Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.33 Dua Garis


__ADS_3

Tiga hari sudah Alisha tinggal di rumah mertuanya. Selama Tiga hari itu juga Alisha tak masuk kerja. Kondisinya masih sama, mual dan muntah sering menyerangnya di saat ia bangun tidur.


Saat ini Alisha sedang berada di dalam kamar mandi memegangi alat tes kehamilan yang tadi diberikan oleh ibu mertuanya karena Alisha tak mau diajak periksa. Berdasarkan naluri seorang wanita yang bersuami, Sarah akhirnya memilih untuk membeli alat tes kehamilan untuk menantunya tersebut sebab melihat kondisi Alisha selama tiga hari tinggal di rumahnya. Setiap pagi, Sarah mendapati Alisha yang mual muntah. Wajah menantunya itu juga memucat. Sebuah kecurigaan yang menggiringnya untuk membelikan alat tes kehamilan bagi Alisha. Berharap ia mendapatkan kabar baik dari alat tersebut.


Alisha terus menatap alat tes kehamilan di tangannya. Tanpa sadar, satu tangannya mengusap perut yang masih rata. Dua garis pada alat itu membuat air mata Alisha menetes begitu saja. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Tidak tahu harus senang atau sedih. Ia belum siap dengan semua ini. Kehamilan dan seorang anak. Apakah ia akan mampu menjadi ibu yang baik nantinya, sementara menjadi istri saja ia belum bisa.


"Al ... Sayang, kamu sudah selesai belum?" teriak Sarah dari luar.


Wanita itu sejak tadi menungguinya di luar kamar mandi.


Alisha segera mengusap air matanya dan keluar dengan membawa benda pipih itu.


"Bagaimana?" tanya Sarah tidak sabar untuk tahu hasilnya.


Alisha tak berani menjawab, ia hanya mengulurkan benda tersebut pada ibu mertuanya. Mata Sarah seketika membelalak lebar begitu melihat dua garis pada tespek di tangannya


"Alhamdulillah!" pekiknya bahagia. Ia langsung memeluk Alisha.


"Selamat ya, Sayang, kamu akan jadi seorang ibu. Ayo-ayo, kita duduk dulu." Sarah membawa Alisha ke sofa.


"Pokonya kamu harus berhenti kerja mulai hari ini. Mama nggak mau kamu kecapekan, kamu harus jaga anak kamu baik-baik. Kalau mau apa pun jangan ditahan, itu namanya ngidam harus dituruti. Kalau kamu butuh apa-apa sama Mama tinggal bilang saja, nggak usah malu atau takut. Mama akan senang nurutin apa pun mau kamu ...." Sarah terus saja berbicara. Ia sangat bahagia dengan kehamilan pertama Alisha.


Sedangkan Alisha justru terdiam saking bingung dengan perasaannya sendiri.


"Arsya pasti seneng banget kalau dengar berita ini. Mama harus segera kasih tahu Arsya."


"Ma ...," cegah Alisha ketika Sarah akan beranjak pergi.


"Ya, Sayang?"


"Boleh Alisha aja yang kasih tahu?"

__ADS_1


Dahi Sarah berkerut tapi sedetik kemudian ia tersenyum. "Tentu saja, pasti akan sangat membahagiakan jika kamu sendiri yang memberitahu Arsya."


Alisha tersenyum lega akan pengertian ibu mertuanya.


"Baiklah, kalau begitu sekarang kamu bersiap, ya. Kita akan periksa ke dokter hari ini. Bagaimanapun kita harus memastikan semuanya baik-baik saja."


Alisha mengangguk. Ia tak mau membuat mertuanya itu kecewa.


Sarah pun segera keluar dari kamar putranya untuk mempersiapkan dirinya sendiri. Tak lupa ia memberi tahu sang suami akan kabar yang membahagiakan ini. Memiliki seorang cucu. Ia juga menghubungi rumah sakit dan membuat temu janji dengan dokter kandungan.


Ketika Alisha sudah selesai bersiap, ia segera turun untuk menemui ibu mertuanya. Ia menghampiri Sarah yang ada di ruang makan. Di sana Alisha melihat Sarah dengan bahagianya membagikan uang pada para pegawai yang bekerja di rumah. Sarah bilang uang itu adalah sedekah atas cucu yang ada dalam perut Alisha. Sarah juga meminta doa yang baik untuk Alisha dan kandungannya dari para pegawainya.


Semua pegawai Sarah menyambut bahagia kabar tersebut dan mendoakan Alisha juga calon anak dalam kandungannya.


Melihat kebahagiaan Sarah, air mata Alisha kembali menetes. Ia terharu dengan segala kebaikan hati Sarah.


"Selamat pagi mbak Alisha," sapa Sumi yang menyadari kehadiran Alisha.


Semua pegawai, juga Sarah langsung menatap ke arah di mana Alisha berdiri.


Alisha mengangguk. "Sudah, Ma."


"Sudah, kalian kerja lagi. Sekarang saya mau bawa menantu saya ke dokter," ujar Sarah memerintah.


Sesuai perintah Sarah, para pegawai di rumahnya tersebut kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing. Ada Surya juga yang turut memperhatikan Alisha.


Ketika menantunya itu mendekat, Surya langsung memeluk. "Selamat, ya, jaga kehamilanmu baik-baik," pesan Surya pada menantunya.


"Iya, Pa."


"Ya sudah, Papa mau ke kantor dulu." Setelah pamit dengan istri dan menantunya Surya berangkat bersama ajudan juga supirnya.

__ADS_1


Sarah dan Alisha juga bergegas ke rumah sakit untuk periksa kandungan.


___________________


Di bandara, setelah acara kemarin malam baru sore ini Arsya bisa pulang ke Jakarta. Sebab pagi tadi ia masih ada acara jumpa penggemar di pusat perbelanjaan yang sama di mana ia menjadi juri ajang pencarian bakat. Ia tidak lagi bersama Beby dan Patricia. Karena dua rekannya tersebut sudah mengambil penerbangan malam seusai acara.


Jimmy yang berada di ruang tunggu melihat jengah dengan kedekatan Arsya dengan Cinta. Entah sejak kapan mereka berdua menjadi sangat akrab hingga wanita itu terus saja menempel pada modelnya tersebut.


Arsya yang menyadari ketidaksukaan Jimmy mulai melepaskan rengkuhan tangan Cinta.


"Kenapa?" tanya Cinta dengan raut tidak suka ketika Arsya melepaskan tangannya yang bergelayut manja pada pria itu.


"Ini di tempat umum, sangat tidak pantas dilihat orang."


Cinta menoleh sekeliling. Benar saja, ada beberapa yang melihat kedekatan mereka termasuk tatapan Jimmy yang terarah padanya.


"Baiklah, pasti kamu tidak mau kedekatan kita diketahui orang," jawab Cinta. Ia pun mendekatkan bibirnya ke telinga Arsya dan berbisik. "Keintiman kita hanya kita saja yang tahu, iya, kan?" Cinta tersenyum menggoda setelahnya.


Bukannya senang, Arsya justru merasa illfeel dengan wanita ini. Dulu Cinta membuatnya tergoda dan ingin mendapatkan wanita itu bagaimanapun caranya. Tetapi ketika kemarin ia terbangun bersama wanita itu tanpa pakaian, bukan kebahagiaan atau kepuasan yang ia rasa, melainkan perasaan janggal karena ia tak bisa mengingat apa pun tentang apa yang Cinta katakan.


Bahkan Cinta yang sekarang tak lagi membuatnya tertarik. Entah apa yang berbeda pada diri wanita cantik itu, ataukah justru perasaan Arsya yang berubah. Cinta tak semenarik dulu ketika ia begitu mendamba aktris sekaligus model itu.


"Ayo berangkat," ujar Jimmy menyadarkan Arsya dari segala pikirannya yang mengelana.


Juga membuat Cinta tersentak dari sikapnya yang seperti wanita murahan.


Arsya segera mengikuti Jimmy untuk naik ke pesawat yang akan membawanya kembali ke Jakarta. Ada perasaan ingin segera bertemu Alisha.


Bagaimana keadaannya sekarang.


Apakah sudah lebih baik.

__ADS_1


Apa ia sudah mau periksa ke dokter, atau masih lemah seperti ketika ia meninggalkan wanita itu tiga hari yang lalu.


Ah ... Alisha, kenapa Arsya jadi memikirkan wanita itu.


__ADS_2