Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.73 Solusi


__ADS_3

Memutari kota tak membuat kegundahan hati Arsya hilang begitu saja. Sendiri dalam kegamangan justru membuatnya semakin tak tahu harus melakukan apa.


Ia terus mengemudi tanpa arti. Sampai tiba di depan sebuah gapura yang ia kenali. Bisik dalam hati membawanya untuk membelokkan arah mobil memasuki gapura dan berhenti di sebuah rumah sederhana yang ia datangi ketika baru keluar dari penjara.


Meski sudah berada tepat di depan rumah, tapi Arsya tak mampu turun apa lagi mengetuk pintu rumah pakdhe Imran. Ia hanya terdiam sembari terus memikirkan apa yang harus ia lakukan.


Hingga suara ketukan pada kaca mobil menyadarkan akan kehadiran seseorang. Sedikit terkesiap, Arsya membuka pelan kaca mobilnya.


"Nak Arsya?" panggil Imran.


Arsya segera keluar seraya menunduk hormat. "Pakdhe."


"Kok nggak masuk?"


"Ehm ... tadi Arsya cuma lewat, mau masuk tapi takut ganggu." Mengusap kepala yang tak gatal Arsya merasa canggung sendiri. Karena sejujurnya ia tak punya tujuan kenapa berhenti di depan rumah pria yang menjadi wali dari istrinya itu.


"Ayo masuk," ajak Imran. Ia berjalan lebih dulu menuju pintu rumah.


Arsya yang sudah ketahuan menunggu di depan rumah Imran mau tak mau ikut masuk ke rumah mengikuti Imran. Dengan ramah Imran mempersilakan Arsya untuk duduk dan pamit ke belakang untuk membuatkan minum, tapi dicegah oleh Arsya.


"Tidak usah repot-repot Pakdhe, Arsya cuma sebentar di sini." Arsya berkilah.


"Tidak apa, cuma air saja."


Imran baru akan bertolak ke dapur untuk mengambilkan air, tapi lagi-lagi Arsya mencegah. "Pakdhe, sebenarnya saya ke sini ingin bicara sesuatu dengan Pakdhe."


Langkah Imran terhenti. Ia kembali menoleh pada Arsya. "Bicara soal apa?"


Bukannya langsung menjawab Arsya justru terlihat celingukan seolah apa yang akan ia katakan adalah sebuah rahasia yang tak boleh diketahui ataupun didengar oleh orang lain selain dirinya dan Imran.


Menyadari sikap Arsya, Imran langsung paham dan berkata, "Berapa lama waktu yang kamu punya untuk berbicara denganku? Jika lebih dari satu jam, kita bicara di luar."

__ADS_1


Bukan tanpa dasar Imran menanyakan hal itu. Sebab ia tahu bagaimana kesibukan dari pria yang sudah ia anggap seperti menantu sendiri itu.


Arsya tersenyum setuju. "Iya, Pakdhe, kita bicara di luar saja."


Sebelum ke luar rumah, Imran berseru pada Laras untuk pamit. "Buk, aku mau ke luar dulu sebentar."


Belum juga Laras menjawab, Imran dan Arsya sudah meninggalkan rumah. Sebuah empang di kampung sebelah menjadi tujuan mereka.


Awalnya Arsya bingung dengan pilihan Imran. Mereka kan ingin ngobrol bukan ingin memancing lalu kenapa pergi ke empang. Tidak ingin menahan rasa penasarannya, Arsya sontak bertanya, "Pakdhe, kenapa ke sini?"


Imran tersenyum, ia terus berjalan ke pintu masuk empang. Di sana Imran memberikan uang pada orang yang berjaga. Kemudian oleh penjaga ia diberikan dua buah pancing, ember juga umpan. Setelah mengucapkan terima kasih, Imran masuk untuk memilih tempat yang dirasa nyaman. Arsya masih setia mengikuti tanpa tanya.


"Duduklah," ujar Imran menunjuk sebuah bangku kayu yang pendek. Tak lupa memberikan satu pancing untuk Arsya.


Masih belum paham, Arsya menerima pancing dengan wajah kebingungan. Sembari terus melihat Imran yang mulai menyetel pancingnya dan memasang umpan.


"Di sinilah tempat yang menurutku pas untuk mu berbicara. Lihatlah, tempat ini belum ramai, kalau pun ramai hanya bapak-bapak yang datang kemari, jadi kamu tidak perlu khawatir ada yang mengenalimu," ujar Imran menjelaskan.


"Lagi pula, ngobrol sambil memancing itu lebih menyenangkan," imbuh Imran disertai tawa.


Di samping Imran, Arsya ikut tersenyum. Ia pun segera menyetel pancingnya dan meminta umpan pada Imran sebelum melempar kail ke dalam empang.


Melihat Arsya yang sudah terlihat tenang, Imran mulai kembali bertanya, "Apa yang ingin kamu bicarakan?"


Arsya kembali menoleh kanan kiri, seakan memastikan semua aman.


"Insyaallah di sini aman."


Melihat hanya ada beberapa orang yang memancing dan itu pun dengan jarak yang cukup jauh membuat Arsya yakin ini memang tempat yang aman.


"Ehm ... begini pakdhe ...." Arsya menjeda kalimatnya. Memikirkan bagaimana ia harus memulai.

__ADS_1


"Katakan saja, apa pun yang ingin kamu katakan." Imran meyakinkan.


Arsya menarik napas dalam, bersiap mengatakan segala ganjalan di hatinya. "Sebenarnya, yang ingin saya katakan ini mengenai saya dan Alisha. Tentang pernikahan kami."


Imran tersentak, tapi segera berusaha menguasai diri. Ia tetap diam sampai Arsya kembali berbicara.


"Maafkan saya, Pakdhe." Kalimat Arsya kembali terhenti. Berpikir apakah ini langkah yang tepat yang ia ambil. Apakah bicara pada Pakdhe Imran adalah solusi.


"Maaf untuk apa?" Imran tak sabar menahan rasa penasarannya.


"Saya merasa, saya tidak pantas untuk menjadi imam Alisha. Dia terlalu sempurna untuk laki-laki seperti saya." Mata Arsya yang tadinya menatap Imran kini beralih lurus ke depan. Ia malu, sangat malu mengakui hal tersebut. Hal yang terlambat ia sadari.


"Lalu, apa yang kamu inginkan sekarang?" Imran tak ingin tergesa-gesa menghakimi. Ia bersikap tenang seperti biasa. Berusaha mendengar semua cerita lengkap Arsya.


"Itulah yang menjadi ganjalan hati saya, Pakdhe. Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana. Jujur saya sangat menginginkan Alisha kembali, sebab itulah saya berani menikahinya kemarin. Tapi sekarang, saya justru merasa tidak pantas untuknya. Saya takut saya akan menyakiti dia untuk kedua kali." Masih di posisi yang sama, Arsya tak mampu menatap Imran.


Imran menoleh sekejap pada Arsya, untuk melihat raut serius di wajah pria muda itu. Lalu kembali fokus pada pancing di tangan. "Tidak ada manusia yang sempurna, Nak Arsya. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitu juga dengan kita. Kalaupun di mata manusia lain kita terlihat sempurna, itu karena Allah menutup aib-aib kita. Sama halnya dengan Alisha, dia juga punya kelebihan dan kekurangannya sendiri."


"Tapi, Pakdhe, saya merasa saya bukanlah orang yang tepat untuk Alisha. Sekalipun Alisha punya kekurangan, tetap saja saya lebih buruk darinya." Arsya benar-benar kehilangan kepercayaan dirinya. Ia merasa sangat hina jika dibandingkan dengan Alisha dari segi apa pun. "Saya sangat takut saya akan lebih menyakitinya nanti."


"Kamu percaya akan takdir Allah?"


"Astagfirullah," pekik Arsya. Pertanyaan Imran sungguh menohok. "Tentu saja percaya, Pakdhe."


Tidak mungkin Arsya mengingkari takdir Allah, sebab itu adalah bagian dari keimanannya sebagai muslim.


"Kalau kamu percaya pada takdir Allah, yakinlah jika kamu memang jodoh yang tepat untuk Alisha. Terlepas dari rasa tidak percaya dirimu. Kalau kamu merasa belum pantas, teruslah belajar sampai Allah memantaskanmu untuk menjadi suami yang baik bagi Alisha. Dan, ajak Alisha untuk belajar agar ia juga bisa menjadi istri yang baik untukmu. Kalian dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan, yakinlah semua terjadi karena ridho Allah. Bersungguh-sungguhlah kamu menjalani peranmu sebagai suami dan serahkan masa depan itu hanya pada Yang Maha Mengatur. Tugasmu hanya berusaha menjalani kewajiban dengan baik."


Di saat yang sama, Imran dan Arsya saling menoleh. Pandangan mereka bertemu. Arsya melihat sosok Imran sebagai orang tua yang mampu memberikan solusi, dan Imran melihat Arsya yang berniat sungguh-sungguh ingin berjalan ke arah yang lebih baik.


"Buang semua rasa tidak percaya dirimu, ganti dengan niat baru untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah."

__ADS_1


Arsya mengukir senyum mendengar semua petuah Imran. Semua yang Imran katakan bagai kekuatan yang mengisi jiwa kosong Arsya. Kini ia tahu apa yang harus ia lakukan. Menjalani semua dengan penuh tanggung jawab sebagai seorang suami. Soal masa depan ia serahkan pada Yang Maha Kuasa. Entah bagaimana takdirnya nanti, tapi ia ingin melakukan yang terbaik untuk saat ini.


__ADS_2