Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 63 Saling Memikirkan


__ADS_3

Jimmy kembali ke Jakarta sehari setelah acara grand opening selesai. Bersamaan dengan Arsya yang kembali dari Malaysia untuk pemotretan. Arsya masih betah numpang di apartemen Jimmy dari pada harus tinggal sendiri di apartemen miliknya.


"Tumben lo langsung balik selesai kerja, nggak hang out dulu," ujar Jimmy dari dapur.


Sebenarnya Jimmy perhatikan sejak keluar dari tahanan Arsya sudah banyak berubah. Pun ketika ia kembali bekerja, banyak sekali perubahan pada diri model itu. Selesai kerja Arsya lebih memilih pulang dari pada hang out dengan teman-temannya seperti dulu.


Banyak kebiasaan Arsya yang berubah. Tentunya ke arah yang lebih positif. Sekarang Arsya lebih rajin beribadah dari sebelumnya. Ia juga meminta Jimmy untuk pilih-pilih pekerjaan. Tidak seperti dulu, hampir setiap tawaran kerja selalu ia ambil. Sekarang bukan uang atau popularitas yang Arsya kejar. Hanya menyalurkan bakat sembari menyibukkan diri agar tidak banyak memikirkan masa lalu.


Juga ada hal yang tak pernah Arsya lewatkan, yaitu mengunjungi makam orang tua dan anaknya. Hal itu Arsya lakukan rutin setiap minggu.


Ada hal aneh juga yang membuat Jimmy terheran-heran, yakni salat malam. Dulu tak sekali pun Jimmy melihat Arsya melakukan salat malam tapi sejak keluar dari tahanan, pria itu sering kali melihat Arsya terbangun dan menunaikan salat.


Dua tahun di dalam sana sikap Arsya berubah. Apakah di dalam sana ada sekolah kepribadian yang membuat temannya yang dulu minim akhlak jadi beradab. Entahlah.


"Gue capek," sahut Arsya dari ruang tamu.

__ADS_1


Jimmy datang dan menyodorkan kaleng minuman soda yang diterima Arsya dengan ucapan terima kasih. Bahkan hal sekecil ini pun dulu tak pernah Arsya lakukan. Pria itu dulu begitu angkuhnya untuk sekadar bilang terima kasih.


Jimmy duduk di samping Arsya, membuka kaleng minuman lalu meneguknya. Untuk sesaat mereka terdiam. Sibuk dengan ponsel masing-masing.


"By the way, sebenarnya apa sih yang lo minta saat salat malam. Jujur gue penasaran. Kok lo rajin banget bangun buat salat malam?"


Arsya menoleh sesaat mendengar pertanyaan Jimmy. Ia letakkan ponselnya, Lalu meneguk minuman soda di tangannya. "Apa lo kurang kerjaan sampai pengen tahu apa yang orang lain minta dalam doanya?"


Jimmy mencebik kesal dengan tanggapan Arsya. Sedangkan Arsya tak peduli dengan Jimmy yang langsung memalingkan muka. Memilih kembali sibuk dengan ponselnya.


Alisha bukan lagi wanita yang boleh untuk ia harapkan. Ia harus menghapus semua perasaan dan asa untuk bisa kembali bersama.


******


Di kota Solo, di rumah tempat tinggal Alisha.

__ADS_1


Wanita itu sedang berbicara di telepon dengan Imran. Hanya Imran satu-satunya yang Alisha percaya untuk ia bercerita tentang hidup dan isi hatinya.


"Alisha sudah melakukanya Pakde, Alisha sudah melakukan salat istikharah yang Pakdhe suruh, tapi Alisha belum mendapatkan petunjuk melalui mimpi," ujar Alisha di telepon.


Sejak ia kembali bertemu Arsya, hatinya perlahan mulai goyah untuk melanjutkan masa depan bersama Fatih. Alisha memang menerima Fatih dengan harapan pria itu mampu menggantikan Arsya dalam hidupnya.


Namun, semakin hari hatinya justru semakin tidak tenang. Arsya benar-benar telah mengusik hidupnya, terlebih dengan keinginan pria itu untuk rujuk. Semua membuat Alisha seperti telah mengkhianati Fatih dengan masih memikirkan Arsya. Sebab itulah Imran menyarankan Alisha untuk melakukan salat istikharah.


"Alisha, jawaban dari salat istikharah itu tidak selalu lewat mimpi. Ketika jalanmu dipermudah untuk mencapai tujuanmu, itu juga jawaban dari istikharahmu."


Alisha mulai memikirkan semuanya. Mungkin memang Fatihlah yang terbaik untuknya. Sebab Alisha merasa jalannya menuju pernikahan dengan Fatih begitu mudah.


Restu dari ibunda Fatih yang awalnya tidak di dapat, akhirnya bisa dengan mudah turun. Sekarang ia sudah memesan cincin pernikahan, gaun pengantin juga sudah dipesan secara khusus sesuai keinginan Wanda di butik langganan ibunda Fatih itu. Pun persiapan pernikahan sudah rampung delapan puluh persen. Semua seakan mudah ia lewati bersama Fatih.


Apakah itu artinya Alisha sudah harus menghapus nama Arsya dari hidupnya. Seperti dulu ketika ia berusaha memulai hidup baru tanpa ada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2