha secara otomatis mundur hingga punggungnya membentur pintu lemari. Entah apa yang ada dalam otak pria itu, tanpa mengatakan apa pun Arsya hendak mencium Alisha.
Sontak saja Alisha menghindar, hingga wajah Arsya jatuh di bahunya. Bukannya langsung mengangkat kepalanya, Arsya seakan betah berlama-lama di sana. Menghirup dengan rakus wangi Alisha.
Tidak tahukah pria ini jika tubuh Alisha sudah semakin gemetar ketakutan. "Mas ... jangan seperti ini," ujar Alisha. Berharap Arsya mengerti dan menjauhkan diri.
"Sebentar saja," lirih Arsya. Pria itu justru semakin dekat dan menikmati aroma yang menguar. Bibirnya bahkan mulai menelusuri leher Alisha yang berbalut hijab. Hingga ia membawa bibirnya mendekat pada bibir Alisha, hendak mencium istrinya.
Tak tahan dengan apa yang Arsya lakukan, sekuat tenaga Alisha mendorong tubuh Arsya. "Mas!" teriaknya ketika bibir Arsya menyentuh bibirnya.
Arsya terjatuh. Sementara Alisha ketakutan setengah mati. Tubuhnya semakin gemetar. "Ma-maafkan aku, Mas," ujar Alisha terbata.
Ia bingung harus berbuat apa. Ingin membantu Arsya bangun tapi ia takut dengan sentuhan Arsya. Beberapa kali ia menarik ulur tangannya untuk membantu suaminya itu berdiri.
"Maaf, Mas." Alisha menangis. Ia tak bisa membantu Arsya. Kini justru tubuhnya yang luruh ke lantai dengan tangis sesenggukan.
__ADS_1