Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.37 Memburu Orang


__ADS_3

Sejak menyadari keberadaan Cinta, juga potret-potret yang dikirimkan oleh wanita itu, makan malam antara Arsya dan Alisha menjadi bertambah kaku. Tak ada pembicaraan sama sekali.


Mereka bahkan mengisi perjalanan pulang dengan saling membisu. Pun ketika mereka sampai di apartemen, mereka sibuk masing-masing. Alisha langsung membersihkan dirinya dan berniat untuk langsung istirahat saja.


Sementara Arsya dia memilih untuk berada di ruang tamu dan menghubungi seseorang. Berkali-kali, ia mencoba tapi tak ada jawaban dari panggilan yang ia lakukan.


"Brengsek! angkat dong!" umpat Arsya tertuju pada orang yang ia hubungi.


Begitu melihat Alisha keluar dari kamar, Arsya buru-buru menutup panggilannya.


"Ada apa?" tanya Arsya yang melihat istrinya terpaku menatapnya.


"Ehm ... nggak apa-apa, cuma mau ambil minum," jawab Alisha canggung. Ia pun berlalu ke dapur.


Selama menjadi istri pria itu, Alisha tak pernah sekali pun mencampuri urusan Arsya. Tidak untuk tahu atau sekadar ingin tahu. Ia lupakan soal sikap Arsya yang terlihat kesal tadi, dan kembali pada tujuan awalnya. Mengambil air minum dari dalam lemari pendingin dan meneguknya.


Sebelum kembali ke kamar, Alisha membuka ponsel yang seharian ia abaikan. Rupanya ada pesan dari Budhe Laras jika Imran tengah masuk rumah sakit tadi siang karena kecelakaan.


"Innalillahi wa innaillaihi rojiun," pekik Alisha membaca pesan singkat dari Laras. Bergegas ia ke kamar untuk mengganti pakaian.


Arsya yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat bingung menatap istrinya yang sudah berganti baju dan sedang mematut dirinya di depan cermin sedang menggunakan hijab.


"Mau ke mana?" tanya Arsya.


"Mas, aku mau ke rumah sakit. Pakdhe kecelakaan," jawab Alisha dengan terburu-buru. "Tolong ijinkan aku pergi, Mas." Alisha langsung menyahut tangan Arsya untuk berpamitan begitu selesai menggunakan hijab.


"Tunggu!"


Alisha yang baru akan keluar kamar menoleh.


"Aku antar." Arsya segera menyambar hoodie miliknya dan mengikuti langkah panik Alisha.


Sepanjang perjalanan Alisha hanya diam merapal doa dalam hati semoga pakdhenya selalu dalam lindungan Yang Kuasa.


Begitu sampai, Alisha tak lagi memperhatikan Arsya. Ia berlari sendiri menuju resepsionis untuk bertanya di ruang mana Imran di rawat. Wanita itu sudah tidak sabar melihat kondisi pria yang sudah membesarkan dirinya. Langkahnya tak sekali pun melambat, Alisha justru mempercepatnya untuk bisa sampai di ruang perawatan Imran.


"Assalamualaikum," sapa Alisha ketika membuka pintu ruang perawatan Imran.


"Waalaikumsalam," jawab Laras menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


"Budhe." Alisha mencium tangan istri dari pakdenya tersebut. "Bagaimana kondisi, Pakdhe?"


"Baru saja bisa tidur, seharian tadi merasa kesakitan terus," jawab Laras.


"Bagian mana saja yang terluka?"


"Yang paling parah kakinya. Kata dokter besok harus segera dioperasi. Tapi kami belum punya biaya, makanya tadi Budhe hubungi kamu." Laras nampak malu sekaligus sedih mengatakan kenyataan ini pada keponakan suaminya tersebut. Sebab selama ini hanya rasa tidak suka yang Laras perlihatkan.


"Berapa biaya operasinya, Budhe?"


"Kata perawat tadi sekitar tiga puluh lima juta, itu hanya untuk operasinya saja. Alisha, Budhe mohon, bantu Pakdhemu." Rasanya tak sampai hati Laras mengatakannya. Dulu sikapnya begitu membenci Alisha. Sekarang ia harus meminta bantuan Alisha untuk biaya operasi suaminya, karena memang dirinya dan suami tidak punya tabungan sebanyak itu.


"Sebanyak itu?" Alisha kaget.


"Iya, kamu bisa kan minta sama suami kamu atau mertuamu?" Laras tahu, keponakannya ini pun pasti tak memiliki uang sebayak itu, sebab itulah ia langsung mengarahkannya untuk meminta pada suami atau mertuanya.


Alisha nampak ragu. Bagaimana ia akan mengatakan ini pada Arsya atau pun mertuanya. Tabungan Alisha sendiri belum terkumpul sebanyak itu.


"Budhe tenang saja, besok pasti Pakdhe bisa dioperasi. Soal biaya, tidak usah khawatir. Aku akan urus semuanya." Suara Arsya membuat Alisha juga Laras menoleh pada pria itu.


Laras langsung berdiri. "Terima kasih, Nak Arsya. Terima kasih banyak." Laras mengambil tangan Arsya dan menggenggamnya erat. "Sekarang Budhe bisa tenang."


"Sebaiknya Mas Arsya pulang saja, aku masih ingin di sini menemani Pakdhe," ujar Alisha usai menyelesaikan pembayaran rumah sakit untuk pembiayaan Imran.


"Kenapa?"


"Di sini pasti tidak akan nyaman untuk Mas Arsya tidur. Belum lagi banyak yang ngelihatin Mas Arsya."


Arsya menoleh ke beberapa sudut di mana ada orang yang sedang menatapnya.


"Sudah pulang sana, biar Mas Arsya bisa istirahat."


"Kamu yakin aku tinggal?"


Alisha mengangguk yakin.


"Tapi ...."


"Sudah, tidak apa-apa. Mas pulang saja, biar aku di sini."

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita pulang bersama saja, besok pagi kita ke sini lagi."


"Nggak bisa gitu Mas, aku harus menemani Budhe Laras. Sudah, Mas Arsya pulang sana." Alisha sedikit mendorong tubuh suaminya.


Memikirkan apa yang Alisha katakan, akhirnya Arsya setuju untuk pulang sendiri.


"Mas Arsya," panggil Alisha kembali sebelum Arsya mulai menjauh. "Terima kasih sudah membantu kami."


Arsya menjawabnya dengan senyuman.


Sepeninggal suaminya, Alisha kembali ke kamar rawat Imran. Ia hanya berdua dengan Laras menjaga lelaki paruh baya itu.


Di dalam mobilnya, Arsya mencoba menghubungi kembali orang yang tadi tak mengangkat panggilannya. Setelah percobaan ketiga dan masih sama saja tak ada jawaban Arsya memutuskan untuk mendatangi orang itu saja.


Ia pun mulai melajukan mobilnya dan mengarahkannya ke sebuah apartemen elit. Tak sabar memburu orang yang telah mengabaikan panggilannya. Begitu sampai di basement, Arsya tak sabar untuk segera naik elevator menuju lantai lima belas, di mana apartemen yang akan ia tuju berada. Arsya memperhatikan setiap nomor apartemen tersebut agar tidak salah, karena ini pertama kalinya ia datang ke gedung ini.


Arsya mulai menekan bel pintu bernomor 1508 tersebut dengan tidak sabar. Setelah menunggu beberapa saat dibukalah pintu itu oleh seorang pria yang sangat Arsya kenali.


"Di mana, dia?" tanya Arsya tak sabar. Ia bahkan tidak ingin berbasa-basi memberikan salam.


"Maksud lo, siapa?" Pria gemulai itu justru bertanya balik.


"Nggak usah berlagak bego, dia di dalam, kan?" Arsya berusaha merangsek masuk saat tak mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Eh ... eh ... eh ... tunggu dulu, lo pikir ini tempat lo!" pria itu mencoba menghalangi Arsya untuk menerobos masuk.


"Minggir nggak, lo!" sentak Arsya.


Di luar dugaan jika pria gemulai di depannya justru berani melawan. "Nggak mau! ini bukan rumah lo ya, jangan coba-coba bikin onar di sini. Gue bisa lapor polisi!" ancam pria itu dengan sorot mata tajam.


"Berani lo ngancem gue!" bentak Arsya tak terima diancam oleh pria jadi-jadian ini.


"Berani lah, lo pikir lo siapa, hah!" Pria itu seolah menantang Arsya.


Mereka pun jadi adu mulut di depan pintu. Hingga suara seseorang yang ingin Arsya temui muncul dari dalam dan membuat mereka saling terdiam.


"Siapa, Mer?"


Tanpa menunggu jawaban dari seorang pria yang dipanggil Merry wanita itu justru langsung melihat siapa yang datang. Senyum di bibirnya langsung tersungging kala tahu jika Arsya lah tamunya.

__ADS_1


__ADS_2