
Arsya tertawa dengan sikap Alisha yang mendadak mendorong tubuhnya. "Kenapa?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
Alisha yang masih gugup langsung menatap ke depan, menghindari sorot mata Arsya. "I-itu, mobilnya sudah jalan." Alisha menunjuk mobil di depannya.
"Baiklah, kita lanjutkan nanti di kamar," goda Arsya dengan mengerlingkan matanya lalu mulai menjalankan mobilnya.
Sontak saja Alisha menoleh pada suaminya itu, bukannya membuatnya tenang malah membuatnya makin ketakutan akan ucapannya barusan.
Dalam perjalanan pulang Arsya menjawab apa yang tadi Alisha tanyakan. Ia bilang itu hanya gosip belaka, dan meminta Alisha untuk tak serius menanggapinya. Pria itu juga meminta maaf atas kejadian tak pantas yang dulu pernah Alisha lihat di ruang tamu apartemen mereka.
Arsya bahkan mengakui dirinya pernah menyukai dan sempat menaruh hati pada selebritis tersebut. Tetapi ia juga menyakinkan jika itu hanya masa lalu. Sekarang ia hanya menganggap wanita itu adalah bagian dari pekerjaannya. Tidak ada lagi rasa untuk sang aktris. Akunya dengan jujur.
Tiba-tiba Arsya meraih tangan sang istri. Alisha yang sedari tadi menjadi pendengar yang baik sedikit tersentak kala tangan yang ada di atas pangkuannya mendadak terangkat dan kini dikecup lembut oleh pria yang sejak tadi menjadi objek pandangannya.
"Maaf, maaf untuk semua perlakuan burukku padamu." Arsya menoleh sekilas pada Alisha.
Alisha diam terpaku. Apa yang Arsya ucapkan ini bukan mimpi bukan. Seorang Arsyanendra meminta maaf padanya.
Pria itu bahkan tak melepaskan tangan Alisha sejak ia menggenggamnya.
"Hei, kenapa kamu diam saja?"
"A-aku ...." Alisha bingung harus menjawab apa.
Mengetahui akan kebingungan istrinya, Arsya lebih memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Sejak umur berapa kamu mulai tinggal dengan Pakdhe Imran?"
"Sejak aku SMP," jawab Alisha singkat.
Selama ini Arsya hanya tahu wanita yang ia nikahi sudah menjadi yatim piatu dan tinggal bersama dengan pakdhenya. Ia tidak pernah tahu lebih dalam kisah tentang Alisha. Dalam perjalanan pulang ini pria itu banyak sekali bertanya tentang masa lalu Alisha.
Tidak tahu apa tujuannya tapi pertanyaan-pertanyaan yang Arsya lontarkan bisa mengusir kecanggungan yang biasanya tercipta jika mereka berdua saja. Arsya banyak sekali bicara hari ini. Berbeda sekali dengan Arsya yang pertama kali Alisha kenal. Bahkan pria itu sering tersenyum pada Alisha dan beberapa kali melontarkan kalimat candaan.
__ADS_1
Begitu pun ketika mereka sampai di apartemen. Sikap Arsya sangat berubah. Mulai dari membukakan pintu mobil untuk Alisha juga menggandeng wanita itu sepanjang jalan menuju unit milik mereka. Saking tak percayanya Alisha terus memandangi wajah suaminya.
"Kenapa?" tanya Arsya ketika mereka sampai di depan pintu apartemen.
Alisha hanya menggeleng.
"Aku tahu, kamu pasti jatuh cinta padaku, bukan?" goda Arsya.
Tak ingin menjawab pertanyaan konyol sang suami, Alisha lebih memilih untuk masuk lebih dulu dan meninggalkan Arsya di depan pintu.
Hal pertama yang Alisha lakukan begitu masuk kamar adalah menghirup aroma kamar itu kuat-kuat. Aroma yang seharian ini tak mengisi indera penciumannya dan membuatnya begitu rindu. Ada wangi Arsya di kamar ini.
Ah ... Alisha. Ia selalu terbuai dengan wangi pria itu.
Sebelum Arsya melihatnya senyum-senyum sendiri karena bahagia bisa menghirup wangi sang suami, Alisha memilih untuk segera meletakkan tasnya dan bergegas ke kamar mandi.
Ia ingin segera istirahat, setelah kemarin ia tak bisa tidur karena harus bergantian menjaga pakdhenya. Untung saja tadi ia sudah salat di musala rumah sakit.
Ia pun segera menyelesaikan menyisir rambutnya agar bisa segera istirahat. Melihat gorden kamar yang terbuka, ia berniat akan menutupnya.
Namun, pemandangan kota dari atas lantai kamarnya membuat Alisha tersenyum. Ia urung menutup gorden tersebut. Bahkan terbesit dalam pikirannya untuk keluar dan melihatnya dari balkon.
"Selama ini aku ke mana? Kenapa baru sekarang aku melihat pemandangan malam kota Jakarta seindah ini," gumam Alisha pada diri sendiri.
Alisha mengingat-ingat kesehariannya selama tinggal di apartemen ini. Tak pernah ada waktu seluang ini. Hari-harinya berjalan monoton tanpa hiburan. Ia sampai geleng-geleng kepala mengingat hidupnya yang membosankan.
"Ya Allah, ternyata aku sudah melewatkan keindahan ini cukup lama. Mulai hari ini aku harus menjadikan tempat ini tempat favorit." Alisha masih berbicara sendiri.
Ia semakin menikmati semilir angin malam dari balkon kamarnya. Sampai memejamkan mata untuk lebih merasakan kehadiran angin yang menerpa wajahnya. Rambutnya bahkan berkibar tak beraturan, tapi Alisha suka.
Mendadak hawa dingin begitu terasa menyapu kulitnya bersamaan dengan bisikan yang ia dengar. "Kamu suka?" bisik Arsya tepat di telinga Alisha.
__ADS_1
Kontan ia menoleh, dan mendapati Arsya sudah berada tepat di belakangnya. Tak ingin berada dalam posisi yang terlalu dekat dengan suaminya, buru-buru Alisha ingin pergi.
Namun tertahan oleh Arsya. Pria itu mendadak memeluknya dari belakang. Kepala pria itu bahkan disandarkan di pundak Alisha. Membuat Alisha tak bisa ke mana-mana.
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Alisha bahkan tak bergerak sama sekali. Seolah terkunci dengan rengkuhan Arsya.
Hingga dirasanya bibir Arsya menyentuh lehernya. Membuat tubuhnya tak hanya meremang tapi juga gemetar.
"Mas ...," lirih Alisha.
"Hmm ...."
"Tolong ...."
"Aku hanya ingin memelukmu sebentar," potong Arsya cepat. Sebab ia tahu pasti Alisha ingin menolaknya.
Meski mulai ketakutan, Alisha hanya mampu terdiam. Meredam detak jantungnya yang semakin cepat juga gemetar tubuhnya yang perlahan mulai terasa.
Alisha memejamkan matanya sekaligus menggenggam erat tangannya sendiri. Bukan ingin menikmati tapi berusaha menahan rasa takut yang semakin muncul kala bibir Arsya mulai menyusuri lehernya hingga ke telinga.
Tangan pria itu pun mulai bergerak menelusup masuk ke dalam piyama biru tua yang ia kenakan. Alisha semakin dibuat tak berdaya dengan gemetar hebat tubuhnya kala tangan Arsya menyentuh kulit perutnya.
Awalnya hanya mengusap di sana, tapi perlahan tangan itu bergerak naik ke atas dan Alisha tak mampu lagi menahan semuanya. Ia segera menahan tangan Arsya dari luar. Membuat tak hanya tangan pria itu, tapi juga gerakan bibirnya terhenti secara spontan.
"Kenapa?"
Alisha tak mampu menjawab tapi air mata yang menetes membuat Arsya tersadar. Laki-laki itu pun menurunkan tangannya, keluar dari piyama istrinya. Pun ia menarik wajahnya untuk menjauh.
Perlahan memutar tubuh Alisha.
Melihat tangis yang meleleh di kedua pipi sang istri membuat Arsya segera membawa Alisha dalam dekapannya. Memeluk wanita itu erat dan berkata, "Maaf."
__ADS_1