Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 21 Semua Pura-pura


__ADS_3

Arsya tidak paham dengan apa yang terjadi. Ia hanya ingin mencium istrinya tapi reaksi yang diberikan Alisha seolah begitu berlebihan. Bahkan sekarang ini wanita ini tak henti mengeluarkan air mata.


Wanita itu menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk. Bahunya berguncang, terlihat betapa tangisnya menderas.


Arsya yang heran ingin mencoba menenangkan setidaknya membuat istrinya itu berhenti menangis. Ia menyentuh bahu Alisha yang kemudian ditepis dengan kasar oleh istrinya itu.


"Sorry," ucap Arsya. Ia segera mengangkat tangannya ke atas. Sebagai tanda ia tidak akan menyentuh Alisha lagi.


"Bangunlah, ayo kita duduk di sofa," ajak Arsya. Kali ini ia hanya melihat dan menunggui Alisha untuk bangun sendiri tanpa bantuannya.


Alisha menyusut air matanya, ia menatap Arsya masih dengan ketakutan yang melanda.


"Gue nggak akan nyentuh lo." Arsya meyakinkan.


Perlahan Alisha mulai bangkit, ia berjalan lemas ke arah sofa di ikuti Arsya di belakangnya. Sesekali menoleh sebab curiga.


"Duduklah, gue ambilkan minum." Arsya keluar mengambil segelas air untuk Alisha.


Ia meletakkannya di meja, tepat di hadapan Alisha agar istrinya itu bisa mengambilnya sendiri. Alisha menandaskan air dalam gelas tersebut lalu menunduk sembari terus memegang erat gelas kosong di tangannya.


Saat Arsya duduk di sampingnya, Alisha langsung menjaga jarak. Melihat sikap dan reaksi Alisha, akhirnya Arsya memutuskan memberi ruang bagi istrinya untuk sendiri.


"Gue akan tidur di luar," ujar Arsya. Ia pun berdiri dan mengambil bantal serta selimut yang biasa ia pakai untuk tidur.


"Aku saja yang tidur di ruang tamu, Mas," ujar Alisha menghentikan langkah Arsya.


"Udah, lo di kamar aja, biar gue yang tidur di luar." Arsya bersikeras. Ia tetap keluar dengan membawa bantal dan selimut.


Alisha kembali menangis melihat pintu kamar ditutup. Sampai kapan ia akan seperti ini. Ia letakkan gelas di tangannya lalu merebahkan dirinya di sofa.


Sejak mereka menikah, baru kali ini Arsya tidak berlaku dingin. Bahkan tadi ketika pria itu berusaha mencumbunya, Arsya melakukannya dengan cara yang halus. Tapi kenapa ia tetap ketakutan.


Sekali pun sejak mereka menikah, belum pernah Arsya dan dirinya melakukan hubungan suami istri. Bagi Alisha itu sangat menguntungkan dirinya karena ia masih belum bisa menghilangkan ketakutan akan sentuhan Arsya.


Namun, apakah ini dibenarkan dalam agama. Alisha bisa melihat sorot mata suaminya yang tadi begitu mendamba dirinya, tapi ia tak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.

__ADS_1


Apakah keputusan menerima pinangan Arsya dulu terlalu terburu-buru. Alisha tak bisa mendeteksi trauma dalam dirinya sendiri. Sehingga kini ia baru menyadari bahwa pernikahan ini tidak mudah baginya untuk ia jalani. Awal tanpa cinta dan penuh trauma menjadi beban tersendiri bagi dirinya.


Dalam carut marut masalah yang memenuhi benaknya Alisha jatuh dalam rasa lelah. Ia tertidur di sofa sendirian.


Pagi hari ketika ia keluar kamar ia sudah melihat Arsya bangun. Tidak seperti biasanya. Pria itu sedang berdiri di dekat jendela sedang menelepon seseorang.


Arsya langsung mematikan ponselnya begitu melihat Alisha.


"Udah bangun?" sapa Arsya.


Yang dijawab anggukan oleh Alisha.


"Apa sudah lebih baik?"


Alisha kembali mengangguk.


Alisha nampaknya belum mau terlalu banyak berinteraksi dengannya, sebab itu Arsya memilih untuk membiarkan Alisha sendiri. "Buatkan aku kopi," pinta Arsya sebelum pria itu masuk ke dalam kamar.


Alisha mengerjakan tugas paginya seperti rutinitas sebelumnya, bersih-bersih dan membuat sarapan. Tak lupa kopi yang tadi Arsya minta. Seolah ingin menghindari Arsya, begitu suaminya itu keluar kamar Alisha ganti masuk ke kamar.


Ia bersiap untuk bekerja seperti biasanya. Ia tak ikut sarapan bersama Arsya sebab ia sudah menatanya sebagai bekal.


"Untuk apa?"


"Aku ... aku kangen mereka, Mas "


"Semalam aja," jawab Arsya dengan pandangan yang tak beralih dari layar ponselnya.


"Terima kasih, Mas." Alisha mengulurkan tangannya untuk berpamitan. Ia sudah mengatakan pada dirinya sendiri sejak semalam jika ia dan Arsya sudah menikah. Tidak sepatutnya ia menghindari bersentuhan dengan pria tersebut.


Kini, justru Arsya yang menatap ragu saat Alisha ingin berpamitan. Tak urung jua ia berikan tangannya untuk dicium Alisha. Sebelum istrinya itu melepaskan tangannya Arsya justru menggenggam erat dan sedikit membuat gerakan menarik Alisha agar wanita itu mendekat.


Alisha langsung berusaha mempertahankan diri. Terlihat sorot takut itu kembali muncul.


"Pergilah," ujar Arsya yang menyadari sorot mata Alisha kemudian melepaskan tangan istrinya.

__ADS_1


Pria ini memang tidak peka. Alisha sudah berjuang mati-matian untuk bisa menghalau ketakutan dalam dirinya, tapi Arsya selalu mencari celah untuk kembali membuat Alisha terperangkap dalam ketakutan.


Usai menyelesaikan sarapannya, Arsya langsung ke kantor Jimmy.


"Gimana, Jim?" tanya Arsya.


"Nampaknya kehadiran Alisha semalam berdampak positif buat karir lo. Di sosial media banyak yang mendukung lo dengan Alisha. Pesan gue, jangan lo rusak lagi citra yang udah dibangun ini. Kecuali kalau lo udah pengan out dari dunia hiburan ini," jawab Jimmy.


Senyum sumringah tersungging di bibir Arsya. Tak disangka jika rencananya menghadirkan Alisha dalam konferensi pers berhasil. Ini yang ia inginkan, simpati publik.


"Gue harus akui kalau lo benar-benar pria brengsek. Kepura-puraan lo berhasil membuat mereka percaya," ujar Jimmy. Entah apa niatnya. Sebab ucapannya bagai pujian namun sangat menyebalkan.


"Istri sendiri aja lo manfaatin, bener-bener nggak punya hati, lo!" sambung Jimmy.


Arsya tak tersinggung. Ia justru tertawa dengan apa yang Jimmy ucapakan.


"Nih, tawaran buat lo dan Alisha tampil di acara talk show." Jimmy menyodorkan ponselnya agar Arsya bisa melihat pesan yang dikirim untuk manajernya itu.


"Ada juga tawaran pemotretan untuk produk parfum. Tapi mereka ingin lo tampil bareng dengan Alisha."


Arsya sedikit kaget. Ada tawaran iklan tapi untuk dia dan Alisha. Apa tidak salah.


"Lo nggak salah, Alisha kan bukan model gimana ia dapat tawaran?"


"Ya karena mereka melihat akting lo semalam. Keromantisan yang lo pertontonkan itu berhasil menipu mereka."


Arsya nampak berpikir. Sekejap kemudian berkata, "Ok, lo ambil aja."


"Lo yakin nggak tanya dulu sama Alisha. Dia mau nggak, dia setuju nggak?"


"Itu urusan gue. Pasti dia mau."


"Istri lo juga manusia, dia berhak untuk menolak kalau dia nggak mau. Jangan dipaksa!"


"Gue nggak akan maksa, dia istri gue ya harus nurut gue lah," jawab Arsya percaya diri.

__ADS_1


"Gila, lo!" cibir Jimmy.


Arsya tak peduli. Ini adalah kesempatannya untuk membuat namanya kembali naik. Ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang tak datang dua kali ini. Kalaupun harus melibatkan Alisha, tak jadi soal untuknya. Baginya, karirnya layak untuk diperjuangkan.


__ADS_2