Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 109 Akhirnya Bertemu


__ADS_3

Arsya duduk dengan melipat tangan di dada. Menatap tajam seseorang yang duduk berhadapan dengannya. Setelah menerima pesan dari seseorang kemarin dan menemuinya. Arsya terpaksa berada di tempat ini sekarang. Di sebuah privat room restoran yang sengaja dipesan khusus untuk dirinya dan Anggi.


Saat pertemuan dengan Gunawan tempo hari, pria itu mengatakan dengan jelas dan sadar agar Arsya menceraikan istrinya dan menerima Anggi sebagai pasangan barunya. Tentu saja hal itu menyulut emosi Arsya. Namun sang model tidak bisa berbuat apa pun ketika Gunawan mengancamnya. Pria tua itu menunjukkan beberapa foto mengenai adik yang selama ini ia cari keberadaannya.


Arsya tidak pernah menyangka jika Anggi dan papanya bisa berbuat seperti ini. Bahkan pria yang dipuji hangat dan bertanggung jawab itu rupanya seorang penjahat.


Keharmonisan keluarga yang dulu sering dipertontonkan Gunawan hanyalah topeng belaka. Pria itu bahkan tega menyekap adiknya dan menjadikannya alat untuk menekan Arsya.


"Lakukan apa yang aku suruh atau kamu kehilangan adikmu selamanya," ancam Gunawan waktu itu.


Arsya belum tahu pasti bagaimana bisa Gunawan tahu perihal Jenna yang merupakan adik kandung Arsya. Pria tua itu tidak menceritakan apa pun selain mengancamnya agar mau menemui Anggi—putri Gunawan.


Karena tersudut ingin menyelamatkan Jenna, akhirnya Arsya meminta waktu dua hari. Bagaimanapun ia tidak bisa menceraikan Alisha begitu saja. Terlebih ada calon anaknya di rahim Alisha. Pun tidak mungkin mengabaikan Jenna.


Memikirkan alasan logis yang diberikan Arsya, pria tua itu setuju dan memberikan waktu dua hari untuk Arsya berpikir. Setelah memutuskan Arsya pun siap menemui Anggi sesuai perintah Gunawan.


"Mas Arsya apa kabar?" tanya Anggi canggung. Sejak duduk berhadapan dengannya belum sekalipun Arsya membuka suara.


Di ruangan ini hanya ada mereka berdua. Semakin terkesan sepi karena tidak ada suara yang keluar dari bibir keduanya.


Arsya bergeming. Tak menjawab apa yang Anggi tanyakan. Namun, matanya terus terfokus pada gadis di depannya. Bukan terpesona tapi merasa tidak habis pikir.


Sudah lama Arsya menyadari ketertarikan Anggi padanya. Bukan karena terlampau percaya diri, tapi sebagai mantan casanova, Arsya bisa menilai sikap Anggi terhadapnya.


Selama ini Arsya tetap bersikap sopan dan berpura-pura tidak tahu karena memandang orang tua Anggi. Pun karena Anggi belum menampakkan perasaannya secara terang-terangan. Yang Arsya lakukan hanya menjaga jarak dan bersikap sewajarnya.


"Mas Arsya," panggil Anggi karena Arsya tak merespon.


Sudah dua puluh menit berlalu dan Arsya masih terdiam. Anggi semakin gugup dan gelisah. Sedangkan Arsya bersikap santai seperti tidak ada apa pun.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Arsya. Dengan sigap ia membuka pesan tersebut.

__ADS_1


[Semua beres, Mas.]


Begitu pesan yang dikirim Anton untuk Arsya. Pesan yang sejak tadi ia nanti-nantikan.


"Kenapa kamu melakukan semua ini?" Arsya akhirnya membuka suara.


Membuat Anggi yang sebelumnya tertunduk malu karena Arsya tak merespon ucapannya seketika mendongak.


"Kenapa kamu menginginkan aku, sementara kamu tahu aku sudah punya istri?" Wajah Arsya memang datar ketika bertanya tapi raut marahnya yang terpendam terlihat jelas.


"Aku ...."


"Kamu tahu benar, Anggi, jika aku sangat mencintai istriku dan tidak pernah ada niatan sedikit pun untuk meninggalkannya."


"Mas ... aku hanya ...." Anggi bingung harus berkata apa.


Sejujurnya sebelum datang ke mari, ia tidak tahu jika orang yang akan ia temui adalah Arsya. Papanya tak memberikan penjelasan tentang ini. Papanya bilang akan memberi kejutan untuk putrinya.


"Aku tidak akan minta maaf atas sikapku hari ini. Dan perlu kamu ketahui, sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan istriku untuk mu atau wanita manapun."


Anggi menatap nanar kepergian Arsya. Ucapan Arsya begitu menohok baginya. Bukan hanya merasa hina tapi juga sangat malu ketika Arsya tahu apa yang menjadi niatnya.


Terlebih pria itu menolaknya secara terang-terangan. Air mata Anggi tak mampu ditahan. Ia hancur. Benar-benar hancur. Harga dirinya sebagai wanita tercabik kala Arsya dengan sindiran menyebutnya sebagai pencuri.


*****


Dari restoran Arsya mengemudikan mobilnya ke rumah. Sesuai rencana, Anton sudah menunggunya di sana.


Dan benar. Begitu sampai di rumah Arsya melihat Jenna bersama Alisha di ruang tamu.


Seulas senyum membingkai bibirnya kala melihat adiknya berada di hadapannya kini. Ia tidak menyangka akan takdir yang terjadi hari ini.

__ADS_1


"Naima," panggil Arsya lirih.


Derap langkah Arsya membuat semua orang yang tengah berada di ruang tamu menoleh.


"Mas," panggil Alisha. Ia berdiri menyambut suaminya.


Jena, Anton dan Devon juga ikut berdiri.


"Naima," ucap Arsya lagi. Ia langsung memeluk gadis itu. "Adikku."


Arsya tak mampu membendung air matanya. Setelah puluhan tahun ia kembali bisa melihat adiknya.


Sama halnya dengan Arsya, Jenna pun tidak bisa menahan air matanya. Perasaannya campur aduk antara senang dan bingung.


"Kamu aman di sini bersama aku dan Alisha," ujar Arsya.


Jenna mengangguk dalam dekapan Arsya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan tapi untuk sekarang, bersama Arsya mungkin akan jauh lebih baik.


Arsya bahagia rencananya berhasil. Waktu dua hari yang ia minta kemarin dari Gunawan ia manfaatkan betul untuk menyusun strategi.


Begitu tahu siapa dalang dari hilangnya Jenna, Arsya langsung menghubungi Anton dan memintanya untuk mengawasi Gunawan. Agar tahu di mana pria tua itu menyekap adiknya. Arsya berpura-pura meminta vidio Jenna bersama dengan Gunawan untuk meyakinkan jika Gunawan tidak menipunya.


Tanpa pikir panjang, Gunawan pun segera datang ke apartemen tempat Jenna disekap dan mengirim vidio permintaan Arsya. Setelahnya Arsya setuju dan berjanji akan menemui Anggi sesuai keinginan Gunawan. Padahal saat itu Anton sudah mengantongi bukti tempat penyekapan Jenna.


Dalam waktu yang singkat itu Anton bekerja dengan maksimal. Petunjuk yang sudah jelas mempermudah semua pekerjaannya. Hingga tadi ketika Arsya menemui Anggi, di saat yang sama Anton membawa polisi untuk menggerebek tempat di mana Jenna disekap.


Begitu mendapat kabar dari Anton jika semua sudah aman, Arsya pun tidak peduli lagi dengan Anggi.


"Kita tunggu beritanya sebentar lagi, Mas. Saya juga sudah menghubungi Pak Hotman untuk mengurus kasus ini. Beliau bilang kita bisa melaporkan Pak Gunawan atas tuduhan penyekapan dan human trafficking berdasarkan pengakuan Mbak Jenna." Pernah bekerja menjadi ajudan Surya Bagaspati membuat cara kerja Anton begitu cepat dan rapi.


"Terima kasih, Anton," ujar Arsya.

__ADS_1


Mendengar pembicaraan Arsya, Devon pun bersedia menjadi saksi kejahatan Gunawan. Meski ia tahu pasti akan terseret juga sebab sebelumnya dia adalah anak buah Gunawan.


__ADS_2