
Bab.61
Dua bulan sudah berlalu sejak perpisahan Arsya dan Alisha pagi itu. Jimmy membuktikan ucapannya dengan membuat Arsya sangat sibuk. Banyak tawaran pekerjaan yang ia ambil agar temannya itu bisa segera move on dari sang mantan istri.
Awalnya Arsya menolak kembali ke pekerjaannya, tapi desakan dan bujukan Jimmy agar Arsya tak melulu memikirkan Alisha menjadi alasan terkuat untuk pria itu menurut. Terlebih tawaran yang datang tak sedikit. Dua tahun menghilang rupanya belum membuat pamor seorang Arsyanendra pudar.
Wajah tampan dengan tampilan semakin dewasa dan matang membuat nama Arsya masih bisa diperhitungkan dalam dunia mode. Arsya memang bukan sekadar jual tampang tapi juga talenta yang ada dalam dirinya cukup mumpuni dalam pekerjaan yang ia geluti selama ini.
Bahkan saat ini ketika Jimmy akan kembali lagi ke solo untuk meresmikan cafe hasil kerjasamanya dengan Fatih, ia tak bisa mengajak Arsya ikut serta. Hanya dirinya seorang yang datang ke Solo.
"Pokoknya kamu harus nginep di rumahku, Jim. Selama ini kamu kan selalu nginep di hotel," ujar Fatih saat di mobil. Ia sendiri yang menjemput Jimmy ke bandara.
"Kenapa memangnya?"
"Aku nggak kuat bayar hotel," jawab Fatih.
Tentu langsung ditanggapi Jimmy dengan tertawa lebar. Ia tahu benar siapa Fatih. Tidak mungkin seorang Fatih Ibrahim tidak mampu membayar hotel untuknya menginap, pun kalau Fatih tidak sanggup Jimmy sendiri mampu untuk menyewa hotel berbintang di kota Solo.
"Terserah lo aja tapi gue nginepnya semalam aja. Soalnya gue ada urusan lain juga."
"Siap."
Mereka pun lanjut berbincang dalam perjalanan menuju rumah Fatih yang ada di daerah Laweyan.
Sementara itu di rumah Fatih sudah ada Alisha, yang sejak pagi sudah dijemput Salwa. Saat ini mereka sedang asik memasak bersama untuk acara makan malam.
"Buk, ngapain sih liatin Alisha terus?" protes Salwa pada Wanda—Ibunya.
Alisha yang sejak tadi fokus mengupas bawang sedikit teralihkan dan melihat ke arah Wanda yang disenggol Salwa.
"Ibuk suka melihat Alisha. Sejak pertama kali ketemu kamu, Alisha, Ibuk sudah membatin dan berharap kalau kamu bisa jadi mantu Ibuk. Dan sekarang semua akan jadi kenyataan, kamu jadi mantu Ibuk. Rasanya Ibuk nggak sabar melihatmu dan Fatih bersanding di pelaminan." Wanda tersenyum menatap Alisha.
Sedangkan Alisha sendiri justru hanya menanggapi dengan senyuman. Sebab masih canggung dengan calon ibu mertuanya ini.
Alisha sempat berpikir jika pernikahannya dengan Fatih tidak akan terjadi karena Wanda sempat kaget dan menolak saat tahu status janda Alisha. Dan saat itu Alisha sudah berpasrah, karena ia tak mungkin bisa mengubah masa lalu.
Namun, Tuhan Yang Maha membolak-balikkan hati manusia membuat hati Wanda yang awalnya menolak kini justru menjadi yang paling bersemangat. Wanita setengah baya itu seakan tak sabar ingin Fatih dan Alisha segera menikah. Ibarat kata kalau bisa akad digelar besok pagi, pastilah sudah Wanda lakukan.
"Ish ... Ibuk ini, bilang aja sudah nggak sabar nimang cucu makanya pengen banget Mas Fatih sama Alisha nikah."
"Huss ... kamu ini lho, kalau ngomong suka bener," jawab Wanda meladeni Salwa dengan candaan.
Mereka bertiga pun tertawa bersama.
"O ... ya, Alisha, kamu belum menentukan mahar apa yang kamu minta, bukan?" tanya Wanda.
"Iya, Alisha, kamu belum menentukan mahar apa yang kamu minta. Kalau saranku, kamu minta aja semua yang mahal Alisha. Misalkan rumah tujuh lantai, privat jet, mobil, berlian dan uang tunai satu milyar," sambung Salwa.
__ADS_1
"Lambemu kalau ngomong." Wanda mencubit gemas mulut Salwa yang duduk di sampingnya.
"Alisha sudah mengatakannya pada Mas Fatih, Buk. Alisha juga tidak ingin memberatkan calon suami Alisha perkara mahar."
"Adem sekali Alisha mendengar ucapanmu. Tuh, Salwa, dengerin apa yang Alisha katakan biar kamu juga cepet dapat jodoh."
"Salwa itu udah punya jodoh, Buk."
"Mana buktinya, siapa namanya, mana rumahnya?"
"Nah itu semua Salwa belum tahu, kan Salwa belum pernah sekali pun ketemu jodoh Salwa."
"Wo ... bocah gemblung!" Wanda menjitak kepala Salwa.
Tawa kembali pecah di antara ketiga wanita yang berkumpul di dapur, dan baru berhenti saat Salwa menyadari kedatangan Fatih.
"Mas Fatih," seru Salwa, melambai pada kakaknya.
"Loh, pada ngapain ini. Seru banget," ujar Fatih mendekat.
Alisha dan Wanda sama-sama melihat ke arah Fatih datang.
"Siapa yang kamu ajak, Fatih?" tanya Wanda.
"Ini, Buk, temen Fatih dari Jakarta. Ayo, Jim." Fatih mengajak Jimmy mendekat dan memperkenalkan dengan ibunya.
Jimmy langsung tersenyum pada keduanya sebagai sapaan, karena setelah itu Fatih mengajak Jimmy ke kamar yang akan di tempati pria itu. Selesai menaruh tas bawaannya, mereka lanjut mengobrol di gazebo.
"Aku angkat telepon sebentar," ujar Fatih ketika baru satu menit duduk.
Ditinggal Fatih, Jimmy tak lantas kesepian karena Alisha langsung datang membawakan mereka minuman.
"Diminum, Mas," ujar Alisha. Meletakkan dua gelas air sirop ke atas tikar yang digelar di atas gazebo.
"Terima kasih," jawab Jimmy.
Alisha mengangguk dan akan pergi.
"Bagaimana kabarmu, Alisha?"
Pertanyaan Jimmy membuat Alisha urung melangkah. Ia kembali berbalik dan menjawab, "Alhamdulillah sehat, Mas."
"Aku dengar bulan depan kalian sudah akan menikah?"
"Iya, Mas. Doakan semua lancar."
Jimmy tersenyum. "Apa Fatih tahu soal Arsya?"
__ADS_1
Seketika Alisha tersentak. Tidak ada jawaban selain menggelengkan kepala.
"Arsya sudah banyak berubah, saat ini aku aku sedang membuatnya sibuk untuk bisa melupakanmu."
Alisha terdiam. Ia tidak bertanya atau ingin tahu tentang kabar dan keadaan Arsya, tapi nampaknya Jimmy dengan sengaja mengungkit soal pria itu.
"Dia sangat ingin kembali padamu, tapi sayang kalian tidak lagi berjodoh."
"Sedang ngomongin apa?" tanya Fatih yang muncul tiba-tiba.
Jimmy langsung terdiam, dan Alisha langsung pamit kembali ke dapur. Mereka berdua seakan menutupi jika pernah kenal.
"Aku hanya bertanya di mana kalian kenal karena aku penasaran dan menanyakan apa Alisha benar-benar sadar saat menerimamu?" jawab Jimmy dengan bercanda.
"Kamu pikir aku tidak pantas mendapatkan Alisha?"
Jimmy tertawa, dan Alisha memperhatikannya dari dalam. Perkataan Jimmy mengusik ketenangan batinnya. Sangat mengganggu pikirannya. Hingga ia tak bisa tenang selama berada di rumah Fatih.
Selesai makan malam, Alisha langsung pamit pulang. Diantar oleh Fatih.
"Langsung istirahat, biar besok bisa kembali kerja," ujar Fatih begitu sampai di depan rumah Alisha.
"Terima kasih." Alisha memegang handle pintu, tapi ia ragu untuk keluar. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bicara pada Fatih.
"Mas Fatih ...."
"Ya." Fatih yang sejak tadi melihat pada Alisha langsung menatap wanita itu serius.
"Aku ingin bicara soal mantan suamiku." Alisha harus jujur kali ini. Ia tidak mungkin menutupi semuanya karena pernikahannya akan digelar sebentar lagi.
Kali ini Fatih terdiam. Ia tidak menolak.
Alisha mengumpulkan semua keberaniannya. Ia meremas tas yang ada di pangkuan. "Sebenarnya, Mas Arsya adalah mantan suamiku."
"Aku tahu."
Jawaban singkat Fatih membuat Alisha sangat terkejut. Fatih sudah tahu?
Apakah itu alasan Fatih menolak saat dulu Alisha ingin memberi tahu. Sebab ia sudah tahu lebih dulu.
"Aku baru tahu saat aku melihat Arsya datang pagi-pagi sekali ke rumahmu dua bulan yang lalu. Aku juga merasakan tatapan aneh Arsya padamu setiap kali kalian bertemu. Sejak itulah aku mencari tahu soal Arsya."
Fatih bukanlah orang yang suka melihat acara gosip atau penikmat dunia mode, sebab itulah ia tidak pernah tahu siapa itu Arsyanendra Bagaspati. Barulah ketika ia curiga dengan sikap Arsya, ia mencari tahu semua tentang pria itu.
"Jadi Mas Fatih sudah tahu?"
Fatih mengangguk. "Dia hanya masa lalu, karena aku adalah masa depanmu."
__ADS_1
Ucapan Fatih benar, tapi kenapa Alisha sulit sekali tersenyum menerima. Akhirnya hanya senyum yang dipaksakan yang tersungging di bibirnya sebelum wanita itu pamit dan masuk ke rumah.