Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 83 Inget aku, nggak?


__ADS_3

Arsya benar-benar sudah takluk pada pesona Alisha. Wanita yang menjadi istrinya untuk kedua kali itu membuat Arsya mabuk kepayang hingga tak mampu berpaling.


"Beneran, nggak apa-apa?" tanya Arsya di depan pintu rumah.


"Ish ... Mas Arsya apaan sih, udah sana berangkat. Udah ditunggui Mas Jimmy, tuh." Alisha sedikit mendorong tubuh Arsya.


Tapi yang didorong justru tak bergerak. "Maaf ya, belum bisa ajak kamu ke acara publik." Jelas sekali tergambar rasa menyesal di raut wajah Arsya. Ada rasa bersalah pergi tanpa mengajak Alisha.


"Iya ... Mas, iya ...." Sudah berkali-kali Arsya mengungkapkan alasan kenapa dirinya tak diajak. Alisha menerima itu dengan baik, sebab ia pun lebih suka hidupnya tidak diusik media. Justru Alisha sangat berterima kasih karena Arsya sudah mengambil keputusan tepat.


Kalaupun harus mengumumkan pernikahan mereka kembali, mungkin tidak dalam waktu dekat.


"Tuh, Mas Jimmy pasti ngamuk," sambung Alisha karena Jimmy mulai membunyikan klakson berulang-ulang. Tentunya untuk memanggil Arsya.


"Aku berangkat, ya."


Alisha mengangguk. "Hmm ...." Ia mencium punggung tangan suaminya sebelum pergi.


Sudah berpamitan tapi Arsya tak mau melepaskan tangan Alisha. Ia masih erat menggenggam tangan sang istri.


Bunyi klakson terdengar kembali, semakin tidak sabar karena Arsya belum juga naik.


Untuk mengusir Arsya agar segera pergi, Alisha melepaskan tangannya dari genggaman Arsya. Ia cium pipi sang suami. "Semoga urusan Mas Arsya dilancarkan. Aku tunggu di kamar," bisik Alisha.


Rupanya kalimat itu ampuh untuk mengusir Arsya. Senyum semangat pria itu mengakhiri adegan romantis-romantisan mereka.


Sebelum naik ke mobil, ia lebih dulu mengecup kening Alisha. Sudah menjadi kebiasaan baginya berpamitan dengan cara mengecup kening dan pipi istrinya.


"Lama banget sih, lo!" omel Jimmy, yang langsung mengemudikan mobilnya.


"Makanya punya istri biar tahu kenapa gue lama banget," jawab Arsya sembari memasang sabuk pengaman.


Jimmy mencibir, tatapannya pun sinis.


Melihat ekspresi Jimmy, tak puas kalau tidak semakin membuat kesal temannya itu. "Susah kalau ngomong sama jomlo, nggak ngerti urusan suami-istri!"


"Bisa diem nggak, lo, Bang sat!" Jimmy terpancing. Emosinya mulai meninggi, tapi Arsya suka melihat itu sampai tawanya menggelegar.


Merasa dipermainkan, Jimmy semakin memacu mobilnya dengan cepat. Mobil itu diarahkan menuju sebuah hotel berbintang.

__ADS_1


"Woy ... pengen mati, lo!" teriak Arsya berpegang erat pada sabuk pengaman.


Jimmy tersenyum menang. Suka melihat Arsya yang kini panik. Bukannya memperlambat laju, Jimmy sengaja membawa mobilnya ugal-ugalan sampai ke lokasi yang dituju. Karena tempat yang dituju berada di tengah kota, sangat mudah untuk Jimmy sampai ke tempat acara.


"Bener-bener keterlaluan, lo!" Arsya keluar dari mobil dengan penampilan yang berbeda dari ketika dia berangkat. Cara Jimmy membawa mobil membuat penampilannya sedikit tak karuan.


Melihat tampilan modelnya sedikit berantakan, Jimmy justru nyengir. Tapi ia juga bertanggung jawab membantu Arsya merapikan penampilannya.


"Perfect!" ujar Jimmy setelah membantu Arsya.


Mereka berdua masuk ke dalam hotel. Langsung menuju ballroom, tempat acara launching produk skincare yang menggunakan Arsya sebagai model.


Rupanya sudah banyak tamu yang hadir. Sang empunya hajat yakni si pemilik produk, Nita Paramitha menyambut Arsya dan Jimmy dengan ramah.


"Selamat malam," sapa Nita. Wanita yang berusia lebih dari empat puluh itu menyapa dengan senyum ramah.


"Selamat malam." Jimmy menyalami lebih dulu, bahkan mencium pipi wanita itu seakan mereka begitu akrab.


"Selamat malam." Giliran Arsya menyapa. Ia hanya menyalami saja, tidak ada cium pipi seperti yang dilakukan Jimmy.


"Saya sudah melihat hasil pemotretannya, dan saya sangat suka. I think it's perfect. Semoga produk ini laku di pasaran," ujar Nita.


"Tentu saja, Tante, sebagai model kami akan membantu promosi besar-besaran lewat akun media sosial kami," jawab Jimmy.


Nita menoleh pada pria yang berdiri di sampingnya. "Siapa?"


"Anggi."


Nita langsung sumringah mendengar nama Anggi disebut.


Sebelum pamit pada Jimmy dan Arsya, ia sempatkan untuk mengenalkan pria di sampingnya. "Jim, kenalkan ini suami Tante. Ini Jimmy, Pa, yang bantu Mama cari model."


"Jimmy, Om." Jimmy mengulurkan tangan.


"Gunawan," ujar suami Tante Nita.


Dari Jimmy, Om Gunawan beralih menyalami Arsya.


"Ok, Jim, Sya, Tante tinggal dulu, ya. Kalian nikmati dulu hidangannya, ok."

__ADS_1


"Siap, Tante!" jawab Jimmy.


Setelah Nita dan Gunawan pergi, seperti kata yang punya acara. Jimmy mengajak Arsya untuk menikmati hidangan dulu. Juga menyempatkan diri menyapa beberapa tamu yang mereka kenal.


Tak lama, acara pun dimulai. Satu persatu acara dilewati. Mulai dari pengenalan produk juga pengenalan brand ambassador yakni Arsya, semua berjalan lancar. Wajah tampan Arsya mampu memukau semua mata yang memandang ketika pria itu naik ke atas panggung.


Dengan gaya bicara yang santai tapi sopan, Arsya seakan membius tamu undangan yang hadir. Pesonanya masih bisa diandalkan untuk menarik perhatian banyak orang.


Dari semua mata yang memandang, ada seorang yang begitu terpesona. Matanya terus tertuju pada Arsya tanpa beralih sedikitpun.


"Liatin siapa?" tanya Gunawan.


"Ih ... Papa, bikin kaget saja."


"Habis kamu ngeliatnya aneh banget. Papa jadi penasaran."


Gadis bernama Anggi tersenyum malu pada papanya.


"Model itu ya? tampan juga." Gunawan berbicara seolah menebak siapa yang sejak tadi mencuri perhatian putrinya.


"Pa ...!" pekik Anggi malu.


Gunawan merangkul Anggi. "Putri Papa sudah besar rupanya."


Dalam dekapan papanya, Anggi tersenyum bahagia.


"Kamu suka?" tanya Gunawan tiba-tiba.


Anggi menatap papanya. "Maksud, Papa?"


"Kalau kamu suka, bilang sama Mamamu. Pasti dibantu. Dia brand ambassador produk Mama kamu, kan."


"Anggi bisa sendiri, Pa." Dengan percaya diri, Anggi meyakinkan papanya.


Benar saja, usai acara Anggi membuktikan ucapannya. Dia bisa sendiri mendekati pria tanpa bantuan orang tuanya.


Anggi menghampiri Arsya yang sedang menunggu Jimmy. Arsya tidak sabar untuk segera pulang karena Alisha sudah menunggu di rumah. Sebab itu ia tidak mau lama berbasa-basi dengan banyak orang.


Namun, lain halnya dengan Jimmy. Pria itu justru banyak berbincang dengan tamu. Karena bisa memperluas kolega demi pekerjaannya.

__ADS_1


"Hai ...," sapa Anggi yang sudah berdiri di samping Arsya. "Inget aku, nggak?"


Menoleh pada gadis yang mengajaknya berbicara, Arsya mulai berpikir kala mendapat pertanyaan dari gadis di sampingnya.


__ADS_2