Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.28 Tidak Tahan


__ADS_3

Alisha langsung naik ke atas ranjang dengan menyembunyikan wajahnya diantara lututnya yang tertekuk. Selimut ia tarik untuk menutupi bagian kakinya. Ketakutan akan kejadian tadi masih terasa nyata bagi dirinya.


Tak berselang lama, Arsya yang tadi langsung menyusulnya masuk ke dalam kamar. Pria itu membawa air untuk membuat Alisha tenang. Beberapa kali menghadapi sikap Alisha yang sama membuat ia sedikit paham akan apa yang Alisha butuhkan.


"Minumlah dulu, agar kamu lebih tenang," ujar Arsya yang duduk di tepi ranjang.


Alisha mengambil gelas dari tangan suaminya lalu meminum sedikit isi gelas itu. "Terima kasih." Alisha mengembalikan gelas tersebut dan Arsya letakkan di atas nakas.


"Tidurlah."


Alisha pun merebahkan dirinya di kasur. Arsya menarik selimut yang tadi menutupi kaki istrinya, dan hal sekecil itu membuat Alisha langsung bersiaga.


Melihat sikap Alisha, Arsya langsung berkata, "Aku hanya ingin menyelimutimu."


Nampak raut lega di wajah Alisha. Ia kembali merebahkan kepalanya di atas bantal.


Arsya meninggalkan Alisha sendiri, pria itu keluar dan menelepon seseorang. Ia perlu bantuan dari seseorang karena merasakan keanehan sikap Alisha.


"Halo, Sis, lo ada waktu nggak?" sapa Arsya pada seseorang bernama Siska.


["Sory, Sya, gue lagi ada acara ini. Kalau lo mau lo bisa chat gue aja atau ketemu gue besok di kantor," jawab Siska di seberang sana]


"Ok, gue chat aja ya."


Arsya pun mengirimkan pesan pada wanita bernama Siska.


Menunggu Siska yang tak langsung menjawab pesannya, Arsya memilih untuk mandi terlebih dulu. Selesai mandi ia melihat istrinya yang tertidur pulas. Ia pun kembali mengecek pesan yang tadi ia kirim pada Siska.


Sudah dibalas, dan jawaban dari Siska memantik rasa bersalah pada dirinya. Ia pun melanjutkan pertanyaannya melalui chat sembari rebahan di sofa.


"Lepaskan, tolong jangan sentuh aku ...."


Arsya menoleh ketika mendengar suara teriakan istrinya.


"Lepaskan, aku mohon ... lepas!"


Arsya langsung menghampiri Alisha yang ternyata mengigau. Ia naik ke atas ranjang. "Al, bangun ... Al." Arsya mencoba mengguncangkan tubuh Alisha pelan agar istrinya itu terbangun.


"Lepaskan!"

__ADS_1


"Alisha," panggil Arsya berhasil membangunkan wanita itu. Ia memegang bahu istrinya.


Keringat dingin bercucuran di dahi wanita itu, napasnya naik turun bak habis lari maraton. Ketakutan, kecemasan jelas terlihat di wajah istrinya.


Melihat Arsya dan tangan yang berada di bahunya membuat Alisha langsung menepis kasar. "Tolong, jangan sentuh aku." Alisha mulai menangis.


"Hei ... ini aku." Arsya mencoba memegang kedua pipi Alisha tapi itu justru memancing histerisnya.


"Tolong jangan sentuh aku, aku mohon," teriak Alisha. Ia berusaha menjauh. Berlari dari tempat tidur ke jendela.


"Berhenti, jangan mendekat!" teriak Alisha yang seolah lupa jika yang ia hadapi adalah suaminya sendiri.


"Al, ini aku Arsya." Arsya terus mencoba maju untuk menenangkan Alisha.


"Tidak, jangan mendekat!" Alisha melihat botol minuman milik Arsya yang berada di atas meja. Tanpa pikir panjang, wanita itu meraihnya dan memecahkan botol tersebut. Pecahan itulah yang ia gunakan untuk mengancam Arsya.


"Kalau kamu mendekat, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!" Alisha mengacungkan botol yang sudah pecah itu pada Arsya.


Melihat tajamnya pecahan botol itu, Arsya lebih takut jika benda itu melukai istrinya.


"Ok ... ok, aku tidak akan menyentuhmu, tapi letakkan botol itu ... ok?" pinta Arsya perlahan.


"Please ... taruh botolnya." Arsya bahkan mengangkat tangannya sebagai tanda ia tak akan menyentuh Alisha. Pria itu juga mundur beberapa langkah untuk meyakinkan.


Alisha pun percaya dan menuruti keinginan Arsya dengan meletakkan botol pecah itu kembali ke atas meja.


"Ok, sekarang kamu menjauh dari pecahan itu," ujar Aksa menginstruksi.


Awalnya Alisha bergeming, tapi melihat serakan pacahan botol ia pun bergerak ke arah ranjang.


"Awas, hati-hati dengan pecahannya." Arsya menunjuk pecahan botol yang berserakan di lantai.


Meski sudah diperingatkan dan berusaha untuk hati-hati, tetap saja tanpa sengaja Alisha menginjak serpihan botol tersebut yang membuatnya menjerit kesakitan.


"Kenapa?" tanya Arsya panik.


Alisha mengangkat satu kakinya yang menginjak serpihan botol. Terlihat benda tajam itu menancap di telapak kakinya dan mengeluarkan darah.


Melihat darah di kaki istrinya, tanpa ragu Arsya langsung bergerak cepat menghampiri. Ia meraih tubuh Alisha dan membawanya ke ranjang, bahkan tidak memberi kesempatan Alisha untuk menolak.

__ADS_1


Alisha ingin memberontak saat Arsya memegang kakinya yang berdarah. "Diamlah!" sentak Arsya. Dengan gerakan cepat, pria itu mencabut serpihan kaca botol yang menancap di telapak kaki Alisha.


Wanita itu sempat menjerit kesakitan karena perih langsung terasa. Arsya segera mencari kotak obat. Membersihkan luka itu dari darah dan membalutnya dengan kasa.


Alisha menatap wajah serius suaminya saat merawat lukanya. Meski sebelumnya ketakutan, kini ia hanya pasrah terdiam melihat apa yang Arsya lakukan.


Ia tak lagi histeris seperti tadi.


"Selesai," ujar Arsya setelah menempelkan plester menutupi luka di telapak kaki Alisha.


"Mau minum?" tawar Arsya yang melihat Alisha hanya terdiam memperhatikan dirinya.


Alisha terus menatap suaminya itu dengan perasaan campur aduk. Ada kebencian juga ketakutan.


Ia membenci Arsya karena telah membuatnya berada di posisi ini. Berada dalam ketakutan yang entah sampai kapan akan menghantui. Terlebih setelah mendengar dari Riko alasan Arsya melakukan perbuatan bejatnya dulu pada Alisha. Ia ingin sekali marah.


Pun, jika ia mengingat kelakuan pria ini. Selalu dikelilingi wanita cantik, membuat ia merasa tidak bisa jadi istri seperti apa yang Arsya inginkan. Kejadian beberapa waktu lalu ketika ia menangkap basah suaminya bercumbu dengan wanita lain adalah bukti kegagalannya menjadi istri.


Ia ingin menyerah. Membiarkan Arsya meraih bahagianya sementara dirinya ingin menyembuhkan luka di hatinya.


"Ya sudah, tidurlah," ujar Arsya karena tak mendapatkan tanggapan dari istrinya. Arsya pun beranjak dari ranjang dengan membawa kotak obat.


"Aku ingin pisah."


Sontak Arsya menoleh. Ia kembali pada Alisha.


"Apa aku tidak salah dengar?" ujar Arsya memastikan.


Alisha menggeleng. "Aku sudah tidak tahan lagi."


Arsya tidak mengerti. Tidak tahan. Tidak tahan atas apa. Selama ini dirinya memang bersikap dingin pada Alisha, tapi sebagai suami ia sudah memberikan hak Alisha.


Arsya memberikan nafkah untuk Alisha dengan materi. Kalau soal nafkah batin, bukankah wanita itu tak pernah ingin disentuh olehnya. Lalu di mana letak tidak tahannya.


Arsya yang masih berdiri di sisi ranjang menatap penuh tanya. "Tidak tahan atas apa?"


"Pernikahan ini. Aku ingin pisah. Tolong ceraikan aku."


Mendengar permintaan Alisha, pria itu justru tertawa. Membuat Alisha merasa aneh dengan suaminya ini. Ia sedang bicara serius tapi Arsya menertawakannya.

__ADS_1


"Aku akan pergi dari kehidupanmu. Jadi tolong, ceraikan aku sekarang," pinta Alisha.


__ADS_2