Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.50 Kehilangan


__ADS_3

Sepasang muda-mudi yang tengah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi tertawa terbahak-bahak. Mereka begitu bahagia menikmati perjalanan sembari memamerkan apa yang mereka lakukan di live media sosial.


Begitu bahagia sampai lupa jika jalanan yang mereka lewati bukan milik mereka sendiri. Tawa mereka berhenti seketika saat mereka sadar jika mobil yang mereka kendarai telah menyambar sesuatu. Dan bisa mereka pastikan jika yang terpelanting karena mobil mereka adalah seseorang.


"Alisha ...!"


Teriakan Arsya membuat langkah Jimmy juga Cinta terhenti. Kaki mereka berdua seakan terpaku di tempat, tak bisa digerakkan saat pandangan tertuju pada tubuh Alisha yang sudah tergeletak tak berdaya.


Dua muda-mudi di dalam mobil pun sama. Tak bisa berkata-kata. Seakan membeku tanpa sadar.


Sedangkan Arsya tak kuasa menahan diri. Ia berlari menghampiri tubuh istrinya yang tak sadarkan diri.


"Alisha," panggil Arsya. Mengangkat tubuh berbalut gamis hitam ke atas pangkuan.


Kepanikan dan ketakutan jelas terlihat di raut wajah saat melihat darah mengucur di kepala Alisha. "Alisha," panggilnya lagi. Berharap sang istri membuka mata.


Dia menoleh. "Jim, ambil mobil ... cepat!"


Jimmy seolah dibangunkan dari mimpi buruk. Ia terperanjat ketika teriakan Arsya tertangkap indera pendengarannya.


"I ... iya ...," jawab Jimmy gugup. Buru-buru ia berlari mengambil mobil.


Membawa Alisha ke rumah sakit.

__ADS_1


Begitu mobil melaju meninggalkan Cinta, wanita itu menyadari akan ketakutan yang tergambar di wajah Arsya. Pria itu seakan lupa jika bukan hanya ada Alisha tapi juga dirinya. Kini tinggallah ia seorang diri.


Pria yang sebelumnya setuju untuk menikah dengannya pergi begitu saja dengan sang istri. Di situlah, Cinta merasa tak berarti.


"Nona Cinta."


Cinta menoleh pada dua orang pria kekar yang tiba-tiba mengapitnya. Ia tahu persis siapa mereka. Dengan hati terluka, ia menurut dan ikut bersama dua pria suruhan kekasihnya.


Di dalam mobil Arsya terus mengoceh, meminta Jimmy untuk lebih cepat. Pria itu bahkan memaki dan mengumpat.


"Lebih cepet, Bangsat!" teriak Arsya layaknya orang kesetanan.


"Ini juga udah cepet, Sya." Jimmy berusaha bersabar menghadapi sikap Arsya. Untunglah ia sangat tahu perangai temannya itu, sehingga Jimmy sudah punya ilmu kebal menghadapi.


"Iya, gue ngebut." Jimmy hanya bisa menenangkan Arsya. Ia tahu benar, jika Arsya tengah ketakutan dengan kondisi Alisha. Sebab itulah emosinya tidak bisa di kontrol.


Sampai di depan rumah sakit, dibantu oleh perawat juga satpam. Alisha dibawa masuk ke unit gawat darurat.


"Bapak silakan urus administrasinya, dan kami akan menangani pasien," ujar seorang perawat yang tadi membantu Alisha keluar dari mobil.


"Lo di sini aja, gue yang urus," ujar Jimmy menepuk bahu Arsya.


Meskipun begitu Arsya tetap tidak diijinkan masuk. Ia hanya bisa menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


"Suami ibu Alisha," panggil perawat setelah beberapa saat melakukan pemeriksaan bersama tim medis lainnya.


"Saya, Sus."


"Dokter ingin bicara."


Arsya pun ikut dengan perawat tersebut untuk bertemu dokter.


"Suami ibu Alisha?" tanya dokter setelah Arsya duduk di bangku tepat di hadapan dokter wanita.


Arsya mengangguk. "Iya, Dok."


"Kami sudah menangani kondisi ibu Alisha, tapi janin di kandungannya tidak bisa kami selamatkan. Ibu Alisha mengalami keguguran, oleh karena itu kami ingin memberitahu jika tindakan kuretase akan kami lakukan."


Arsya terperangah dengan apa yang baru saja ia dengar.


Keguguran?


Alisha?


Hamil?


Semua tidak pernah ada dalam bayangannya. Bahkan ucapannya dulu pun hanya sekadar gurauan. Dan sekarang ia baru tahu jika Alisha benar-benar hamil setelah kehilangan janin tersebut. Seakan tak percaya, Arsya hanya mampu menatap bingung pada dokter di hadapannya.

__ADS_1


"Saya kehilangan anak saya, Dokter?"


__ADS_2