
"Al, apa hubunganmu dengan Arsya baik-baik saja?" tanya Mbak Ratih di sela-sela pekerjaan mereka menyiapkan gaun yang akan mereka bawa ke acara wedding festival. Setelah waktu itu mereka mensurvey tempat, kini mereka bersiap untuk apa yang akan mereka tampilkan.
"Maaf, bukannya Mbak mau ikut campur urusan pribadi kamu, tapi Mbak merasa ikut bersalah jika benar itu terjadi," sambung Mbak Ratih.
"Semua baik, kok, Mbak," bohong Alisha.
Mbak Ratih berjalan mendekati Alisha. "Kalau kamu butuh teman untuk berbagi cerita, Mbak siap untuk jadi teman kamu, Al. Mbak sudah menganggap kamu seperti adik Mbak sendiri." Mbak Ratih sampai mengusap lengan Alisha untuk meyakinkan.
"Jujur saja saat tahu Arsya melecehkan kamu malam itu, Mbak sangat merasa bersalah. Jadi, jika terjadi apa-apa dengan pernikahan kamu dan Arsya, Mbak merasa ikut bertanggung jawab," imbuhnya.
"Mbak Ratih nggak usah khawatir, aku dan Mas Arsya baik-baik saja kok," ulang Alisha.
"Terus soal gosip dan foto-foto itu?" Mbak Ratih penasaran.
"Mbak kan sudah lihat konfirmasi Mas Arsya kemarin. Tidak ada hubungan apa pun antara Mas Arsya dengan Mbak Sherly."
"Syukurlah kalau begitu."
Alisha mengukir senyum. Menyimpan semua lukanya sendiri.
Setelah semua siap, Alisha meminta rekan kerjanya untuk membantu memindahkan barang-barang yang akan mereka bawa ke wedding festival. Mbak Ratih dan Alisha berangkat lebih dulu karena mereka akan melaksanakan acara gladi resik sebelum pagelaran di buka esok hari.
Sampai di sana, rupanya para model sudah berkumpul. Banyak model yang hadir karena event ini diikuti oleh beberapa designer. Termasuk Mbak Ratih.
Di backdrop tanpa sengaja Alisha bertemu lagi dengan salah seorang teman Arsya. pria yang dulu pernah menggodanya ketika Mbak Ratih menggunakan jasa pria itu untuk menampilkan hasil rancangannya.
"Hai," sapa Riko untuk menghentikan langkah Alisha.
Alisha hanya mengangguk sopan tak ingin menanggapi sapaan Riko. Saat ia ingin berlalu, pria itu mencekal tangan Alisha agar berhenti yang lantas dihempaskan Alisha secara spontan.
"Gue hanya menyapa, dan lo diem saja."
"Maaf, saya sedang sibuk," jawab Alisha dan akan kembali pergi. Kali ini Mbak Ratih tidak bekerja sama dengan model bernama Riko ini, jadi tidak ada alasan baginya berlama-lama dengan teman suaminya.
Riko pun membiarkan Alisha pergi. "Nggak berubah," lirih Riko pada dirinya sendiri saat Alisha sudah pergi. "Menarik." Senyum menyeringai tersungging di bibir pria itu.
__________________
"Lama-lama gue ngerasa lo makin gila, Sya," ujar Jimmy saat baru masuk ke apartemen Arsya.
Arsya hanya mengulas senyum. Sudah hal biasa baginya mendengar ejekan dari manajernya tersebut. Ia segera menaruh goodie bag yang berisi botol-botol minuman di atas meja dan berlalu ke kamar.
__ADS_1
"Sya, lo yakin mau pesta di sini?" teriak Jimmy.
Setelah mendapat kabar bahwa ia kembali mendapatkan tawaran pekerjaan Arsya langsung mengajak Jimmy merayakannya di apartemen miliknya.
"Yo!" seru Arsya dari dalam.
"Gimana kalau istri lo pulang?" Jimmy masih saja berteriak.
Ruangan itu mendadak hening. Barulah ketika Arsya keluar dari kamar dan sudah berganti baju ia menjawab, "Malam ini dia nggak pulang."
"Kabur maksud, lo!" Mata Jimmy membelalak.
"Kabur ... kabur!" sungut Arsya. "Dia nginep di rumah pakdhenya," jelas Arsya yang baru saja kembali dari dapur dan membawa dua gelas kosong untuk mereka minum. Satu gelas ia ulurkan pada Jimmy.
"Ya, kali aja dia kabur. Sebab kalau gue di posisi Alisha, sudah pasti gue kabur dari suami brengsek seperti lo," ujar Jimmy menerima gelas dari Arsya.
Kembali Arsya nyengir mendengar teman sekaligus manajernya itu selalu mengatainya pria brengsek. Ia pun membuka botol minuman yang ia bawa dari luar tadi. Menuangkan isinya ke gelas miliknya juga milik Jimmy.
Masih dengan senyum tersungging di bibirnya, Arsya mengajak Jimmy bersulang. "Demi kebangkitan karir gue," ujarnya percaya diri.
Jimmy menyambutnya meski ia geleng-geleng kepala dengan sikap Arsya.
"Cheers." Arsya menautkan gelasnya dengan gelas Jimmy hingga terdengar dentingan ketika gelas beradu.
"Lo tu, harusnya berubah. Sekarang lo udah punya istri. Pikirin kek istri lo, jangan cuma mikir diri lo sendiri aja," ujar Jimmy dengan bijaknya.
"Nggak usah lo mikirin kehidupan gue, lo pikirin diri lo sendiri aja. Pikirin tuh gimana caranya biar lo cepet dapat jodoh. Kayaknya makin lama lo makin perhatian ama istri gue," jawab Arsya santai.
"Kalau boleh jujur ya, Sya. Jujur gue memang tertarik sama istri lo. Gue ngerasa gue harus melindungi dia dari suami bajingan kayak lo!"
Arsya tersenyum sinis menatap Jimmy. Tak ada gurat bercanda pada mimik wajah yang ditunjukkan Jimmy ketika membahas istrinya. "Dia udah gue pakai, lo mau?" ujar Arsya.
Jimmy mengembuskan napas perlahan. "Alisha bukan baju yang bisa lo pakai terus lo pamerin ke orang -orang kalau lo pernah makai dia. Dia seorang istri, Sya. Kalau dia jadi janda, gue dengan senang hati bakal nerima dia. Karena gue tahu, bagaimana di menjaga kehormatannya. Dan status janda itu bukan masalah besar buat gue."
"Serius banget sih lo, jawabnya. Tapi gue saranin ya, mending lo cari janda orang lain aja. Gue nggak ada niat buat cerai dari Alisha." Kesal juga mendengar kejujuran manajernya.
"Satu hal lagi, gue saranin lo buat diruqyah. Ada setan tuh di hati lo," imbuh Arsya.
Jimmy yang tadinya menatap hampa, langsung menoleh. "Maksud lo, apa!"
"Mana ada seorang laki-laki suka sama wanita yang udah punya suami kalau dia nggak lagi kerasukan setan."
__ADS_1
"Sialan, lo!" Jimmy melempar bantal sofa tepat mengenai kepala Arsya. Dan ditanggapi oleh Arsya dengan tawa terbahak.
Jimmy bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur. "Dapur lo sekarang lengkap banget. Alisha masak emang?"
"Hemm," jawab Arsya sekedarnya sebab ia sedang fokus pada ponselnya.
"Gue makin nggak rela kalau lo yang harus jadi suami Alisha, Sya. Kalau gue punya alat buat mengubah takdir, gue pengen Alisha buat gue aja. Dia terlalu baik buat lo," ujar Jimmy yang baru kembali dari dapur. Ia membawa banyak camilan yang ia ambil dari dalam kulkas.
Nampaknya Arsya tak mendengar apa yang Jimmy katakan sebab pria itu tak merespon apa pun. Malah terlihat sibuk mengetikkan sesuatu dalam ponselnya.
"Lo tuh lagi chat sama siapa sih?" tanya Jimmy karena merasa diabaikan.
Arsya menoleh. Belum juga ia menjawab pertanyaan manajernya dering ponselnya kembali mengalihkan perhatiannya. Jimmy menangkap raut kaget di wajah sang model. Dan lebih heran lagi ketika Arsya memintanya untuk diam dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir pria itu. "Sttt ...."
"Ya," sapa Arsya menjawab panggilan.
Terdengar suara mendayu di seberang sana menanyakan kabar Arsya.
"Ehm ... gue, baik," jawab Asya gugup. Arsya kembali mendengarkan apa yang orang diseberang sana katakan.
"Bisa ... bisa, kapan?" jawab Arsya terdengar antusias.
"Ok, bye ...." Arsya memutuskan panggilan telepon itu.
"Siapa?" tanya Jimmy penasaran. Sebab ekspresi yang ditunjukkan Arsya.
"Cinta."
"Cinta?"
Arsya mengangguk.
"Cinta Maurisa?"
"Hemm." Terlihat senyum sumringah di bibir Arsya.
"Lo mau ketemu dia?"
"Of course."
"Jangan main api lo kalau lo nggak mau terbakar," ujar Jimmy mengingatkan.
__ADS_1
Namun tak digubris oleh Arsay karena pria itu sedang begitu bahagia mendengar wanita bernama Cinta mengajaknya ketemuan.