
Dua Tahun Kemudian
"Setelah ini lo mau ke mana?" tanya Jimmy pada Arsya yang masih berdiri di pusara orang tuanya.
Dua tahun berlalu sejak ia masuk ke dalam penjara. Hari ini adalah hari kebebasannya. Tujuan pertama setelah keluar adalah tempat pemakaman umum di mana papa dan mamanya beristirahat dengan tenang. Di sana juga ada makam calon anaknya yang bersanding dengan kedua orang tua Arsya.
Arsya kembali memakai kaca mata hitam yang tadi ia gantungkan di kerah kaus yang dikenakan setelah selesai berdoa. Ia menatap Jimmy yang menemani di sampingnya. "Gue pengen ke rumah Pakdhe Imran."
"Lo yakin?"
"Gue cuma pengen silaturahmi."
Jimmy mengangguk. Ia akan mengantar ke mana pun sahabatnya itu ingin pergi hari ini. Meski selama ini hubungan mereka terlihat seperti Tom and Jerry, tapi Jimmy tetaplah teman terbaik. Dia yang selama ini selalu menjenguk Arsya, mengurus semua yang Arsya butuhkan.
Di jalan menuju rumah Imran, Arsya melihat baliho dengan potret Joko Permana terpampang dengan gagah. Pria yang kini telah berhasil menjadi pengganti papanya di pemerintahan itu tersenyum bangga dalam poster besar yang pasang di pinggir jalan.
"Semua sudah terjadi, Sya," ujar Jimmy yang tahu persis apa yang Arsya pikirkan saat melihat potret Joko Permana.
Arsya paham. Tidak akan habis jika dirinya memperturutkan dendam. Ia memilih untuk legowo menerima semua yang terjadi. Toh, ia sudah berhasil melewati.
Meskipun tidak mudah menyingkirkan kenangan tentang apa yang telah rival papanya lakukan pada keluarganya. Karena jebakan Joko Permana, papanya ditangkap. Lalu menyusul dirinya yang ditahan karena skenario pria itu juga. Mamanya yang tidak tahan dengan berita itu, akhirnya meninggal.
Setelah kepergian Sarah, tak butuh waktu lama untuk Surya tetap bertahan. Kematian Sarah membuat pria itu semakin terpuruk. Kondisi kesehatannya semakin menurun di dalam tahanan. Penyakit bawaan yang ia derita semakin memperburuk keadaan. Sebab itulah belum sampai satu tahuan Surya di tahan, pria itu pun menyusul sang istri ke surga.
Saat itu, Arsya benar-benar merasa sendiri. Tak memiliki siapa pun.
"Lo yakin mau masuk?" tanya Jimmy lagi begitu sampai di depan rumah Imran.
Tidak menjawab pertanyaan Jimmy, Arsya langsung saja keluar dari mobil. Jimmy turut mengikuti di belakang.
"Assalamualaikum." Arsya mengetuk pintu rumah pakdhe Alisha itu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab orang dari dalam rumah sembari membuka pintu.
"Nak Arsya?" Laras terkejut melihat Arsya datang ke rumahnya.
"Apa kabar, Budhe?" Arsya menyalami Laras dengan mencium punggung tangan wanita itu.
"Ba-baik. Nak Arsya, apa kabar?"
"Alhamdulillah sehat, Budhe. Ehm ... apa Pakdhe Imran ada?"
"Oh ... iya, ada ... ayo, masuk." Laras membuka pintunya lebar-lebar.
Arsya dan Jimmy segera masuk dan duduk di sebuah sofa usang setelah dipersilakan oleh tuan rumah.
"Sebentar, Budhe panggilkan Bapak dulu."
Arsya dan Jimmy mengangguk sopan.
Arsya dan Jimmy langsung berdiri menyambut Imran. "Assalamualaikum, Pakdhe."
"Waalaikumsalam. Apa kabar kamu?" Imran menyalami Arsya dan Jimmy. Dengan gerakan tangan, Imran meminta Arsya dan Jimmy untuk duduk kembali.
"Alhamdulillah sehat, Pakdhe. Pakdhe sendiri bagaimana?"
"Aku juga sehat."
"Maaf, adanya cuma air," ujar Laras menyela. Ia membawa tiga cangkir teh untuk tamunya.
"Terima kasih, Budhe," ujar Arsya. Arsya mengedarkan pandangan, seolah mencari-cari sesuatu di rumah ini.
"Alisha tidak tinggal di sisni lagi," ujar Imran yang paham jika Alisha lah yang dicari mantan suami dari keponakannya itu.
__ADS_1
"Maaf, Pakdhe. " Arsya malu saat Imran tahu apa yang ia pikirkan.
"Sejak kalian resmi berpisah, Alisha pergi untuk memulai kehidupan barunya. Tapi Pakdhe mohon maaf, karena Pakdhe tidak bisa memberi tahumu ke mana Alisha pergi."
Dua tahun yang lalu setelah melalui pemikiran yang panjang, akhirnya Arsya memilih untuk menceraikan Alisha. Seperti kata Jimmy, Alisha berhak bahagia. Dan mungkin bahagia Alisha bukan dengan dirinya.
Arsya tidak ingin menzalimi Alisha dengan meminta wanita itu menunggunya yang sedang berada di dalam tahanan. Sebab itulah Arsya membebaskan Alisha dari ikatan mereka. Meskipun berat, tapi itulah pilihan terbaiknya.
Arya tersenyum getir dengan pengakuan Imran. Di sinilah ia harus memupus harapannya untuk bisa kembali rujuk dengan Alisha.
"Jangan khawatirkan sesuatu yang sudah pasti. Jika Alisha adalah jodohmu, sejauh apa pun kalian terpisah, Allah pasti akan menyatukan kalian kembali. Namun, jika tidak ada lagi jodoh di antara kalian, Allah pun sudah menyiapkan jodoh terbaik bagi kamu maupun Alisha."
"Iya, Pakdhe." Arya memaksakan senyum di bibirnya. Dalam hati kecilnya ia masih berharap bisa berjodoh dengan sang mantan istri.
******
Di kota lain, tempat di mana Alisha tinggal saat ini. Di sana Alisha merasakan kebahagiaan tersendiri.
Ia memulai semua kehidupannya dari awal. Teman, karir, pekerjaan, semua ia miliki saat ini.
Berbekal uang yang diberikan oleh Arsya sebagai nafkah idah, juga uang dari harta gono-gini, Alisha memulai usahanya sendiri dengan memiliki sebuah toko baju busana muslim. Kini ia adalah wanita mandiri dengan pekerjaan yang mapan.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang Alisha, aku akan memberimu waktu untuk berpikir," ujar seorang pria.
Alisha menatap pada Salwa—temannya sekaligus adik dari pria yang saat ini tengah melamar dirinya.
Salwa mengangguk. Tersenyum pada wanita yang ia harapkan bisa menjadi kakak iparnya. "Benar Alisha, aku dan keluargaku, juga Mas Fatih akan menunggu jawabanmu. Tapi jangan lama-lama juga, apa kamu ndak kasian sama Masku yang ganteng ini," ujar Salwa dengan bahasa indonesianya yang medok.
"Kalau bisa tolong dalam tiga hari kabari aku," ujar pria bernama Fatih.
"Tiga hari?" Alisha tentu kaget. Apakah ia bisa mengambil keputusan dalam waktu sesingkat itu.
__ADS_1