
Hanya tiga hari waktu honeymoon untuk Alisha dan Arsya di hotel, sebab Alisha meminta pulang setelah tahu berapa harga sewa hotel permalamnya. Mungkin terkesan norak, tapi Alisha pikir sudah cukup uang yang dikeluarkan Arsya untuk honeymoon mereka. Biarlah malam-malam berikutnya cukup di rumah saja. Merasa sayang jika Arsya harus keluar banyak uang untuk membayar sebuah kamar. Padahal Arsya sendiri tak memusingkan berapa uang yang ia keluarkan asal bisa membuat istrinya bahagia.
"Kamu yakin, nih, nggak mau nginep lagi di sini. Tiga hari lagi, mungkin?" Sejujurnya pria itu masih betah berlama-lama di kamar hotel ini.
Alisha mengalihkan sejenak perhatiannya dari menata baju di koper. Ia tak menyangka jika Jimmy akan mengiriminya baju sebanyak ini hanya untuk menginap di hotel, dan semua baju yang Jimmy kirim bukan diambil dari rumah Surya melainkan diambil dari toko alias baru. "Mas, kalau tiga hari lagi aku di sini, bisa-bisa pulang aku sudah hamil," jawab Alisha sembari memutar bola mata. Kemudian kembali meletakkan baju yang ia lipat ke dalam koper.
Arsya yang sebelumya hanya rebahan melihat Alisha berkemas langsung berdiri dan mengambil baju yang akan Alisha masukkan ke dalam koper. Lalu meletakkannya asal. "Baguslah, kita nginep lagi di sini. Kalau perlu sebulan lagi biar kamu langsung hamil," ujar Arsya cengengesan.
"Mas ...!" pekik Alisha dengan mata mendelik.
Arsya tertawa melihat reaksi Alisha. Meski sorot mata tajam tertuju padanya, Arsya justru mengulurkan tangan melingkar di pinggang sang istri. "Itu bagus, bukan. Aku memang ingin segera punya anak," godanya lagi.
Seketika itu juga Arsya mendapatkan hadiah berupa cubitan manja di perut.
"Aawww ... sakit, Sayang."
"Biar Mas Arsya tau rasa!"
"Oh ... udah berani, ya." Arsya mendorong tubuh Alisha ke atas ranjang dan tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk Alisha bisa lepas karena Arsya segera menindihnya. Tanpa ampun pria itu menciumi wajah Alisha, yang membuat Alisha berteriak-teriak.
"Mas ... lepasin!" Alisha mencoba untuk lepas dari kungkungan Arsya.
"Enggak, kamu harus diberi hukuman." Arsya benar-benar tak mau berhenti meski Alisha terus memohon.
"Mas, kita harus pulang." Segala cara Alisha lakukan agar lepas dari suaminya ini. Namun, tak ada satu pun cara yang berhasil dan tak ada kata-kata yang Arsya dengar.
"Mas, nanti sewanya nambah lagi," teriak Alisha lagi.
Tidak mengindahkan apa pun yang Alisha katakan, Arsya tetap melanjutkan keinginannya. Alhasil, kepulangan mereka mundur beberapa jam. Harusnya siang mereka sudah keluar hotel, tapi kenyataannya sore baru mereka chek out.
Arsya meminta Anton untuk menjemput Alisha dan membawanya pulang ke rumah orang tuanya. Sementara dirinya harus ke kantor Jimmy untuk urusan pekerjaan.
Manajernya itu langsung memberondongnya tanpa henti dengan pesan dan panggilan begitu tadi ponselnya diaktifkan. Mau tidak mau Arsya harus menemui Jimmy segera.
"Kamu pulang sama Anton dulu, ya."
"Mas Arsya pulang malam?"
__ADS_1
"Belum tahu, tapi aku usahakan selesai urusan aku langsung pulang."
Alisha mengangguk. Sebelum ia menutup kaca mobil, ia sempatkan untuk tersenyum pada sang suami. Arsya yang sejak tadi berdiri di luar mobil mencubit gemas hidung mbangir Alisha sebelum berpisah.
Setelah mobil yang dikemudikan Anton melaju meninggalkan hotel, Arsya langsung menyusul dengan mengarahkan mobilnya ke kantor Jimmy. Di sana, Jimmy sudah menunggunya dengan raut wajah kesal.
Bertambah kesal ketika melihat Arsya memasuki ruangannya. "Lo, tu ya, Sya ... bener-bener bikin gue darah tinggi. Rasanya pengen gue samperin lo ke hotel kemarin gara-gara lo matiin handphone lo. Nggak ada kerjasamanya banget, lo!"
Arsya tak menanggapi serius omelan Jimmy yang rupanya masih berlanjut.
"Buat apa lo matiin handphone, takut lo, gue ganggu. Nggak inget lo, kalau ada susah dan ribetnya semua bagian gue, giliran enaknya semua lo nikmatin sendiri. Bener-bener keterlaluan, lo!" Jimmy terus mengomel.
"Kenapa lo senyum-senyum begitu. Nggak paham, lo, gue lagi marah!"
Arsya tak berhenti tersenyum. Seolah mengolok Jimmy dengan segala omelannya.
"Bisa nggak sih, Sya, lo nggak pasang wajah nyebelin!"
"Siapa yang nyebelin, lo tu yang gila. Mana bisa kenikmatan gue sama Alisha, gue bagi ke elo. Kalau lo mau ngerasain nikmatnya malam pertama, cepetan lo cari istri. Kelamaan sendiri itu kemungkinannya cuma dua. Kalau lo nggak belok berarti lo nggak laku!"
Jimmy menggeram marah. "Arsya ...!"
Tidak ingin lagi berlama-lama duduk dengan seorang Arsyanendra Bagaspati, Jimmy mencoba melapangkan hati. Meski selama ini ia selalu bersabar mungkin sekarang ini ia harus jadi lebih sabar menghadapi Arsya.
Akhirnya dengan kesabaran tingkat dewa, Jimmy menjelaskan semua jadwal Arsya yang harus di-reschedule karena permintaan mendadak Arsya untuk honeymoon.
"Kali ini lo jangan minta yang aneh-aneh lagi, gue udah nggak sanggup. Untung saja klien kita kali ini percaya sama gue, jadi mereka setuju untuk menjadwal ulang pemotretannya. Nggak tahu gue gimana nasib karir lo kalau manajer lo bukan gue." Jimmy sedikit sombong, tapi memang benar, semua berkat Jimmy.
Dia adalah manajer yang begitu loyal terhadap modelnya.
"Percaya, gue. Makanya dari dulu gue nggak pernah mau dipegang orang lain selain lo. Karena lo itu orangnya nurut banget. Gampang disuruh-suruh." Arsya menaik-turunkan Alisnya.
"Sialan, lo!" umpat Jimmy.
Arsya hanya kembali tertawa.
Tak hanya membicarakan soal jadwal kerjanya saja, tapi Arsya dan Jimmy juga membicarakan rumah yang Arsya inginkan. Jimmy memang benar-benar top manajer. Semua hal yang Arsya minta selalu bisa Jimmy usahakan.
__ADS_1
Tidak terasa obrolan mereka sampai pada jam sepuluh malam. Sesuai janjinya, selesai urusan Arsya segera pulang. Sendiri, ia menyetir mobil melaju di jalanan Ibu Kota.
Awalnya semua baik-baik saja. Arsya bahkan bersenandung agar tidak mengantuk saat menyetir. Hingga pandangannya bertemu pada sebuah mobil merah yang berhenti di tepi jalan yang sepi.
Arsya tidak bisa abai ketika ia melihat seorang wanita yang sedang di kelilingi beberapa pria. Pasti ada hal tidak baik di sana. Tanpa berpikir panjang, Arsya langsung berhenti dan segera turun.
"Woy, ngapain lo semua!" teriak Arsya saat turun dari mobil.
Ada empat pemuda yang langsung menoleh. Tak terkecuali wanita yang berada di tengah lingkaran para pria berandalan.
"Nggak ada kerjaan lo selain gangguan orang lain!" teriak Arsya lagi. Kali ini ia berjalan mendekati mereka berlima.
"Tolong!" Melihat Arsya yang berjalan ke arahnya, wanita muda yang tengah dikelilingi pria-pria berandalan itu tidak melewatkan kesempatan. Ia harus bisa pergi dari kerumunan pria-pria yang sejak beberapa menit yang lalu membuatnya ketakutan.
"Tolong aku!"
"Lepasin dia!" titah Arsya pada keempat pemuda.
"Siapa lo, ganggu kesenangan kita?" ujar salah satu pemuda.
"Udah nggak usah banyak tanya, kita habisin aja ini orang," ujar yang lainnya. Ketiga temannya pun langsung setuju karena setelahnya mereka langsung menyerang Arsya.
Bugh
Bugh
Bugh
Walaupun satu lawan empat sempat membuat Arsya kewalahan. Pada akhirnya Arsya berhasil membawa kabur wanita itu dari keempat pemuda berandalan.
"Cepetan masuk!" Arsya menarik tangan wanita itu dan memintanya untuk segera masuk ke mobilnya.
Wanita itu hanya menurut karena yang ia cari adalah keselamatan. Secepat mungkin Arsya tancap gas meninggalkan para berandalan.
"Sudah aman." Arsya menoleh ke belakang. Tak lagi terlihat para berandalan.
"Terima kasih, aku nggak tahu gimana nasib aku kalau nggak ada kamu," ujar wanita itu.
__ADS_1
"Sekarang kamu mau aku antar ke mana?"
Wanita itu menyebutkan nama sebuah apartemen. Dan Arsya langsung tahu. Kebetulan searah dengan jalan ke rumah orang tuanya.