
Dua hari sudah Arsya pergi tanpa kabar. Sebagai istri, meski Alisha khawatir tapi tak bisa berbuat apa pun. Bahkan meminta nomor Arsya pada mertuanya pun Alisha sungkan. Ia lebih memilih diam dan menunggu.
Hanya doa yang bisa ia kirimkan untuk pria itu. Semoga selalu dalam lindungan-Nya.
Baru saja Alisha menyelesaikan salat isya dan melepas mukenanya. Ia dikagetkan dengan kedatangan Arsya. Pria itu masuk tanpa salam apa lagi mengetuk pintu. Alisha yang kala itu sudah terlanjur melepas mukena langsung kalang kabut mencari di mana ia tadi menaruh kain penutup kepala berwarna hitam miliknya.
Entah mengapa, Alisha masih belum terbiasa tanpa hijab di depan Arsya. Padahal pria itu sudah sah menjadi suami dan pernah melihat dirinya tanpa hijab sebelumnya, tapi tetap saja masih ada rasa malu dari diri Alisha atau lebih tepatnya rasa takut yang membayang dalam otaknya tentang kelakuan Arsya yang dulu melepas hijabnya secara paksa.
"Lo cari, ini." Arsya yang langsung duduk di sofa tempat biasa ia tidur menunjukkan kain hitam yang Alisha cari.
Alisha menoleh, menatap kain hitam di tangan suaminya. Kemudian mengangguk perlahan.
Tangan Arsya yang terulur membuatnya berjalan pelan untuk mengambil hijab dari tangan Arsya. Bukannya langsung memberikan, Arsya justru menarik kembali tangannya ketika Alisha hendak mengambil hijab tersebut. Seakan mempermainkan.
Tatapan Arsya yang tanpa kedip itu membuat Alisha seketika gugup. Ia menunduk saat pria itu tiba-tiba berdiri mendekatinya.
Jantung Alisha berdebar lebih cepat, lebih dari kebiasaan. Dalam hatinya yang menyimpan ketakutan, ia terus berharap semoga Arsya tak melakukan apa pun yang akan membuatnya semakin ketakutan.
Pria itu terus terdiam tapi langkahnya semakin memangkas jarak dan berhenti tepat di depan istrinya. Ia menunduk untuk lebih memperhatikan wajah Alisha. Ketakutan adalah hal pertama yang Arsya tangkap dalam diri Alisha.
Sudah tahu begitu, Arsya bukannya menjauh tapi justru semakin dekat. Tangannya terulur ke belakang kepala, membuat Alisha menelan ludahnya kasar. Ia tak bisa menebak apa yang akan Arsya lakukan.
Rasanya ia ingin lari tapi langkahnya seolah terpaku.
"M-mas ...," lirih Alisha. Masih menunduk.
Arsya tak menjawab, tangan yang sudah berada tepat di belakang kepala Alisha mendadak menarik jepit rambut yang tersemat. Mengurai rambut Alisha yang sebelumnya tergelung.
Spontan, Alisha berteriak, "Jangan!" Napasnya sampai tersengal hanya karena perlakuan Arsya yang dianggapnya menakutkan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arsya tanpa rasa bersalah.
Alisha masih belum bisa berkata-kata, ia masih berusaha mengatur napasnya yang tak karuan.
"Ini di rumah, kenapa tidak dibiarkan begini saja," ujar Arsya memegang ujung rambut hitam Alisha.
"M-mas ...." Alisha tergagap.
"Tidak ada siapa pun di sini, cuma ada kita," ujar Arsya lagi. Kali ini tangannya menyentuh dagu Alisha dan membuat istrinya itu mendongak menatapnya.
"Be-berikan Mas." Tangan Alisha terulur meminta hijabnya.
Awalnya Arsya masih ingin bermain-main dengan ketakutan Alisha, tapi tidak tega juga ketika air mata wanita itu mendadak menetes di punggung tangannya. Arsya menaruh kain hitam yang ia pegang di telapak tangan Alisha.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Alisha berlari secepat kilat ke kamar mandi. Sama seperti sebelumnya ia mengunci pintu itu dan menangis di sana.
Trauma pasca pelecehan tak mudah hilang dari ingatan Alisha. Ikatan suci yang mempersatukan mereka tak mampu menepis segala lara yang pernah tertoreh.
Ketakutan akan sosok Arsya masih begitu kuat menguasai jiwanya. Bayangan-bayangan akan kejadian malam nahas itu bisa saja menyeruak muncul memenuhi otaknya secara tiba-tiba. Menimbulkan ketakutan yang luar biasa dalam diri Alisha. Terutama ketika Arsya mendekatinya.
Pria yang peka dengan kondisi istrinya itu justru tersenyum ketika melihat Alisha berlari ketakutan. Ada rasa senang ketika melihat istrinya ketakutan saat menghadapi dirinya. Tanpa berpikir jika setiap perlakuannya kembali menoreh luka pada jiwa Alisha.
Alisha yang tak kunjung keluar dari kamar mandi membuat Arsya menyusulnya. Tanpa perasaan, pria itu menggedor pintu kamar mandi dengan keras. "Hei, lo ngapain di dalem. Buruan, gue mau mandi!"
Mendengar teriakan Arsya, Alisha segera memakai hijab dan mengusap air mata. Ia keluar setelah membasuh mukanya di wastafel.
Saat pintu terbuka, Arsya sudah menunggu di depan pintu dengan raut kesal. Alisha kembali menunduk saat berhadapan dengan suaminya.
"Gue laper, siapkan makan buat gue!" titahnya bak seorang raja ketika Alisha melewatinya.
__ADS_1
Alisha hanya bisa mengangguk dan berlalu. Karena tidak tahu jika Arsya pulang hari ini, Alisha memang belum memasak apa pun. Lagi pula tadi ia tidak berselera untuk makan.
Ia membuka lemari pendingin, melihat bahan apa yang bisa ia pakai untuk masak menu makan malam untuk suaminya. Ia belum tahu apa selera Arsya, tapi ketika ia membuat nasi goreng waktu itu, Arsya menghabiskannya tanpa sisa.
Hari ini karena ada pasta, Alisha pikir untuk membuat spaghetti saja. Simple dan tidak akan membutuhkan waktu lama.
Tak sampai satu jam Alisha mengolah makanan tersebut. Di saat ia selesai dan siap membawanya ke meja bar. Di sata itu juga Arsya keluar kamar.
Pria itu mencium aroma sedap dari masakan yang Alisha buat. Segera ia duduk di bar stool dan meminta diambilkan minuman.
Sebelum Alisha menyuruhnya untuk mencicipi masakannya, pria itu justru lebih dulu melakukannya. Tak sabar menunggu minumannya datang, Arsya sudah menyendok spaghetti buatan Alisha. Tak ada komen apa pun tentang masakan Alisha. Pun, tak ada pujian untuk wanita yang telah menyiapkan makan malam untuknya.
Selesai membuatkan minum, Alisha mengambil duduk di sofa. Di sana ia menunggui suaminya yang sedang makan.
Tinggal satu rumah tak membuat Alisha dan Arsya menjadi akrab. Mereka bahkan jarang sekali bicara. Mungkin karena alasan yang membuat mereka tinggal bersama tidak pernah mereka inginkan.
Seakan semua hanya sebuah keterpaksaan yang mampu mereka elak.
Sesekali, Arsya melirik Alisha yang duduk di sofa sembari membuka majah. Mungkin pria itu tak menyukai istrinya, tapi tak bisa ia pungkiri jika ia menyukai masakan Alisha. Dari nasi goreng sampai spaghetti, semua Arsya lahap tak bersisa.
Suapan terakhir membuat Arsya kembali menoleh melihat sang istri, di saat itu juga Alisha melakukan hal yang sama. Pandangan mereka bertemu. Beberapa detik yang menjalin tali tak kasat mata di antara keduanya.
Buru-buru, Alisha memutuskan tali tersebut. Tatapannya beralih pada majalah di pangkuannya. Bersikap seolah tidak ada apa pun.
Berkali-kali ia membalik lembaran-lembaran majalah di pangkuannya. Menunggu Asya menyelesaikan makan malamnya.
Hingga ia merasakan embusan napas menerpa kulit pipinya. Membuat bulu kuduknya meremang seketika. Saat ia menoleh sudah ada Arsya yang membungkuk di belakang sofa, menempatkan wajahnya tak jauh dari wajah istrinya.
"M-mas ... Arsya?"
__ADS_1