
Bab.69
Setelah mempertimbangkan keadaan, Arsya membawa Alisha pulang ke rumah orang tuanya. Meskipun lama tak ditempati, setidaknya di sana masih ada yang mengurus. Ada Mbok Sumi yang masih setia menjaga rumah itu bersama dengan suaminya. Kalau semua pegawai lain sudah diberhentikan sejak papa dan mama Arsya tiada. Hanya mereka berdua yang tetap dipertahankan di rumah besar itu.
"Ayo." Arsya membuka pintu belakang mobil untuk Alisha. Tangan kekarnya terulur menggandeng wanita itu masuk setelah menurunkan koper dari bagasi mobil. Sampai-sampai ia melupakan Jimmy dan lupa pula untuk berterima kasih pada sang manajer yang selalu setia mengantar dan menemani.
"Woy, nggak terima kasih, lo, udah gue anter pulang!" teriak Jimmy dari dalam mobil.
Mendengar teriakan Jimmy, hanya lambaian tangan tanpa menolehkan wajah yang Arsya lakukan. Membuat Jimmy geleng-geleng kepala dan kembali tancap gas meninggalkan pekarangan rumah besar keluarga Arsya.
Dari dalam rumah, Mbok Sumi bergegas membuka pintu begitu mendengar bel. Mata tuanya hampir tak percaya melihat anak dari majikannya kembali ke rumah yang ia jaga selama dua tahun belakangan.
"Mas Arsya?" Sumi menatap kaget pada anak majikannya itu. "Mbak Alisha?" Kini matanya beralih pada Alisha.
"Apa kabar, Bik?" tanya Arsya.
"Se-sehat, Mas."
"Siapa, Mbok?" Suami Sumi datang dari arah dapur. "Lho, Mas Arsya. Baru tiba ya, Mas?" Tarjo—suami bik Sumi— menatap Arsya lalu beralih pada Alisha. Sama seperti Sumi, ada pertanyaan yang menggantung di otaknya. Bagaimana bisa Arsya datang dengan Alisha, sementara dari yang mereka dengar anak majikannya itu sudah bercerai dan hidup masing-masing.
"Pak ... pak." Sumi mencubit tangan Tarjo untuk menyadarkan pria itu dari tatapannya yang tidak sopan. Semua karena tanya tentang status Arsya dan Alisha.
"Aduh!" pekik Tarjo kaget. "Kenapa to, Mbok?" Nada suara Tarjo meninggi.
"Nggak sopan!" ujar Sumi lirih.
Menyadari sikapnya yang memang tidak sopan, Tarjo langsung meringis. "Ma-maaf, Mas."
"Iya, Pak. Pak Tarjo apa kabar?"
"Sehat, Mas. Masuk, Mas, kok berdiri di luar saja."
Arsya tersenyum menangapi. "Kita mau tinggal di sini sementara waktu, tolong siapin kamar untuk kita, ya."
Tarjo dan Sumi saling tatap, bingung.
"Aku dan Alisha sudah menikah kembali. Kami suami istri lagi sekarang," ujar Arsya. Menjawab pertanyaan Tarjo dan Sumi yang tidak berani mereka suarakan.
__ADS_1
"Oh ...." ujar keduanya, terdengar bak paduan suara.
"Baik, Mas, akan kami siapkan. Jangankan sementara, selamanya juga boleh. Ini kan rumah Mas Arsya," ujar Sumi kemudian.
Sumi bergegas naik ke lantai atas, sementara Tarjo membawa koper milik Alisha dan Arsya ke atas.
Alisha mengedarkan pandangan, menatap ke seluruh ruangan. Teringat pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini.
Perlakuan Sarah dan Surya—sang mertua— yang sangat baik tidak bisa ia lupakan.
Ia menoleh pada Arsya, lalu tersenyum sendiri. Tentu hal itu memantik rasa ingin tahu Arsya. Ada apa dengan istrinya itu, baru masuk rumah tapi sudah senyum-senyum sendiri.
"Kenapa?" tanya Arsya bingung.
Alisha menggeleng dan kembali tersenyum. Ia menatap tangan Arsya yang sejak tadi tak lepas dari tangannya.
"Kenapa?" Arsya semakin curiga melihat senyum Alisha.
"Nggak ada apa-apa, Mas." Meski menjawab demikian, senyum di bibir Alisha masih tak terhapuskan.
"Nggak ada," jawab Alisha. Belum mau mengakui isi pikirannya.
Arsya melepaskan tangannya. Sekonyong-konyong ia meraup tubuh Alisha dan memanggulnya bagai karung beras. Lalu membawanya menapaki anak tangga.
Sontak Alisha menjerit. "Mas Arsya! turunin, Mas!"
"Ini hukuman karena kamu nggak mau cerita kenapa kamu senyum-senyum sendiri," jawab Arsya. Masih tak menurunkan Alisha. Ia justru membawa Alisha berjalan ke kamar.
"Mas, turunin!" pinta Alisha lagi.
"Nggak sebelum kamu janji akan cerita ada apa dengan senyum kamu yang mencurigakan."
Sampai di kamar, Sumi dan Tarjo langsung keluar begitu melihat Arsya memanggul istrinya. Mereka berdua juga senyum-senyum sendiri melihat kelakuan Arsya.
"Mas, turunin!" pinta Alisha lagi.
Arsya menuruti apa yang Alisha katakan. Ia menurunkan Alisha tapi di atas ranjang. Belum sempat Alisha bergerak bangkit Arsya sudah lebih dulu mengungkungnya.
__ADS_1
"Mau apa, Mas." Alisha langsung panik melihat Arsya berada di atas tubuhnya.
"Katakan atau hukumannya akan semakin berat," ancam Arsya.
"I ... iya, aku cerita, ta-tapi Mas Arsya minggir dulu."
Melihat sorot takut di mata Alisha. Arsya segera menggeser tubuhnya. Ia merebahkan dirinya tepat di samping Alisha. Untuk beberapa saat, Alisha mengatur napasnya. Menormalkan kembali detak jantungnya yang mendadak berdebar lebih cepat.
Tak sabar mendengar apa yang akan Alisha katakan, Arsya memiringkan tubuhnya menatap Alisha yang tak bergerak. Mata wanita itu tertuju pada langit-langit kamar.
"Aku hanya mengingat masa lalu. Dulu, saat pertama kali aku masuk ke rumah ini, sikap Mas Arsya tidak seperti tadi. Kalau Mas Arsya masih ingat, aku menaiki tangga dengan menyeret koper besarku sendiri. Begitu tiba di kamar ini, Mas Arsya bilang aku numpang di kamar ini." Alisha menoleh. Tepat di saat mata Arsya tengah menatapnya.
Tangannya terulur. Mengusap lembut pipi Alisha. Arsya ingat betul bagaimana dulu sikapnya pada Alisha. "Maaf," ujarnya lirih. Ada nada penyesalan di dalamnya.
"Aku akan perbaiki semua sifat burukku yang dulu. Tolong bantu aku untuk berubah menjadi lebih baik." Kembali Arsya mengusap pipi Alisha.
Sebagai istri, Alisha mengangguk penuh senyum.
"Aku juga tidak sempurna, pasti ada sikap dan sifatku yang pernah membuat Mas Arsya kecewa atau terluka. Untuk itu, aku juga minta maaf." Tak ada beban sedikit pun kala Alisha mengakui betapa lemahnya ia sebagai manusia yang tak luput dari salah dan dosa.
Ini adalah awal dari rumah tangganya bersama Arsya lagi. Ia ingin menjadikan rumah tangga ini penuh kebahagian dan ketentraman. Ia akan memulainya dengan saling memaafkan atas apa yang terjadi di masa lalu.
Di atas ranjang, mereka saling bercengkerama dengan berbagi cerita kehidupan. Hal yang dulu tak pernah mereka lakukan, kini terasa begitu mengasikkan. Berbicara dari hati ke hati.
Hingga tak terasa adzan magrib sudah berkumandang. Mereka pun memutuskan untuk segera salat.
"Habis salat magrib, kita salat Taubat, ya. Kita mohon ampun atas semua kesalahan kita di masa lalu. Semoga rumah tangga kita ke depannya bisa lebih baik," ujar Arsya.
Alisha lebih dulu bersih-bersih diri baru Arsya menyusul. Setelah salat Magrib berjamaah, mereka lanjut untuk salat Taubat. Untuk pertama kalinya, Arsya berdiri di depan Alisha sebagai imam salat.
Hal yang membuat tangis Alisha pecah. Akhirnya ia menemukan imamnya. Menemukan jodoh yang sudah ditakdirkan untuknya.
Sama halnya dengan Arsya. Ia tak bisa membendung air mata. Ia merasa betapa banyak dosa yang ia buat. Namun, rahmat Yang Maha Kuasa tak pernah berhenti mengalir padanya. Seperti sekarang, keinginannya untuk bisa bersama Alisha dikabulkan.
"Sekarang aku punya tanggung jawab yang besar atasmu, juga pada pernikahan ini. Tolong bantu aku untuk bisa menjadi imam yang baik, agar bisa melabuhkan bahtera ini hingga ke surga. Kita mulai awal yang baru."
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Alisha selain air mata yang semakin menderas mendengar ucapan Arsya.
__ADS_1