Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.85 Orang Ketiga


__ADS_3

Hari sudah beranjak siang. Sinar mentari berkolaborasi dengan biru langit dan putihnya awan menambah cerahnya hari. Namun, di atas ranjang berbalut seprai putih, Anggi belum mau bergerak.


Bayangan tadi malam ketika ia kembali bertemu dengan pahlawannya masih menari-nari di angan. Ia ingat betul bagaimana semalam percakapannya dimulai.


"Anak Mama kenapa?" tanya Nita yang baru saja masuk ke kamar Anggi dan mendapati putrinya senyum-senyum sendiri sambil memeluk guling.


Malam tadi Anggi tidak pulang ke apartemen melainkan ke rumah orang tuanya.


"Mama ...!" Anggi terkesiap melihat Mamanya yang mendadak muncul. "Ehm ... ada apa, Ma?" Demi menghindari rasa canggung karena ketahuan berkhayal, Anggi memilih mengalihkan perhatian dengan bertanya tujuan Mamanya masuk ke kamar.


Nita berjalan mendekat ke ranjang dan duduk di tepi tempat tidur putrinya. "Tadinya cuma mau bangunin kamu, tapi Mama lihat ada yang aneh sama kamu." Nita berterus terang akan rasa penasarannya.


Anggi tak lagi mau menghindar, ia pun menjawab, "Mama kenal deket nggak sama Arsyanendra?"


Nita mengernyit heran dengan pertanyaan Anggi. "Kenapa?"


"Yah ... hanya ingin tahu saja. Apa Mama juga tahu latar belakangnya yang ternyata seorang duda?"


Nita lebih heran lagi dengan ucapan Anggi yang tahu tentang model yang menjadi brand ambassador produk perawatan miliknya.


Nita mengangguk. "Ya, Mama tahu karena sebelum memutuskan untuk menjadikan Arsya brand ambassador produk milik Mama, staf Mama sudah mencari berbagai informasi tentang Arsya. Memangnya kenapa kalau dia duda?"


"Ya nggak apa-apa sih, Ma. Lagian meskipun duda dia tampan, kok." Anggi tersenyum di akhir kalimat. Membuat Nita semakin yakin akan kecurigaannya. Pasti ada sesuatu dengan putrinya.


"By the way, dari mana Mama kenal Arsya?"


"Sebenarnya salah satu staf Mama yang mengusulkan, kemudian kami mulai mencari tahu tentang latar belakang Arsya. Lalu, lewat manajernya kami berhasil menjadikan dia brand ambassador kami. Awalnya Mama ragu dengan latar belakang dia yang pernah di penjara, tapi kalau melihat pengikutnya di media sosial dan juga komen dari warga net, meski pernah dipenjara Arsya masih mampu menarik perhatian warga dunia maya."


Anggi manggut-manggut. "Bener, Ma. Anggi juga mencari tahu soal Arsya di internet. Banyak komen positif tentang dia terlepas dari kasus yang ia hadapi. Misalnya talenta dia di dunia modeling ternyata cukup membanggakan. Denger-denger juga pernah dinobatkan sebagai salah satu top model Asia, ya?"


"Itu juga yang jadi alasan Mama memilih Arsya. Soalnya kan ini produk perawatan pertama yang Mama launching khusus untuk pasar pria, jadi Mama harus mencari model yang benar-benar punya wajah ok. Iya, nggak?"


Anggi menjentikkan jari. "Setuju."


"Sudah-sudah, apa kamu nggak ke kantor kok masih nggak gerak juga."

__ADS_1


"Nanti, Ma, agak siangan aja."


"Ya sudah, Mama mau berangkat dulu kalau gitu."


Setelah mamanya pamit, Anggi tak lantas beranjak dari kasur. Ia justru kembali merebahkan dirinya dan memeluk guling. Wajah Arsya seakan enggan pergi dari angannya. Semakin menggoda untuk dipikirkan.


Bahkan setiap kali otaknya memikirkan Arsya, jantung Anggi berdetak lebih cepat. Ada rasa yang mulai menggila hanya dengan mengingat namanya saja.


"Arsyanendra ...." Anggi menggigit ujung gulingnya. Lalu tersenyum sendiri dan menenggelamkan wajahnya pada benda empuk nan panjang itu.


"Arsyanendra ...," lirihnya sekali lagi. "Oh ... Ya Tuhan, apa aku mulai gila," ucapnya pada diri sendiri.


Arsya telah mencuri hatinya secara terang-terangan. Nama dan wajah pria itu tak mampu ia tepiskan, sebab ia mulai nyaman dengan semua angan berbau Arsyanendra.


*****


Sesuai jadwal yang telah Jimmy atur, di sela-sela break gladi resik untuk pagelaran busana pengantin milik Ivan Bridal. Arsya keluar sebentar untuk melihat rumah yang akan ia beli.


Alisha diantar oleh Anton menjemput Arsya lebih dulu ke lokasi gladi resik. Baru mereka berangkat ke kawasan perumahan yang kemarin Jimmy rekomendasikan. Di sana seorang agen properti sudah menunggu dan siap memberikan informasi apa pun yang Arsya dan Alisha butuhkan mengenai rumah yang akan mereka ambil.


Ini adalah rumah kedua setelah sebelumnya Arsya dan Alisha melihat satu rumah yang menurut Arsya kurang cocok karena terlalu kecil.


"Bagaimana, kamu suka?" tanya Arsya setelah masuk dan melihat tiga kamar dan kini kolam renang.


"Apa nggak terlalu besar, Mas?"


"Aku rasa enggak."


Mereka berjalan keluar. Kembali melihat rumah itu dari luar.


"Nah, kalau Bapak ambil yang ini, di bagian sini kan masih ada sisi kosong Pak, nanti bisa Bapak jadikan taman atau bisa juga untuk memperluas area parkir rumah Bapak," ujar agen properti menunjuk lahan kosong yang ada di luar rumah itu.


"Kalau Bapak butuh designer interior, saya juga punya rekomendasi yang bagus buat Bapak," imbuh agen properti.


"Bagaimana?" tanya Arsya lagi.

__ADS_1


"Terserah Mas Arsya saja."


"Kok terserah sih, rumah yang akan kita beli bakal jadi milik kamu, Sayang, jadi kamu yang harus milih."


"Maksudnya?" Tentu Alisha bingung.


"Iya, rumah yang akan aku beli akan aku jadikan hadiah pernikahan untuk kamu."


"Tapi, Mas, apa nggak berlebihan?"


"Enggak, Sayang, nggak ada yang berlebihan. Sudah wajar suami memberikan hadiah untuk istrinya."


Arsya menatap mesra Alisha. Ia juga meraih tangan istrinya dan mengecupnya. Ketika Arsya akan mendekat, Alisha buru-buru mencegah. Mata Alisha melirik agen properti yang masih ada di samping mereka untuk mengingatkan Arsya jika mereka tidak sedang berdua saja. Ada orang ketiga di antara mereka, yakni agen properti.


Menyadari keberadaan agen properti, Arsya jadi tersenyum sendiri. Sebegitunya ia sekarang, tak mampu menahan diri dari Alisha.


"Bagaimana, kamu suka yang ini atau masih mau cari-cari dulu yabg lain?" tanya Arsya. Modus agar niatnya tadi untuk bermesraan tidak ketahuan agen properti.


Alisha nampak berpikir. "Kita masih akan tinggal bareng Bi Sumi dan Pak Tarjo, kan?"


"Enggak, Bi Sumi bilang setelah rumah papa dijual nanti, dia dan Pak Tarjo mau pulang kampung saja. Mau menikmati masa tua di kampung. Nanti kita cari asisten rumah tangga yang baru."


Memikirkan siapa-siapa saja yang akan mengisi rumah baru nanti, juga lokasi yang strategis. Tentunya yang bisa mempermudah Arsya untuk bekerja, Alisha pun memutuskan untuk setuju membeli rumah kedua yang mereka lihat ini.


"Kita ambil yang ini saja," ujar Alisha.


"Bapak dengar, kan? Istri saya mau yang ini, tolong siapkan semuanya."


"Baiklah, Pak. Saya akan segera mengurus semua surat-suratnya," ujar agen properti.


"Apa Anda punya kenalan seorang design interior wanita? Istri saya yang akan mengatur semua design interiornya, jadi saya ingin designer interiornya seorang wanita agar istri saya lebih nyaman waktu berkomunikasi."


"Tentu, Pak. Kami punya banyak relasi designer interior. Sebentar." Agen properti tersebut mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam tas.


"Ini, Pak, kartu nama Designer interior yang punya kemampuan luar biasa dalam mendesain rumah. Saya berani jamin, Anda dan istri Anda akan puas dengan hasil kerjanya." Agen properti memberikan kartu nama itu pada Arsya.

__ADS_1


"Anggita Gunawan?" ucap Arsya lirih setelah membaca nama yang tertera pada kartu nama yang diberikan agen properti.


__ADS_2