Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 46 Serasa Tak Dianggap


__ADS_3

"Bagaimana kabar papa, Sya?" tanya Sarah yang duduk bersandar di atas ranjang.


"Papa sehat, Ma. Mama nggak usah mikirin Papa. Yang harus Mama pikirkan itu kesehatan Mama."


Sehari setelah memenuhi panggilan polisi, Arsya kembali ke vila. Selain menjenguk mamanya ia juga ingin memastikan jika mamanya tidak tahu berita apa pun tentang dirinya.


Statusnya masih menjadi saksi, tapi tidak menutup kemungkinan akan naik menjadi tersangka. Sebelum itu terjadi ia ingin bertemu dengan mamanya terlebih dulu. Ada kekhawatiran tersendiri dalam benak Arsya jika dirinya nanti menjadi tersangka sementara mamanya sedang sakit.


"Nggak bisa, Sya. Bagaimana Mama bisa tenang kalau Papa masih berada di dalam tahanan. Siapa yang akan menjaga papa. Yang perhatikan makannya, yang siapkan obatnya. Papamu itu kalau nggak disuruh nggak mau rutin minum obat." Sarah tak kuasa menahan tangis mengingat suaminya.


"Ma ...." Arsya meraih tangan Sarah dan menggenggamnya. "Papa baik-baik saja di sana, ada Om Hotman yang sering datang, ada Anton juga yang mantau obat-obatan Papa. Mama nggak usah khawatir."


"Tapi sampai kapan papa ada di sana?"


"Arsya tidak tahu, Ma, tapi Om Hotman sedang mengusahakan yang terbaik untuk papa agar bisa secepatnya keluar."


Sarah terus saja menangis sehingga Arsya tak tega meninggalkan mamanya begitu saja. Awalnya ia hanya ingin melihat mamanya sebentar lalu kembali lagi ke Jakarta. Namun, melihat kondisi mamanya ia tak tega.


Akhirnya, Arsya memilih menemani Sarah hingga wanita itu tertidur. Barulah nanti ia akan pergi. Sejak didera masalah Arsya tak bisa punya waktu tenang menemani Sarah.


Begitu Sarah tertidur, Arsya pergi mencari Alisha. Ia harus berterima kasih karena telah membantunya menjaga sang mama.


Arsya pergi ke kamarnya, tapi tak menemukan Alisha di sana. "Mungkin ada di dapur," gumam Arsya.


Ternyata ia salah, sampai di dapur ia tak mendapati Alisha di sana. Bingung karena tidak tahu di mana istrinya, Arsya yang sejak datang belum minum memilih untuk minum lebih dulu. Kebetulan sekali ada susu di atas meja. Terlihat masih penuh, berarti belum diminum oleh siapa pun. Tanpa pikir panjang Arsya segera meneguknya hingga habis.


"Mas ...."

__ADS_1


Kaget. Spontan Arsya menoleh. Ia hampir saja tersedak karena panggilan dari Alisha.


"Itu ...." Alisha menunjuk gelas di tangan suaminya.


Arsya yang bingung, mengikuti arah pandang Alisha yang jatuh pada gelas di tangannya. "Ini?"


Alisha mengangguk.


"Oh ... aku haus, aku lihat ini belum ada yang minum jadi aku minum saja. Memang ini punya siapa?" Arsya mengacungkan gelas kosong di tangannya.


"I-itu punyaku, Mas, tapi ...."


"Punya kamu, ya udah nggak apa-apa. Kamu bikin lagi aja."


"Tapi, Mas, itu susu ...."


Alisha tidak tahu lagi harus berkata apa. Tidak mungkin mengatakan pada Arsya jika yang diminum olehnya tadi adalah susu untuk ibu hamil.


Alisha masih dalam mode bingung ketika Arsya bertanya, "Bagaimana kabarmu?"


"A-aku, sehat, Mas."


"Syukurlah." Arsya merangkul Alisha dan menuntunnya ke kamar.


Alisha menurut saja tapi matanya tak lepas dari tangan Arsya yang ada di pundaknya. Wanita itu tak fokus pada apa yang Arsya tanyakan sambil jalan. Bahkan ketika mereka sudah sampai di kamar dan Arsya membawanya duduk di sofa, mata Alisha terus saja terpaku pada tangan suaminya.


"Bagaimana, apa kamu melihat berita tentangku?" Tak mendapatkan jawaban dan justru melihat Alisha yang nampak aneh. Arsya kemudian memanggil, "Alisha."

__ADS_1


Masih sama. Arsya pun sadar di mana fokus istrinya berada. Ia segera melepaskan tangannya dari pundak Alisha. "Maaf," ujarnya.


Bagai lepas dari hipnotis ketika Arsya menurunkan tangannya, Alisha langsung menatap mata Arsya. "Ta-tadi Mas Arsya tanya apa?"


Arsya mengembuskan napas kasar. Rupanya tak ada satu pun perkataannya yang di dengar Alisha. Apakah istrinya itu masih takut dengannya. Bukankah sebelumnya sudah menjadi hal biasa ia memeluk atau mengecup pipi Alisha. Lalu kenapa kali ini dirangkul saja respon Alisha kembali aneh.


"Mas ...."


Kini Arsya yang bingung.


"Ah ... ya."


"Mas Arsya tadi tanya apa?"


"Oh ... itu, kamu lihat berita tentang aku, nggak?"


Alisha mengangguk. Mendadak rasa sedih mencuat dalam hati, tapi ia tetap diam. Tak ada kalimat tanya yang terlontar dari bibir wanita itu.


"Aku hanya ingin kamu memastikan jangan sampai Mama melihatnya juga. Apa pun yang ada dalam berita itu abaikan saja."


"Termasuk vidio Mas Arsya dengan artis itu?"


Arsya terdiam. Bukan tipenya menjelaskan hubungannya dengan seorang wanita pada wanita lain. Namun kini yang bertanya adalah wanita yang berstatus istrinya.


"Ya," jawab Arsya.


Sebuah jawaban egois yang membuat Alisha memaksakan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Bagaimana tidak, perintah untuk mengabaikan vidio yang berisi keintiman antara suaminya dan wanita lain tentulah bukan hal mudah. Hatinya mendadak sakit dan kecewa. Serasa tak dianggap.

__ADS_1


__ADS_2