Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.49 Alisha!


__ADS_3

Sudah ditolak, tetap saja cinta menghubungi Arsya. Wanita itu seakan tak tahu malu. Dia yang mengancam melaporkan, sekarang ingin bertemu juga dengan orang yang sudah melakukan kekerasan padanya.


Awalnya setelah mendengar nasehat Jimmy agar tak menemui Cinta, Arsya menurut. Akan tetapi Cinta seolah tak menyerah. Dalam beberapa hari terakhir wanita itu semakin gencar meminta bertemu. Bahkan menawarkan iming-iming akan mencabut laporan jika Arsya setuju menemuinya.


Tanpa mengatakan pada Jimmy diam-diam Arsya pergi dari apartemen managernya tersebut. Awalnya hanya ingin menepi sejenak dari masalah yang ia hadapai. Sebab itulah ia memilih cottage milik keluarganya yang tak jauh dari Jakarta.


Sehari semalam berada di sana, ia terus saja mendapatkan pesan dari wanita yang dulu pernah menarik hatinya. Setelah memikirkan apa yang Cinta tawarkan, Arsya pun setuju untuk bertemu. Demi menghindari wartawan, Arsya menyuruh Cinta untuk menemuinya di cottage.


"Apa mau, lo?" tanya Arsya sembari menyesap es kelapa yang sebelumnya ia pesan. Sebelum kedatangan Cinta.


Sengaja, Arsya tidak menemuinya di cottage. Ia berubah pikiran, karenanya mereka bertemu di sebuah restoran di dekat cottage.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


Arsya tersenyum remeh.


"Aku akan mencabut laporan jika kamu setuju untuk menikahiku."


Arsya tertawa. "Lo gila, ya?"


"Terserah kamu mau ngomong apa, aku cuma ingin kamu nikahin aku."


Arsya mengambil sebatang rokok kemudian menyulutnya. "Gue udah punya istri," jawab Arsya ketus.


"Tapi kamu nggak mencintai istri kamu."


"Siapa yang bilang?" Asap putih mengepul dari mulut Arsya.


"Semua orang tahu kenapa kamu menikahi wanita itu." Nampak senyum mencemooh di bibir merah Cinta.


"Gue juga nggak cinta sama lo." Balas Arsya. Tak terima melihat senyum mencemooh Cinta.


"Setidaknya dulu kamu pernah menginginkan aku , jadi akan sangat mudah buat aku untuk membuat kamu jatuh cinta."


"Percaya diri sekali."


Cinta kembali tersenyum. Membuat wajahnya begitu menawan untuk ditatap. "Bukankah itu modal kita untuk bisa ada di dunia showbiz ini."


Tak dipungkiri, apa yang Cinta katakan benar.


"Kenapa gue harus nikahin lo. Gue yakin bukan hanya karena dulu gue pernah suka sama lo, kan?"

__ADS_1


Cinta menoleh kanan kiri. Seolah takut jika apa yang akan ia katakan didengar oleh orang di sekitarnya. "Aku ingin bebas."


Arsya sedikit kaget dengan maksud ucapan Cinta. Bebas?


Bebas dari apa?


Dari siapa?


Bukankah saat ini dia yang sedang dilaporkan, dan sebentar lagi Arsya bisa saja masuk tahanan. Lalu kenapa Cinta yang ingin bebas.


"Aku ingin lepas dari Joko Permana," sambung Cinta.


Membuat Arsya mulai mengerti akan kalimat sebelumnya. Juga memperjelas dugaannya selama ini jika Cinta dan Joko Permana punya hubungan yang lebih dari biasa.


"Apa yang aku lakukan sama kamu semua karena dia. Vidio, laporan polisi atau berita yang diunggah ... semua Joko Permana dalangnya. Aku hanyalah alat."


"Tunggu ... tunggu, gue pengen lo cerita yang lebih jelas."


Cinta akhirnya bercerita jika selama ini ia memang memiliki hubungan dengan politikus itu. Semua berawal dari kencan satu malam yang ia jalani karena ia butuh banyak uang ketika itu untuk membayar hutang.


Tidak disangka, sang politikus ternyata sangat royal. Ia memberikan Cinta uang yang lebih bahkan sering menggunakan jasanya lagi. Hingga suatu komitmen terucap dari bibir Joko Permana untuk menjalin hubungan dengan Cinta.


Atas bujukan dari asistennya, Cinta pun setuju. Jadilah hubungan mereka naik status menjadi pacaran. Awalnya, sang politikus begitu memanjakannya dengan materi, hingga sang artis rela melakukan apa pun untuknya. Termasuk menyuruh Cinta untuk mendekati Arsya.


Pun tentang laporan polisi yang dilayangkan untuk Arsya. Semua karena perintah Joko Permana. Pria itu begitu ambisius untuk bisa naik ke posisi pimpinan yang dipegang Surya Bagaspati.


Mendengar cerita Cinta, Darah Arsya seolah mendidih. Tangannya mengepal kuat menahan emosi yang hampir meluap. Apa yang ia sangka selama ini ternyata benar adanya. Semua karena perang politik demi menjatuhkan papanya.


"Kenapa lo nurut aja, kenapa nggak lo tolak?"


Cinta menunduk. Perlahan keluar air dari sudut matanya.


"Nggak semudah itu, Sya. Dia bisa ngelakuin apa saja demi keinginan tercapai. Aku nggak bisa lepas begitu saja dari dia. Dia gila, Sya ...."


Air mata Cinta semakin membanjir. Mengingat bagaimana Joko Permana menyiksanya secara fisik dan juga psikis. Ia harus menurut apa pun yang pria itu perintahkan jika masih ingin hidup tenang. Banyak ancaman dan siksaan yang ia terima, tapi ia tidak berani melapor pada siapa pun.


"Kenapa lo nggak lapor?"


Cinta menggeleng. Dia punya power, sedangkan aku lemah.


Arsya paham maksud Cinta. Ia tak ingin memperjelas lagi.

__ADS_1


Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.


"Bagaimana, Sya. Kamu mau, kan nikahin aku."


Nampak p berpikir. Terlintas niatan licik dalam otaknya.


"Tapi gue nggak bisa menceraikan Alisha demi lo. Lo pasti tahu alasannya."


Cinta mengangguk paham. Pastilah demi nama baik Arsya. Di dunia showbiz ini, menjaga imej adalah hal utama. Dunia penuh tipu-tipu.


"Tidak masalah," jawab Cinta pasrah. Ia harus menerima semua sekarang, soal istri Arsya bisa ia urus nanti.


Mereka pun bersepakat atas beberapa hal sebelum mengakhiri pertemuan.


"Aku dengar kamu punya cottage di sini, boleh aku mampir?"


Arsya nampak ragu untuk sesaat sebelum akhirnya mengijinkan Cinta untuk melihat cottage miliknya. Nampak raut bahagia di wajah wanita muda itu. Ia bahkan tanpa sungkan menggamit lengan Arsya dengan mesra. Berjalan beriringan menuju cottage bagai sepasang kekasih di mabuk asmara.


"Ini cottage kamu?" Cinta menatap kagum pada kemewahan cottage milik keluarga Arsya.


"Hmm."


"Besar dan mewah," ujar Cinta. Menoleh pada pria di sampingnya.


Arsya malas menanggapi. Ia terus berjalan masuk, tentu saja diikuti oleh Cinta yang semakin mempererat pegangannya. Bergelayut manja pada pria yang ia yakini akan menikahinya.


Begitu membuka pintu Arsya tercengang melihat ada Alisha di cottage ini. "Alisha?"


Tak bisa berkata-kata, Alisha hanya tersenyum getir menyaksikan suaminya dirangkul mesra oleh wanita lain.


"A-aku bisa jelaskan semuanya," ujar Arsya. Ia melepaskan tangan Cinta yang bergelayut manja di sampingnya.


Dengan gerakan tangan Alisha menghentikan. Agar Arsya tak mendekat padanya. Ia segera berlari meninggalkan dua orang yang baginya begitu menjijikkan.


"Alisha, tunggu!"


Alisha terus berlari. Ia tidak mau dengar apa pun dari pria yang menurutnya tidak tahu malu ini. Di saat dirinya tengah sibuk menjaga ibu mertuanya, sang anak justru bersenang-senang dengan wanita lain.


"Alisha, tunggu!" teriak Arsya mengejar sang istri.


Tak menggubris panggilan suaminya, Alisha terus saja berlari. Semakin jauh dari cottage. Jimmy dan Cinta ikut juga mengikuti di belakang Arsya.

__ADS_1


"Alisha ...!" pekik Arsya ketika sebuah mobil yang melaju kencang menyambar tubuh istrinya.


Seketika tubuh Alisha terpelanting. Membuat tak hanya Arsya, tapi juga pengemudi mobil ikut kaget dengan apa yang baru saja terjadi.


__ADS_2