
"Mbak Anggi?" Alisha menatap gadis yang tengah berjalan menghampiri.
"Mbak Alisha, Mas ...," sapa Anggi.
Spontan, Alisha menoleh pada suaminya dengan dahi yang mengernyit ketika Anggi menyebut Arsya dengan panggilan 'Mas'. Namun, Alisha langsung mengabaikan.
"Sama siapa Mbak Anggi?" Alisha terlihat celingukan. Di saat yang sama muncul Gunawan dari balik mobil yang tadi Anggi tumpangi.
"Sama Papa, itu." Anggi menunjuk Gunawan yang berjalan ke arah mereka.
Alisha menunduk hormat begitu Gunawan sampai di depannya. Sementara Arsya hanya tersenyum tipis.
"Arsya ... wah, kebetulan sekali ya bisa bertemu di sini," ujar Gunawan.
"Iya, Pa, kebetulan banget." Anggi tersenyum. "Oh ... ya, Pa, ini istrinya Mas Arsya. Namanya Mbak Alisha." Anggi mencoba memperkenalkan.
Tentu Alisha langsung memasang senyum sebagai perkenalan sembari mengatupkan tangan di depan dada. Respon Gunawan justru di luar dugaan Alisha, pria itu terlihat tak acuh. Raut wajahnya terlihat tidak suka pada Alisha. Padahal ini pertama kalinya ia bertemu dengan orang tua Anggi ini.
"Mbak Alisha dan Mas Arsya udah mau pulang, atau baru datang?" tanya Anggi.
"Kita sudah mau pulang kok Mbak," jawab Alisha.
Mata Anggi melirik tangan Arsya yang membawa kantong donat. "Oh, kirain baru datang, mau aku ajak sekalian buat makan."
"Terima kasih, mungkin lain kali," ujar Alisha. "Kalau begitu kami duluan, Mbak."
"Iya, Mbak."
Arsya tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Pikirnya sudah cukup Alisha yang mewakili.
Kepergian Arsya dan Alisha ditatap oleh Anggi dan Gunawan.
"Arsya sudah ada yang punya, Pa. Papa lihat sendiri, kan?" Suara Anggi terdengar kecewa. Menatap punggung Arsya dan Alisha yang semakin menghilang dari pandangan.
Sebagai seorang Ayah, Gunawan tidak pernah ingin melihat putrinya sedih. Selama ini ia selalu bisa mewujudkan kebahagiaan Anggi. Pun seperti saat ini, ia ingin melihat senyum Anggi bukan kekecewaan gadis itu.
*****
Dari pusat perbelanjaan, Alisha sengaja mengajak Arsya untuk mampir ke masjid sembari menghabiskan waktu menunggu sampai azan Isya. Setelah menunaikan salat Isya barulah mereka pulang.
Di rumah Bi Sumi sudah menyambutnya dengan penuh pengharapan. Dan benar saja, donat yang dibawa Alisha adalah hal yang paling ditunggu oleh Bi Sumi.
"Saya bawa ke belakang ya, Mbak?" ijin Bi Sumi setelah menerima kantong berisi donat.
"Iya, Bi, itu memang buat Bibi kok. Yang satunya lagi tolong di simpan dulu buat aku, ya."
__ADS_1
"Iya, Mbak."
Sepeninggal Bi Sumi, Alisha mengajak Arsya untuk naik ke kamar mereka. "Ayo, Mas."
Terlihat senyum mengembang di bibir Arsya. Hal itu mengusik Alisha untuk bertanya, "Kenapa?"
Arsya menggeleng. "Hadiah untukku mana?"
Alisha bingung akan maksud suaminya. "Maksud Mas Arsya?"
"Iya, hadiah untukku mana? Bi Sumi saja yang tidak melakukan apa pun kamu beri donat, sedangkan aku sudah mengantarmu ke mana-mana hari ini. Lalu hadiahku mana?"
Alisha mengangguk paham sekarang. "Oh ... Mas Arsya mau donat? Sebentar, aku ambil dulu ke dapur pasti belum di simpan Bi Sumi."
Alisha akan melangkah ke dapur, tapi Arsya lebih dulu menariknya. Pria itu geleng-geleng kepala karena istrinya tidak tanggap apa yang ia mau.
"Katanya Mas Arsya mau donat, ini mau aku ambilkan dulu."
Arsya meraih dagu Alisha. "Bukan itu Sayang yang aku mau."
"Lalu apa?"
Wajah Arsya mendekat dan berhenti tepat di telinga sang istri. "Aku mau hadiah yang spesial," bisik Arsya.
Begitu melihat mimik wajah Arsya, Alisha langsung paham maksud suaminya. Mendadak muncul ide untuk menggoda Arsya.
"Spesial, ya?"
Arsya mengangguk.
"Boleh." Alisha tersenyum penuh arti.
Lalu mendekati Arsya, wajahnya begitu dekat dengan wajah suaminya. Begitu dekat hingga bibir Alisha hampir saja menyentuh bibir Arsya. Namun sebelum bibir mereka benar-benar saling menyentuh, Alisha langsung lari.
"Kejar aku dulu kalau bisa!" teriak Alisha menantang.
Merasa dipermainkan, dengan semangat Arsya mengejar istrinya yang lari ke arah kolam renang. "Awas kamu, ya. Kalau tertangkap aku akan menghukum mu karena berani mempermainkan aku," teriak Arsya sembari mengejar Alisha.
Jadilah suami-istri itu berkejar-kejaran layaknya anak kecil.
"Ayo, Mas, tangkap aku!" Alisha terus saja memprovokasi.
Membuat Arsya semakin berhasrat untuk menghukum istrinya yang jahil. Secepat apa pun Alisha lari tetap Arsya lebih lihai. Setelah memutari kolam renang akhirnya Alisha tertangkap juga.
"Ish ... Mas Arsya curang. Harusnya Mas kejar aku bukan menghadang dari depan." Alisha memberontak ketika tubuhnya tak lagi bisa kabur karena rengkuhan Arsya.
__ADS_1
"Gak ada aturannya, yang penting aku bisa nangkap kamu."
Alisha berdecak kesal karena secepat itu harus menyerah pada Arsya. Tetapi melihat posisinya sekarang ide yang lain muncul. Dengan cepat ia mendorong Arsya ke dalam kolam.
Arsya yang tidak siap otomatis jatuh tercebur ke dalam kolam. Kesempatan itu dipakai Alisha untuk kembali berlari.
"Sekarang kejar aku, Mas!" Alisha kembali berlari masuk.
Ia bahkan hampir menaiki anak tangga tapi tidak ada suara ataupun Arsya yang mengejarnya. Penasaran dengan apa yang terjadi, Alisha kembali ke kolam renang.
Matanya membeliak melihat Arsya. "Mas Arsya ...!" pekiknya.
Tanpa pikir panjang Alisha langsung lompat ke dalam kolam begitu melihat Arsya yang hampir tenggelam. Secepat mungkin ia berenang untuk bisa menyelamatkan suaminya.
Begitu mendapatkan tubuh Arsya segara Alisha membawanya naik meski kesulitan karena tubuh Arsya lebih besar dari tubuhnya.
"Mas ... mas Arsya!" Alisha menepuk pipi suaminya tapi tidak ada reaksi. Arsya tidak bergerak sama sekali meski Alisha terus memanggil namanya.
Alisha semakin panik melihat kondisi Arsya. Ia pun mencoba melakukan pertolongan pertama dengan CPR. Salah satunya dengan memberikan napas buatan.
Anehnya begitu bibir Alisha menyentuh bibir Arsya, pria itu tak mau melepaskannya. Saat itulah Alisha tersadar jika kini suaminya berbalik mengerjainya.
Kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa Alisha berpikir jika Arsya akan tenggelam. Sedangkan sebelumnya ia pernah melihat suaminya itu berenang dengan mahir.
Rasa panik dan takut membuat Alisha tidak mampu berpikir jernih. Yang ada di hatinya hanya ketakutan melihat Arsya yang hampir tenggelam.
"Hmmp ...." Alisha mencoba lepas tapi Arsya tak membiarkannya.
Pria itu justru menarik tubuh Alisha dan memperdalam ciumannya. Tidak berniat melepaskan Alisha lagi. Ia harus menghukum Alisha agar tidak lagi jahil padanya.
Mata keduanya saling beradu kala tautan bibir mereka terlepas. Sorot mata yang sarat akan cinta terpancar dari keduanya. Tanpa sadar, senyum kebahagiaan tersungging di bibir masing-masing.
Arsya pun menarik kembali Alisha dalam pelukan. "Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu."
Bisikan Arsya membuat Alisha terbuai. Sampai ia pasrah saat Arsya semakin memeluknya erat.
Dan semua harus berakhir ketika suara Bi Sumi mengagetkan. "Maaf, Mas ... Mbak, Bibi tidak tahu kalau Mas Arsya dan Mbak Alisha sedang main ____"
Belum selesai Bi Sumi berbicara, Alisha segera bangun dari atas tubuh Arsya. Ia berlari karena malu. "Maaf, Bi," ujar Alisha lirih ketika melewati asisten rumah tangga itu.
Setelahnya Arsya pun menyusul pergi dari kolam renang. Berbeda dengan Alisha yang malu karena terlihat intim di depan Bi Sumi, Arsya justru biasa saja. Tapi sorot mata Arsya jelas terlihat kesal pada Bi Sumi karena mengganggu kesenangannya.
"Gusti ... kok yo aku tadi ke sini to yo ...." Bi Sumi menepuk jidatnya sendiri. Merasa bersalah pada majikannya.
Tapi tadi itu suaranya berisik sekali, bahkan terdengar jelas ketika Alisha lompat ke dalam kolam. Bi Sumi pikir ada apa-apa, jadilah dia segera memeriksa. Eh ... ternyata dia berada di tempat dan situasi yang salah.
__ADS_1