
"Alisha?" Arsya yang kaget langsung mendorong tubuh wanita yang tadi merayunya dan sempat membuatnya tergoda.
"M-maaf." Alisha balik badan. Tak jadi masuk. Ia kembali melangkah meninggalkan apartemen suaminya.
Perlahan air matanya mengalir tanpa ijinnya.
"Alisha!" seru Arsya. Ia langsung berdiri, tapi wanita itu mencekal tangannya.
"Kamu mau ke mana?" tanya wanita itu.
Bukannya menjawab, Arsya justru menghempaskan tangan yang menahannya.
"Arsya!" panggil wanita itu. Ia juga tidak rela ditinggalkan Arsya begitu saja.
Arsya yang sudah sampai di depan pintu, masih sempat berhenti dan menoleh pada wanita yang masih duduk di sofa.
"Kalau kamu pergi, aku juga akan pergi!" ancamnya.
Arsya tak peduli. Ia kembali melangkah dan menyusul Alisha yang sudah semakin menjauh.
"Alisha, berhenti!" serunya dengan berlari.
Alisha tak ingin menoleh. Ia terus mencoba mempercepat langkah. Ia genggam erat goodie bag berisi lauk yang ia bawa dari rumah mertuanya.
Kenapa seperti ini.
Kenapa harus pemandangan itu yang ia lihat.
"Alisha, berhenti!" Arsya kembali berseru. Pria itu semakin menambah kecepatannya dalam berlari agar bisa menyamai langkah istrinya.
"Gue bilang berhenti!" sentak Arsya ketika ia mampu menggapai pergelangan tangan Alisha.
Wanita itu spontan berbalik karena tarikan Arsya. Kini mereka saling berhadapan. Arsya tidak lantas berbicara, ia justru menatap wajah istrinya yang sudah penuh dengan air mata.
"Lepasin, Mas," pinta Alisha memberanikan diri.
Pria itu justru bergeming. Entah apa yang ia mau, tapi ia tak menuruti apa yang Alisha minta.
"Aku bilang lepasin, Mas!" Alisha menyentak tangan suaminya hingga terlepas.
__ADS_1
"Ayo pulang," ujar Arsya dengan entengnya dan kembali meraih tangan Alisha.
Alisha malah menangis mendengar ajakan itu.
Pulang?
Untuk apa?
Untuk menyaksikan pemandangan yang tak patut ia lihat?
"Enggak! aku ingin sendiri dulu, Mas," tolak Alisha.
"Lo ngelawan perintah suami, hah!" Arsya yang emosi mendorong tubuh Alisha ke dinding koridor. "Gue nggak suka dibantah!" ujarnya dengan menghimpit tubuh istrinya.
Tubuh Alisha gemetar. Rasa takut berhadapan dengan suaminya kembali menyeruak. "Tolong biarkan aku sendiri, Mas. Beri waktu Alisha untuk tenang," jawab Alisha dengan bibir bergetar. Air mata terus mengalir saking takutnya.
Melihat sorot ketakutan dengan air mata yang terus berderai, Arsya pun melepaskan istrinya. Kesempatan itu Alisha gunakan untuk segera lari. Keluar dari gedung apartemen ini.
Tidak jauh. Hanya taman di apartemen ini yang Alisha tuju. Ia duduk di salah satu bangku kayu yang tersedia di sana.
Dalam kesunyian dan temaramnya lampu taman, ia tumpahkan segala rasa yang sejak tadi membuat dadanya sesak. Ia puaskan tangisnya dalam luka yang baru saja tercipta di hatinya.
"Mama," lirihnya.
Ia hapus air matanya. Mulai mengingat kembali apa yang mama mertuanya katakan, juga nasehat-nasehat dari pakde Imran. Mereka semua begitu menyayanginya.
Alisha menarik napas panjang. Memejamkan matanya sekejap. Dengan menguatkan hati, Alisha berdiri. Ia mulai kembali melangkahkan kaki memasuki gedung tinggi di hadapannya. Memasuki elevator dan mulai menekan angka di mana flat suaminya berada.
Ia susuri jalan sepanjang koridor dengan hati yang rapuh. Namun tetap berusaha tegar untuk terus melangkah. Menepis segala lara yang bergelayut dalam dada. Meyakinkan diri jika semua tidak terjadi begitu saja. Ada Yang Maha Mengatur. Pun dengan apa yang ia lihat tadi.
Semua sudah ada dalam pena takdir yang tak mungkin ia hindari.
Sedikit tercekat, kala Alisha melihat Arsya berdiri bersandar dinding di depan pintu apartemennya. Pria itu menatap langkah Alisha yang mulai mendekat.
Tak ada sapa di antara mereka. Alisha terus saja membuka pintu dan mengabaikan suaminya. Ia segera menata isi goodie bag ke dalam kulkas. Kemudian masuk ke kamar untuk segera membersihkan diri dan beristirahat. Bukan hanya hatinya, tapi raganya juga butuh rehat sejenak dari segala peliknya masalah yang mendera.
Semua yang ia lakukan tak lepas dari pengawasan Arsya. Pria itu terus mengawasi tanpa berani bicara. Baru kali ini Arsya merasa bersalah pada Alisha. Meski pernikahan ini tak pernah ia inginkan, entah kenapa ia merasa memiliki rasa tanggung jawab atas perasaan Alisha. Yah ... ia telah membuat kesalahan.
Sebuah kesalahan besar karena telah membiarkan seorang wanita masuk ke dalam apartemennya. Jika hal seperti ini dulu sering ia lakukan tanpa beban, sekarang berubah menjadi sebuah rasa penuh dosa.
__ADS_1
Kehadiran Alisha membuat segala rasa dosa yang dulu terasa nikmat kini berubah menjadi sebuah rasa bersalah.
Keberanian dan juga arogansinya mendadak sirna oleh kebungkaman Alisha. Pria itu hanya mampu memperhatikan Alisha yang bergelung dalam selimut membelakanginya.
Semakin lama, membuatnya semakin tidak tahan untuk mendekat. Ia memang bersalah tapi ia juga punya hak untuk menjelaskan. Ia putuskan untuk mendekati istrinya.
"Al ..." lirih Arsya yang duduk di tepi ranjang. Tangannya ragu ingin menyentuh.
"Alisha," panggil Arsya sekali lagi. Kali ini ia mencoba mengintip. Dilihatnya mata Alisha yang terpejam, tapi Arsya tidak yakin jika Alisha sudah benar-benar tertidur.
Ia pun menaikkan kakinya. Merebahkan diri di sisi Alisha yang masih terus memunggunginya.
"Maaf," ujar Arsya lirih.
Alisha yang hanya berpura-pura tidur merasakan kehadiran Arsya di sisinya. Pun mendengar apa yang suaminya itu ucapakan.
Bukan perasaan senang atau bangga karena Arsya mengakui kesalahannya melalui permintaan maaf. Alisha justru dirundung rasa bersalah.
Mungkin, dia juga ikut andil akan apa yang Arsya tadi lakukan. Alisha bukan anak kecil lagi. Ia tahu betul kebutuhan pria dewasa seperti suaminya. Bisa jadi, kesalahan yang Arsya lakukan adalah akibat dari dirinya yang tak bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Dalam mata yang terpejam. Air mata Alisha mengalir begitu saja. Ia terus memohon ampun pada Yang Kuasa apabila dosa yang diperbuat suaminya berawal dari dirinya.
*****
Tak seperti pagi biasanya. Alisha terbangun karena gerakan dari orang yang semalam tidur di sampingnya. Untuk pertama kalinya mereka tidur dalam satu ranjang, dan Alisha tidak merasa ketakutan. Mungkin karena semalam ia sibuk menangis hingga mengabaikan Arsya yang berada satu ranjang dengan nya.
Alisha menyibak selimutnya, sebab panggilan adzan sudah menggema.
"Mau ke mana?" lirih Arsya.
Ketika Alisha menoleh, terlihat suaminya itu sedang berjuang membuka matanya.
"Salat, Mas." Setelah itu Arsya tak lagi bertanya. Ia biarkan saja istrinya pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Pria itu tak ikut melaksanakan salat, ia hanya menatap Alisha yang khusyuk dalam rukuk dan sujudnya. Usai salam, Alisha menangkap Arsya yang tengah memperhatikannya dari atas ranjang.
Merasa tertangkap kala memperhatikan istrinya, Arsya buru-buru menghindar. Ia segera masuk ke kamar mandi.
Ketika keluar ia melihat Alisha mengeluarkan baju-bajunya dari dalam lemari. Tentu saja hal itu memicu rasa penasaran Arsya yang tak tahan untuk bertanya.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?"