Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 112 Kekhawatiran Naima


__ADS_3

Arsya sedikit kaget dengan kehadiran wanita yang ia anggap masa lalu. Ia bahkan sudah menghapus semua kenangan buruk yang disebabkan oleh wanita bernama Cinta ini.


"Mau apa, lo?" tanya Jimmy tanpa basa-basi.


Ia tidak mau lagi jika Arsya berurusan ataupun berhubungan dengan wanita satu ini. Mendekam di hotel prodeo sudah menjadi alasan kuat agar Arsya tidak lagi dekat-dekat dengan wanita ini.


Bukan hanya Jimmy dan Arsya saja yang kaget dengan kehadiran Cinta. Alisha pun sama kagetnya. Ia ingat betul bagaimana dulu ia kehilangan bayinya. Dan kali ini, ia tak mau semua terulang.


Cinta mengabaikan pertanyaan Jimmy. Matanya menatap satu per satu orang yang sedang duduk melingkar bersama Arsya. Dari keenam orang yang ada, hanya Naima yang tidak Cinta kenali.


"Bagaimana kabar kamu, Arsya?" tanya Cinta tetap mengabaikan pertanyaan Jimmy.


"Baik," jawab Arsya singkat. Arsya tidak menampakkan raut kesal seperti Jimmy, tapi bukan berarti ia menerima kehadiran Cinta.


"Jadi kalian masih bersama?" ekor mata Cinta tertuju pada Alisha.


Menyadari maksud dari ucapan Cinta, Arsya pun meraih tangan istrinya. Membawanya naik lalu mengecup punggung tangan Alisha di depan semua orang.


"Seperti yang kamu lihat, kami sangat bahagia. Bahkan kami sedang menantikan kelahiran anak kami." Terkesan pamer, tapi Arsya ingin menunjukkan jika ia memang begitu bahagia hidup bersama Alisha.


Cinta menyaksikan semua perlakuan Arsya terhadap istrinya. Iri. Ya ... Cinta iri pada hidup Arsya yang akhirnya tetap bahagia. Sementara dirinya masih berkubang di hidup yang sama.


"Cinta." Panggilan seseorang membuat Cinta harus segera mengakhiri perjumpaan ini.


Ia menoleh sekejap, sembari mengulas senyum sebagai tanda agar seseorang itu menunggunya sebentar lagi.


"Selamat ya, atas kehamilan istri kamu. Semoga kalian selalu bahagia," ujar Cinta sebelum benar-benar pergi. Ia menghampiri pria yang terlihat jauh lebih tua darinya. Menggamit lengan pria itu dengan mesra meninggalkan restoran.


Semua memperhatikan bagaimana Cinta pergi.


"Dia sudah tidak lagi bersama politikus itu. Dari yang gue dengar politikus itu mencampakkannya untuk menikahi wanita baik-baik yang berkelas," ujar Jimmy tanpa diminta.


Jimmy tersenyum miris. "Cowok berengsek pun akan tetap memilih wanita baik-baik sebagai pendamping dan juga ibu dari anak-anaknya. Cinta bisa menjadi contoh nyata atas hal itu. Ia ditinggalkan begitu saja karena dianggap murahan."


Ucapan Jimmy memang tidak menyindir Naima, tapi entah mengapa hati kecil Naima terusik. Apa yang Jimmy ucapkan benar adanya.


Sebejat-bejatnya laki-laki pasti tidak akan memilih wanita bejat juga untuk menjadi istrinya. Mereka pasti akan tetap memilih wanita baik-baik karena mereka tahu kepada siapa mereka akan menitipkan anak-anak mereka nanti. Jika ibu yang dipilih saja tidak baik akhlaknya bagaimana nasib anak mereka kelak.


Sungguh, Naima takut akan hal itu. Ia bukan wanita yang baik, lalu siapa yang akan berkenan menerimanya nanti.


"Naima?" panggil Arsya.

__ADS_1


Gadis itu masih sibuk dengan kekhawatirannya hingga tak mendengar panggilan kakaknya.


"Naima." Alisha yang duduk bersebelahan dengan adik iparnya itu menepuk paha Naima hingga gadis itu tersentak.


"Eh ... iya, Kak. Kenapa?"


"Mas Arsya bilang, ayo lanjutkan makannya. Nanti keburu dingin," jawab Alisha.


"Iya." Naima mengangguk.


Ia tepiskan segala kekhawatiran perihal jodoh. Melanjutkan makan seperti apa yang Arsya minta.


Meski begitu, semua terasa masih mengganjal di hati Naima. Ia belum bisa mengabaikan apa lagi lupa akan ucapan Jimmy. Bagaimanapun, ia adalah gadis normal. Melihat kebahagiaan kakak dan kakak iparnya pastilah timbul keinginan untuk bisa memiliki pasangan seperti Arsya dan Alisha.


Akan tetapi jika mengingat dirinya di masa lalu, apakah bisa ia menemukan pasangan yang mampu menerima segala kekurangannya. Semua kekhawatiran itu ia bawa sampai ke rumah.


Bahkan membuat Naima duduk termenung seorang diri di pinggir kolam renang. Memikirkan masa depannya.


Alisha yang awalnya turun untuk mengambil minum jadi berbelok arah begitu melihat Naima sendirian. Ia menghampiri adik iparnya itu.


"Naima, sedang apa di sini?"


Gadis yang memakai piyama biru itu tengah mencelupkan kakinya ke dalam kolam. Menyendiri menatap riak air yang dihasilkan dari kakinya yang bergerak.


"Kamu ngapain di sini?"


"Nggak apa-apa, Kak. Hanya belum bisa tidur saja." Naima sedikit berbohong.


Alisha tidak lantas pergi. Ia justru ikut duduk di samping Naima. Sama-sama mencelupkan kakinya ke kolam.


"Lho, Kak ...."


"Ayo cerita, apa yang sedang mengganggu pikiranmu."


Naima membeliak. Bagaimana kakak iparnya ini tahu tentang dirinya.


"Sudah cerita saja," desak Alisha.


Naima terdiam sesaat. Menimbang apakah ia harus bercerita atau tidak.


"Kalau aku bisa membantu, insyaAllah aku bantu. Kalaupun tidak bisa membantu setidaknya bisa mengurangi beban kamu."

__ADS_1


Naima pun bicara. "Kak, jika benar apa yang Kak Jimmy katakan tadi tentang pria berengsek yang akan tetap memilih wanita baik-baik bukan wanita murahan, lalu bagaimana dengan aku yang kotor dan hina ini?"


Alisha menangkap kesedihan di mata Naima. Juga keresahan di dalam ucapan adik iparnya itu.


"Naima, apa yang Mas Jimmy katakan ada benarnya tapi bukan berarti pendosa tidak punya jodoh. Semua yang ditakdirkan di dunia ini ada pasangannya. Yakinlah jika Allah telah menyiapkan jodoh terbaik untuk kamu."


"Tapi masa laluku kotor dan hina?"


"Itu masa lalu Naima, jangan terkurung dalam masa lalu yang menyedihkan. Sekarang sibukkan dirimu untuk menjadi lebih baik. Perbaiki dirimu agar Allah mengirim jodoh yang baik juga untukmu."


Alisha menatap Naima serius. "Masa depan itu misteri tapi tetap bisa kita usahakan yang terbaik."


Mendengar penuturan Alisha, hati Naiman menjadi tenang. Benar juga, untuk apa ia sibuk memikirkan masa lalu yang tidak bisa diubah sementara ia bisa mengupayakan masa depan yang lebih baik.


"Rupanya di sini. Dari tadi aku tungguin nggak balik-balik, aku kira kamu ambil airnya ke rumah Pakdhe Imran. Eh ... malah ngerumpi di sini." Suara Arsya membuat Alisha dan Naima menoleh.


"Ya Allah ...." Alisha baru ingat jika tadi dsuruh mengambilkan minum untuk Arsya tapi malah asik ngobrol dengan Naima.


Alisha segera mengangkat kakinya naik. "Maaf, Mas."


"Kak ...," panggil Naima sebelum Alisha pergi. "Terima kasih."


Alisha tersenyum sebagai jawaban dan pergi menghampiri suaminya.


"Maaf Mas, aku lupa," ujar Alisha.


"Aku sampai kehausan nunggu kamu."


"Iya, maaf."


"Nggak segampang itu minta maaf. Harus ada hukumannya."


"Apa, hukuman?"


"Hmm ...."


"Memang apa hukumannya?"


Arsya menatap Alisha penuh arti. Sorot mata Arsya tak mampu menyembunyikan tentang hukuman yang akan ia berikan pada istrinya.


"Ish ... Mas Arsya nakal!" Alisha pun mencubit pinggang suaminya sebelum kabur.

__ADS_1


Arsya tertawa sendiri karena istrinya langsung paham maksud hukuman yang akan ia berikan. Segera ia menyusul Alisha.


Masih dari kolam renang, Naima memperhatikan tingkah kakaknya dan juga kakak iparnya. Sembari berdoa semoga Allah mengirimkan jodoh yang baik juga untuknya.


__ADS_2