
Bab. 45
Kondisi Sarah mulai membaik meski tekanan darahnya belum stabil. Ia masih dalam tahap pengobatan. Dokter juga rutin datang memeriksa.
Sudah beberapa hari Arsya tidak datang ke vila sejak kepergiannya dini hari kala itu. Sesuai pesan suaminya, Alisha benar-benar menjaga Sarah dengan baik.
Seperti sore ini, Alisha mengajak ibu mertuanya itu jalan-jalan dengan menggunakan kursi roda. Tidak jauh, hanya sekitar vila saja. Tujuannya agar pikiran Sarah tak terpaku pada kasus suaminya, yang mungkin akan berdampak buruk bagi kesehatan.
"Kita berhenti di sini dulu ya, Ma."
Sarah mengiyakan. Di bawah rindangnya pohon akasia, mata Sarah menatap jauh ke depan. Di mana hanya hijau yang terlihat. Menyejukkan mata sekaligus menenangkan hati bagi si penikmat pemandangan.
Namun, berbeda dengan Sarah. Wanita hampir setengah baya itu mendadak meneteskan air mata.
"Ma, Mama kenapa?" tanya Alisha yang menyadari ibu mertuanya menangis dalam kebisuan.
Mendapat pertanyaan dari Alisha, air mata Sarah justru semakin menderas. Tak ada kata-kata yang keluar, hanya bulir bening yang semakin membasahi pipi.
Tak ingin lagi banyak bertanya, Alisha memilih untuk memeluk Sarah. Mendekapnya erat dan mengusap punggung wanita itu lembut.
"Apa ini karma, Alisha?"
Mata Alisha membelalak mendengar ucapan Sarah. Ia tidak tahu maksud Sarah, tapi ia masih terus memeluk ibu mertuanya itu.
"Apa semua ini karma dari Tuhan?"
__ADS_1
Alisha semakin tidak mengerti. Ia melepaskan rengkuhan pada ibu mertuanya. Menatap wajah Sarah yang basah.
"Untuk bisa sampai di posisi ini, kami telah menjual anak kami."
Meski kaget. Alisha tetap diam. Ia tidak ingin mendahului apa lagi menghakimi dengan menebak-nebak ucapan Sarah yang belum jelas.
Mata sarah yang sembab masih terus menatap ke depan. Hampa. Tidak ada objek yang ia tuju. "Kamu ingat, Mama pernah bercerita tentang adik Arsya?"
Alisha yang berjongkok di depan Sarah mengangguk.
"Alasan kenapa dia tidak berada di antara kami ... karena kami telah menukarnya dengan posisi kami sekarang ini."
Alisha masih belum paham.
"Kami bukanlah orang kaya sebelumnya, Alisha. Kami hanya orang biasa yang bisa dibilang tidak punya. Tetapi aku dan Mas Surya memiliki mimpi yang begitu besar." Sarah menarik napas panjang, seolah menguatkan hati untuk melanjutkan ceritanya.
Beberapa kali Sarah menjeda ceritanya. Lalu melanjutkannya lagi dengan raut kesedihan yang semakin kentara.
"Hingga suatu hari kerabat kami datang saat aku baru melahirkan Naima."
Alisha bergeming. Setia mendengarkan.
"Kerabat yang sudah lama menikah tapi belum juga memiliki anak. Dia menawarkan pada kami untuk merawat Naima dengan imbalan sejumlah uang." Air mata Sarah kembali menderas mengingat kenangan pahit hidupnya.
"Kami yang kala itu sedang di posisi sulit, akhirnya memilih untuk mengiyakan. Dari uang itulah hidup kami mulai berubah, hingga Mas Surya bisa sampai di posisinya saat ini. Sebuah posisi yang sudah lama Mas Surya impikan."
__ADS_1
"Kami kira, Arsya pun akan senang bisa hidup dalam kecukupan. Nyatanya kami salah. Arsya begitu mencintai adiknya hingga ia tidak rela ketika kami memberikannya pada orang lain. Sejak itulah, Arsya membenci papanya. Menganggap papanya layaknya penjahat. Ia juga membenci jabatan papanya saat ini karena di dapat dari hasil memisahkannya dengan Naima."
Terngiang kembali di telinga Sarah kala Arsya yang masih berusia 7 tahun, meronta dan berteriak agar adiknya tak dibawa pergi. Jerit pilu Arsya kala itu adalah goresan luka yang terpahat tanpa bisa dihapus di hati Sarah. Hal yang akurnya Sarah sesali. Sebab bukannya baik, hubungan Arsya dan papanya justru layaknya orang asing.
"Itulah kenapa Naima tak pernah ada dalam catatan keluarga kami dan kami hanya menyimpan kenangannya dalam hati."
Jujur Alisha terkejut dengan pengakuan Sarah. Ia tak menyangka jika keluarga suaminya menyimpan rahasia yang begitu besar dan menyakitkan.
"Mungkinkah ini karma Alisha. Kami telah menyakiti hati kedua anak kami demi kebanggaan duniawi. Kini hal tersebut menjatuhkan kami."
Alisha tak bisa menjawab. Hanya pelukan sebagai penguat hati, ia berikan kembali pada Sarah.
******
Di apartemennya, Arsya mulai berpikir keras tentang hubungan apa yang dimiliki oleh Cinta dan Joko Permana. Rival papanya.
Apakah seperti pejabat lainnya yang menyewa jasa Cinta sebagai teman kencan ataukah ada hubungan spesial di antara mereka. Tak dipungkiri ada beberapa dari kalangan pejabat yang suka menyewa jasa teman kencan dari kalangan artis seperti Cinta.
Kalau hanya teman kencan, itu tak jadi soal. Namun, jika mereka berdua berkonspirasi pastilah skandal dirinya juga masuk dalam perhitungan mereka.
Masih sibuk pikirannya dengan Joko Permana dan Cinta, Arsya dikagetkan dengan kedatangan Jimmy. "Gawat, Sya ... gawat!"
"Nggak punya mulut buat ngucap salam, lo!" sentak Arsya saking kagetnya.
"Halah, kayak lo orang bener aja. Sekarang ini gue bawa berita penting dan gawat buat lo. Cinta udah ngelaporin lo atas tindak kekerasan dan perbuatan tidak menyenangkan yang lo lakukan. Nih, surat pemanggilan lo!"
__ADS_1
Meski sudah memprediksi ini akan terjadi, tetap saja Arsya kaget. Kembali ia harus berhadapan dengan polisi dan tak menutup kemungkinan juga akan kembali merasakan dinginnya jeruji besi.