Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 104 Jenna dan Devon


__ADS_3

"Jadi mereka belum ditemukan?" tanya Arsya kemudian menyesap kopi hitam yang baru saja dibuatkan Alisha.


"Belum, Mas. Sudah seminggu ini Jenna dan pengawalnya tidak datang ke apartemen. Bahkan dari informasi yang saya dapat, Jenna juga sudah lama tidak datang ke agensi tempatnya bernaung.


Arsya mulai berpikir ke mana Jenna pergi. Sudah satu minggu sejak ia memerintahkan Anton untuk mempertemukan dirinya dengan si rambut blonde itu tapi belum juga terlaksana karena gadis itu justru pergi entah ke mana.


"Kalau begitu kamu cari terus sampai ketemu. Begitu ada kabar tolong hubungi aku. Aku tetap ingin bertemu dengannya."


"Baik, Mas."


*****


Sama halnya dengan Arsya dan Anton yang kebingungan mencari di mana Jenna, presdir yang baru saja menyadari jika Jenna kabur bersama Devon begitu murka.


"Temukan mereka secepatnya dan bawa ke hadapanku!" titahnya pada orang suruhannya.


"Baik, Pak." Dua orang pria bertubuh kekar dan berpenampilan garang segera pamit untuk melaksanakan tugas.

__ADS_1


Setelah kepergian dua anak buahnya, pria itu teringat akan dokumen yang dulu ia bawa dari London dan telah ia simpan di kamarnya. Tanpa pikir panjang ia segera menghubungi asisten rumah tangga agar memeriksa dokumen yang ia letakkan di laci kamar.


Menunggu kabar dari orang rumah, pria tua itu berjalan mondar-mandir. Tidak sabar untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Lima menit kemudian, ponselnya berdering. Panggilan dari telepon rumah. Ia semakin marah ketika diberitahu jika di di dalam laci yang ia maksud tidak ada apa pun. Dokumen yang dimintanya untuk dicari pun sudah tidak ada.


"Berengsek! Berani sekali kalian mempermainkan aku. Kalau ketemu akan aku buat perhitungan pada kalian berdua!"


Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu kabar dari dua anak buahnya yang baru saja berangkat. Meski kemarahan dan kekesalan bercokol dalam hatinya.


"Dasar Bedebah kecil, aku tidak akan mengampuni kalian!" umpatnya lagi.


*****


"Terima kasih ... terima kasih sudah mau membantuku," ujar Jenna.


"Aku suka tinggal di sini. Pemandangannya bagus juga damai. Yang paling penting adalah tidak bertemu dengan pria tua itu." Jenna menatap Devon yang duduk berhadapan dengannya di atas batu besar di aliran suangai.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu masih mau membantuku?"


Devon tidak menjawab. Ia sendiri sedang memikirkan alasan kenapa mau dia membantu gadis yang menjadi tawanannya. Padahal dia tahu persis akibat dari mengkhianati bosnya.


Namun, kenapa dia masih saja melakukannya. Bahkan tidak ada rasa takut sama sekali kalau pun harus tertangkap bosnya dan akhirnya disingkirkan.


"Hei ...." Jenna menjentikkan jari di depan wajah Devon.


Membuat pria itu tersentak dan sadar. Dengan tatapan bingung mengenai apa yang baru saja terjadi.


Melihat Devon yang masih bengong entah memikirkan apa, Jenna mengambil sedikit air dengan telapak tangannya lalu mencipratkannya ke wajah Devon.


Sontak pria itu kaget dan reflek melotot menatap Jenna. Bukannya minta maaf Jenna malah kembali mengambil air dan menyipratkannya lagi ke wajah Devon.


Mata Devon langsung mendelik, dengan kuat pria itu mendorong Jenna hingga jatuh tercebur. Tak terima dengan perlakuan Devon, Jenna menarik lengan pria itu agar basah bersama. Bagai anak kecil Devon dan Jenna bermain air.


Perasaan aneh mendadak mengusik Devon. Entah mengapa ia suka melihat Jenna tersenyum lepas. Muncul desiran dalam hati melihat kebahagiaan Jenna.

__ADS_1


__ADS_2