Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 115 Akhir Bahagia


__ADS_3

Tiga hari sejak kelahiran malaikat kecilnya, Arsya sudah siap untuk mengumumkan berita bahagia itu. Sekaligus mengklarifikasi berita yang beredar di dunia maya.


Jimmy sudah menceritakan berita viral tentang modelnya itu. Juga sudah berdiskusi tentang langkah yang akan mereka ambil.


Di sinilah Arsya saat ini. Di kantor manajemen milik Jimmy. Pria itu duduk di hadapan para pencari warta. Ditemani Jimmy selaku manajer tentunya.


Arsya nampak tenang. Sesekali senyum manis tersungging di bibirnya kala ada kolega yang mengajaknya berbicara. Kesempatan itu tak dilewatkan oleh pencari berita untuk mengarahkan kamera pada sang model.


Ketika Jimmy memberi arahan bahwa konferensi pers sudah siap dilakukan, Arsya langsung membuka acara tersebut sendiri.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu."


Salam Arsya dijawab serempak oleh kumpulan wartawan yang ada di depannya.


"Selamat malam untuk semuanya, jadi apa nih yang mau ditanyakan?" ujar Arsya seraya bercanda.


Candaan itupun dibalas gelak tawa para pencari berita. Aura kebahagian terpancar jelas di wajah sang model. Senyum ramah menjadi penghias bibir Arsya. Sangat bertolak belakang dari Arsya yang dulu mereka kenal.


"Mas Arsya, bagaimana Mas Arsya menanggapi vidio yang sedang viral. Apa berita itu benar, jika Mas Arsya kembali rujuk dengan mantan istri?" Seorang wartawan tak melewatkan kesempatan. Segera ia melempar pertanyaan.


"Nama istri saya Alisha, kalau kalian masih ingat," ujar Arsya dengan gurauan.


Kembali wartawan tertawa. Rupanya Arsya kurang suka penyebutan 'mantan istri' untuk Alisha.


Arsya kembali berbicara setelah tawa wartawan reda. "Jadi memang benar, yang ada di vidio yang beredar di dunia maya sekarang ini adalah saya dan istri saya. Itu tiga hari yang lalu ketika istri saya benar-benar ingin makan cuanki. Sebagai suami siaga, saya tidak bisa tidak menuruti."


"Dan apa benar Mas, kalau sekarang Mbak Alisha sudah melahirkan?" tanya wartawan lain.


"Itu juga benar. Setelah makan cuanki, istri saya bilang kalau dia sudah siap melahirkan karena keinginannya makan cuanki sudah keturutan. Nah, benar. Malam harinya istri saya melahirkan. Jadi buat kalian yang punya istri sedang hamil, kalau bicara hati-hati. Ucapan bisa jadi doa, kan." Arsya masih tetap menjawab setiap pertanyaan diiringi gurauan.


"Jadi anak Mas Arsya dan Mbak Alisha, laki-laki atau perempuan, Mas?"


Pertanyaan terus dilempar wartawan. Karena yang ditanyakan masih seputar berita yang viral, Arsya cukup menjawab dengan santai.


"Alhamdulillah, anak saya perempuan."


"Siapa namanya, Mas?"

__ADS_1


Wartawan tak sabar ingin tahu nama bayi sang model kontroversial. Sebab ini akan menjadi berita paling menjual setidaknya seminggu ke depan. Dengan serius mereka semua memasang telinga.


"Saya dan istri saya sepakat memberikan nama Binar Faradisa."


"Kalau boleh tahu artinya apa, Mas?"


Tak henti-hentinya wartawan mengulik soal kelahiran bayi Arsya.


"Artinya Cahaya Surga. Semoga putri kami menjadi penerang dan penolong kami kelak di akhirat."


"Mas, boleh tunjukkan foto putrinya?"


Arsya hanya menanggapi dengan senyuman. "Maaf, saya rasa sudah cukup sampai di sini. Terima kasih untuk semuanya."


Arsya pamit undur diri. Ia berdiri dan meninggalkan meja konferensi. Sengaja Arsya tidak ingin mempublikasikan foto putri kecilnya. Biarlah foto-foto yang ia ambil menjadi koleksi pribadi bukan konsumsi publik.


Semua demi menjaga privasi. Juga untuk menghindari berbagai fitnah keji dari orang-orang yang tidak menyukai Arsya maupun Alisha.


Selepas dari konferensi pers, Arsya langsung kembali ke rumah sakit. Ini malam terakhir Alisha dan bayinya di sana. Besok mereka sudah diijinkan untuk pulang.


Selama di rumah sakit tak sekali pun Arsya meninggalkan istri dan anaknya. Ia terus menemani Alisha bersama dengan Naima.


Pagi hari setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit, Arsya ditemani Naima membawa pulang Alisha juga bayi cantik bernama Binar. Jimmy juga ada di sana untuk membantu Arsya mengurus administrasi. Sesuai keinginannya dulu mereka akan langsung menempati rumah baru.


"Assalamualaikum," ujar Alisha sebelum masuk ke rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Bi Sumi juga Nining dengan kompak.


Bi Sumi langsung memberikan selamat untuk Alisha. Tak lupa ia menggendong bayi majikannya itu.


"Ini Nining, ya?" tanya Alisha.


"Iya, Buk," jawab gadis berkepang dua yang berdiri di sebelah Bi Sumi.


"Iya, Mbak. Ini Nining, yang akan bantu-bantu di rumah ini," jawab Bi Sumi.


Semua memang sudah direncanakan. Rumah lama milik Surya Bagaspati akan Arsya jual. Kemudian pindah ke rumah baru ini. Naima pun ikut serta bersamanya.

__ADS_1


Bi Sumi memilih untuk pensiun saja. Sebagai penggantinya Bi Sumi menawarkan pekerjaan pada keponakannya yang bernama Nining. Bi Sumi sendiri akan pulang kampung bersama suaminya.


Sedangkan Pak Anton, memilih untuk menjadi supir keluarga Arsya. Katanya dia ingin memenuhi janji pada majikannya yang dulu, yakni Surya Bagaspati untuk membantu menjaga anak dan menantu dari Surya.


Padahal Arsya sudah memberinya pilihan untuk bekerja di tempat lain yang memungkinkan gaji Anton lebih besar. Pengalaman menjadi ajudan Surya Bagaspati yang notabene seorang politikus pastilah menjadi nilai tambah bagi Anton. Nyatanya pria itu lebih memilih mengabdi pada anak dari Surya Bagaspati.


"Ayo masuk, kok malah pada berdiri di depan pintu," ajak Budhe Laras.


Tak lupa Alisha memberi salam pada Pakdhe Imran dan Budhe Laras yang juga sudah menunggunya di rumah baru.


"Bi Sumi pulangnya nanti setelah akikah Binar, ya, Bi?" ujar Alisha ketika berjalan memasuki rumah.


"Iya, Mbak, nanti Bibi bantu beres-beres dulu. Kalau sudah nggak repot Bibi baru pulang."


"Terima kasih ya, Bi."


Satu per satu dari mereka masuk ke rumah. Setelah ini mereka akan sibuk dengan acara akikahan Binar. Tidak mewah acara yang akan mereka gelar cukup memotong satu kambing dan dibagikan ke tetangga juga mengundang anak yatim di acara pengajian yang akan mereka gelar.


Melihat kebahagiaan di wajah istri juga adiknya serta para pegawainya, membuat air mata Arsya luruh karena haru. Kelurga bahagia yang sejak dulu ia impikan kini akan ia wujudkan melalui keluarga kecilnya.


Istri dan putrinya harus mendapatkan cinta dan kasih sayangnya. Pun dengan Naima, satu-satunya saudara yang ia miliki. Arsya masih punya tanggung jawab besar mengantar Naima ke pernikahan.


Semoga adiknya tersebut menemukan jodoh yang tepat, yang bisa membimbing dan menerima Naima dengan segala kekurangan yang ada pada gadis itu.


"Mas Arsya kenapa?" Alisha yang menyadari air mata Arsya tak tahan untuk bertanya.


Segera Arsya menghapus cairan bening yang meleleh di pipi. "Aku bahagia ... sangat bahagia," ujar Arsya.


Ia tarik Alisha dalam pelukan. Mengecup kepala wanita itu berkali-kali sembari mengucapkan terima kasih.


Dalam dekapan suaminya Alisha pun jadi tak mampu menahan air mata. Ia juga sama bahagianya dengan Arsya.


"Bantu aku untuk mewujudkan keluarga ini menjadi sakinah, mawadah, dan rahmah."


Alisha mengangguk dengan air mata yang terus mengalir dalam dekapan Arsya.


"Terima kasih untuk semua," ulang Arsya lagi.

__ADS_1


*****


TAMAT .....


__ADS_2