Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.30 Wangi Yang Mengusik


__ADS_3

"Aku akan pergi, kamu tidak apa-apa 'kan, kalau ditinggal sendiri?" tanya Arsya yang sudah rapi.


"Iya," lirih Alisha dari atas ranjang.


"Istirahatlah, tidak usah melakukan pekerjaan apa pun, kalau ada sesuatu hubungi aku," pesan Arsya.


Alisha mengangguk.


Suaminya itu pun pergi dengan meninggalkan semerbak wangi yang mengusik indera penciuman Alisha. Aroma dari BVLGARI Pour Homme yang sangat segar membuat Alisha menghirup dalam-dalam wangi yang ditinggalkan oleh Arsya.


"Ish ... apaan, sih." Alisha menepuk kepalanya sendiri.


Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Arsya menyiapkan teh hangat untuknya tadi, yang baru ia minum sedikit. Pria itu juga membantunya ijin pada Mbak Ratih untuk tidak bekerja hari ini.


Setelah makan, Alisha merasa kondisinya jauh lebih baik. Rasa mualnya berkurang, juga lemas yang ia rasakan. Tubuhnya sudah memiliki tanaga lagi, tapi seperti pesan Arsya, ia lebih baik istirahat dulu sampai benar-benar pulih. Sebab itulah ia habiskan hari ini di atas ranjang.


Tepat di jam makan siang, bel apartemen berbunyi. Alisha bertanya-tanya tentang siapa yang datang. Kalau Arsya tidak mungkin ia memencet bel, pria itu pasti akan langsung masuk. Ia bergegas mengambil hijab dan mengenakannya.


Sebelum membuka pintu ia melihat dari door viewer siapa yang datang. Melihat mertuanya yang berdiri di depan pintu, Alisha segera membuka pintu tesebut.


"Assalamualaikum," sapa Sarah begitu Alisha membuka pintu.


"Waalaikumsalam, Ma." Alisha meraih tangan mertuanya dan menciumnya.


"Masuk, Ma."


Sarah tersenyum. "Bagaimana keadaan kamu?" tanya Sarah. "Arsya bilang kamu sedang tidak enak badan, dan minta Mama untuk antar makanan buat kamu." Sarah mengangkat goodie bag berisi makan siang yang ia persiapkan untuk menantunya.


"Sudah lebih baik, Ma," jawab Alisha.


"Belum makan siang, kan?"


Alisha menggeleng.


"Ayo, Mama tadi minta Sumi buat masak sup dan juga nasi lembek buat kamu." Sarah membawa goodie bag itu ke meja makan dan mengeluarkan rantang makanan dari sana.

__ADS_1


"Biar Alisha saja, Ma." tawar Alisha ketika Sarah akan mengambil mangkok.


"Tidak usah, kamu duduk saja, biar Mama yang ambil." Sarah mengambil mangkok itu sendiri untuk memindahkan sup juga nasi agar Alisha dengan mudah memakannya.


Melihat ketulusan Sarah, hati Alisha mencelos. Bagaimana bisa ia meminta cerai di saat ia mendapatkan ibu mertua sebaik Sarah. Lalu bagaimana pula perasaan Sarah nanti jika tahu pernikahan putranya hanya seumur jagung.


"Makanlah, mumpung masih hangat. Ini akan memberimu tenaga dan membuatmu cepat pulih." Sarah menata makanan itu di depan menantunya. Ibu mertuanya itu juga tak lupa mengambilkan minum untuk Alisha. Sampai Alisha sendiri malu, bukannya ia yang menjamu ibu mertuanya yang datang justru ia yang dilayani seperti ini.


"Aku akan menunggumu makan dan memastikan jika kamu menghabiskan semuanya. Pokoknya harus habis dan nggak boleh disisain biar kamu cepet sembuh," ujar Sarah dengan penekanan tapi senyum di bibirnya terus tersungging.


Alisha ikut tersenyum melihat ibu mertuanya yang bersemangat. Ia pun mulai menyendok sup yang sengaja dimasak untuknya itu. Pada suapan pertama, Alisha merasakan kenikmatan dalam kuah sup yang Sarah bawa. Rasanya ingin menyuap lagi dan lagi.


"Bagaimana, enak, kan?"


"Hmm ...." Alisha mengangguk.


Sarah nampak lega melihat Alisha menikmati makanan yang ia bawa. "Ya sudah habiskan. Mama nggak mau disalahin Arsya kalau kamu nggak mau makan. Kata Arsya kamu tadi pingsan."


Alisha sedikit kaget mendengar jika Arsya menceritakan kejadian tadi pada mamanya.


"Iya, Ma."


"Mama tidak melarang kamu bekerja, tapi apa tidak sebaiknya kamu berhenti bekerja untuk sementara. Mungkin saja penyebab kamu pingsan adalah kelelahan," ujar Sarah yang membuat Alisha semakin fokus pada ibu mertuanya itu.


"Tapi, Alisha sudah nyaman dengan pekerjaan ini, Ma. Lagi pula kalau Alisha hanya di rumah pasti akan sangat membosankan karena tidak ada yang bisa Alisha lakukan. Mas Arsya juga sering ke luar kota untuk pekerjaannya." Alisha mencoba menjelaskan sekaligus mengungkapkan apa yang ada di benaknya.


"Itu benar, pasti kamu akan kesepian jika tinggal di sini sendirian kalau Arsya pergi. Bagaimana kalau sewaktu Arsya pergi kamu menginap di rumah saja. Di sana ada Mama yang akan menemani kamu ...." Sarah menjeda sejenak ucapannya sekadar untuk mengambil napas.


"Sebenarnya tujuan Mama kalau kamu berhenti bekerja itu, supaya kamu punya banyak waktu untuk mempersiapkan kehamilanmu."


"Apa!" pekik Alisha tak dapat menahan diri, tapi segera ia menutup mulutnya sendiri dan berkata, "Maaf, Ma."


Sarah justru menanggapinya dengan senyum. Memahami kekagetan menantunya. "Sejujurnya, Mama sangat bahagia ketika Arsya menikah dengan mu, meski apa yang Arsya lakukan sebelumnya pada kamu adalah sebuah kesalahan dan dosa. Tapi, di sisi lain, Mama bahagia Arsya menemukan istri yang tepat seperti kamu. Mama juga berharap kamu dan Arsya memiliki keturunan."


Alisha semakin bingung. Kenapa mendadak ibu mertuanya membicarakan soal anak di saat ia ingin berpisah saja dari suaminya. Lagi pula, rasanya ia belum siap untuk miliki anak.

__ADS_1


"Ma, Mama jangan bicara begitu. Alisha takut tidak bisa menjadi menantu seperti yang Mama inginkan. Alisha takut mengecewakan Mama."


"Eh ... kamu ngomong apa, sih. Mama sayang sama kamu. Mama juga menyukai kamu, jadi tidak ada alasan bagi Mama untuk kecewa sama kamu. Apa yang Mama katakan tadi jangan kamu jadikan suatu beban. Mama hanya mengutarakan saja keinginan Mama sebagai orang tua yang anaknya sudah menikah, yaitu memiliki cucu, tapi kalau pun Allah belum memberi, kamu jangan berkecil hati. Kalian masih muda, masih banyak waktu untuk berusaha. Karena itu lah Mama menyarankan agar kamu berhenti bekerja dulu saja untuk sementara. Itu pun jika kamu mau, kalau pun tidak, Mama tidak akan marah. Mama tidak akan mengekang kamu harus terus berada di rumah, karena Mama yakin kamu menyukai apa yang kamu kerjakan sekarang."


Kenapa Sarah begitu baik. Membuat Alisha semakin tak bisa jika tidak memikirkan perasan wanita itu. Terlebih setelah selesai makan, Sarah masih mau menemaninya sampai Arsya pulang.


"Mama pulang, ya. Jaga istrimu baik-baik," pesan Sarah pada putranya.


"Hemm," jawab Arsya.


"Mau Alisha antar, Ma."


"Nggak usah, Mama bisa sendiri. Kalau masih mual dan pusing besok periksa ke dokter ya, jangan didiemin saja. Sakit itu harus diobati." Sarah mengusap lengan Alisha.


"Iya, Ma."


Setelah kepergian Sarah, Arsya menutup pintu apartemennya. Alisha yang berdiri di sampingnya terlihat memejamkan mata. Menikmati sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia inginkan.


"Kamu kenapa?" tanya Arsya.


Sontak Alisha membuka matanya. Tersenyum canggung pada pria di sampingnya. Ia pun segera berlari ke kamar. "Tidak apa-apa," jawabnya sambil lalu. Akan sangat malu jika ketahuan ia sedang menikmati aroma parfum Arsya.


Arsya sendiri hanya mengedikkan bahu lalu menyusul istrinya ke kamar. Setelah beraktifitas seharian di luar, ia merasa harus membersihkan diri. Usai mandi ia yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, menghampiri Alisha yang tengah duduk bersandar di atas ranjang.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Arsya sembari mengusap rambutnya dengan handuk kecil.


Alisha yang tadi sibuk dengan ponselnya mengalihkan perhatiannya pada Arsya yang sekarang berdiri di hadapannya. Terkejut dengan keadaan Arsya saat ini, Alisha jadi bingung harus mengalihkan perhatiannya ke mana.


"Su-sudah lebih baik," jawab Alisha gugup sekaligus malu melihat Arsya yang setengah naked.


"Baguslah." Arsya berlalu begitu saja meninggalkan Alisha yang kebingungan dengan dirinya sendiri.


Masih di atas ranjang, Alisha segera memegangi dadanya. Jantungnya berdegub tak karuan. Belum lagi aroma yang sempat menguar dari tubuh segar Arsya, membuat ia ingin sekali menghirupnya dalam-dalam.


Berkali-kali ia menepuk-nepuk kepalanya seolah menyadarkan diri jika apa yang ia lakukan saat ini adalah kesalahan. Namun, Alisha tak bisa menolak wangi tubuh Arsya.

__ADS_1


Terlebih ketika pria itu keluar dari walk in closet dalam keadaan yang sudah rapi dan wangi. Meski hanya menggunakan kaus dan celana selutut, baru kali ini Alisha merasa penampilan Arsya begitu menarik indera penglihatannya.


"Ish ... apa sih yang aku pikirkan?" batin Alisha menolak semua yang ada di pikirannya.


__ADS_2