
"Hai ... inget aku, nggak?" tanya Anggi pada seorang pria yang dulu menyelamatkannya dari para berandalan.
Arsya menoleh, mencoba mengingat siapa yang tengah mengajaknya berbicara.
"Aku yang kamu tolong beberapa hari lalu dari para pemuda berandalan." Anggi mencoba mengingatkan. Ia bahkan menyebutkan lokasi di mana ia diganggu oleh pemuda berandalan ketika mobilnya mogok dan akhirnya diselamatkan oleh Arsya. Tak lupa menyebutkan nama apartemen di mana Arsya mengantarkannya.
Arsya terlihat berpikir keras untuk menemukan ingatan kejadian lalu seperti apa yang Anggi terangkan.
"Inget, kan?"
Arsya mengangguk pelan. "Ya."
Anggi tersenyum senang karena akhirnya sang penyelamat mengingat dirinya. Ia pun mengulurkan tangan. "Waktu itu kita belum sempat kenalan ... aku Anggi."
Arsya menatap tangan Anggi yang terulur sebelum akhirnya menjabatnya. "Arsya."
"Terima kasih untuk waktu itu. Maaf, dulu langsung pergi."
"Tidak apa."
Anggi menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah mencari sesuatu. "Kok nggak gabung sama yang lain?"
"Aku sudah mau pulang."
Anggi melirik jam di tangannya. "Ehm ... ini baru jam sebelas, lho."
"Aku tahu."
Anggi jadi keder sendiri karena Arsya hanya sedikit sekali berkata-kata. Menanggapi ucapannya hanya sekadar saja. Padahal niat hati ingin mengajak Arsya lanjut mengobrol sembari menikmati koktail atau apa pun yang disajikan di dalam acara.
"By the way, kamu kok bisa jadi brand ambassador produknya Mama?"
Arsya mengernyit heran. "Mama?"
"Iya, Mama ... Nita Paramitha Gunawan, adalah mamaku."
"Oh ...." Arsya tak lagi melanjutkan ucapannya. Sebab ia tak tertarik untuk berbincang dengan gadis di sampingnya ini. Pikirannya hanya bisa segera sampai ke rumah.
Hingga ruang sunyi mengisi di antara Anggi dan Arsya untuk sesaat. Sebelum akhirnya Jimmy datang dan menepuk pundak Arsya dari belakang. "Lama nunggunya?"
Sedikit tersentak, Arsya menoleh melihat siapa yang telah menepuk bahunya. "Nggak cuma lama, udah lumutan gue," jawab Arsya kesal. "Ngapain sih, lo, lama banget!"
"Sorry ... sorry, gue ngobrol dulu sama Tante Nita." Melihat ke samping Arsya, Jimmy baru menyadari jika ada orang lain di antara dirinya dan Arsya.
"Siapa?" Jimmy menyenggol Arsya.
__ADS_1
Melirik sekejap pada Anggi. "Anaknya Tante Nita."
"Benarkah?"
Anggi mengangguk.
"Kok gue nggak tahu Tante Nita punya anak gadis secantik ini," ujar Jimmy memuji.
Dan yang dipuji langsung senyum-senyum.
"Namanya siapa?"
"Anggi."
"Nama yang cantik, secantik orangnya."
Melihat Jimmy yang mulai tebar pesona, dengan sengaja Arsya menginjak kaki manajer itu.
"Awww ...!" Jimmy mendelik menatap Arsya. "Ada masalah apa sih, lo sama gue!"
"Masalahnya lo nggak kasih gue kunci mobil biar gue bisa pulang sendiri."
"Ish ... gitu aja ... bilang dari tadi!" Jimmy pun merogoh sakunya dan memberikan kunci mobil pada Arsya.
Tanpa pamit sang model pergi begitu saja.
"Maaf ya, gue harus pergi." Jimmy berlari meninggalkan Anggi. Baru beberapa langkah ia kembali. Menjabat tangan Anggi dan berkata, "Gue Jimmy, manajer Arsyanendra." Lalu kembali berlari menyusul Arsya keluar.
Anggi yang menyaksikan tingkah konyol Jimmy sampai tertawa sendiri.
"Kok ketawa sendiri, ada apa?"
Anggi melihat siapa yang sedang berbicara. "Papa! Papa sendiri ngapain di sini?"
"Papa sejak tadi berdiri di sana." Gunawan menunjuk lokasi di mana ia sejak tadi memperhatikan putrinya.
"Ngapain di sana?" tanya Anggi curiga.
"Melihat keberanian anak Papa," jawab Gunawan terkekeh.
Anggi bingung dengan jawaban Gunawan, tapi ia yakin ada sesuatu.
"Iya, melihat kamu membuktikan jika kamu bisa mendekati pria yang kamu inginkan sendiri tanpa bantuan Mama dan Papa."
"Apaan sih, Pa." Anggi tersipu malu.
__ADS_1
Melihat putrinya yang begitu kentara menunjukkan ketertarikan pada seorang pria, Gunawan langsung merangkulnya.
Di sisi lain, Jimmy terus berlari mengejar Arsya. Untung saja pria itu tidak ketinggalan. Ia berhasil mengejar Arsya meski harus pergi dari pesta tanpa pamit. Tidak apalah karena di mobil ia segera mengirimkan pesan pada Tante Nita jika ia pulang lebih dulu tanpa pamit seperti biasa, toh acara juga sudah selesai.
Sikap Arsya semakin membuat Jimmy kesal, ketika pria itu mengarahkan mobilnya ke rumah orang tua Arsya.
"Lho, Sya, kok nggak anter gue dulu?" protes Jimmy ketika melihat ke mana mobil diarahkan.
"Gue buru-buru, ada urusan penting. Entar lo pulang sendiri aja."
"Wah ... wah ... mulai nggak sehat lho, masak iya gue harus putar balik. Harusnya kan di belokan tadi udah bisa sampai ke apartemen gue." Jimmy menoleh ke belakang di mana ada belokan yang bisa mengarah ke apartemennya tapi Arsya justru melewatkannya dan membawa mobil terus melaju ke arah rumah orang tuanya.
"Cuma putar balik doang, lagian lo kan nganggur. Kalau gue ada urusan penting."
"Urusan penting apa maksud, lo?"
"Ini urusan seorang suami. Lo nggak bakal paham," jawab Arsya terkekeh.
Sekita Jimmy mencibir. Tahu benar ke arah mana Arsya akan mengejeknya.
"Kenapa lo kicep? mikir keras, lo?" goda Arsya.
"Diem lo, Sya. Mending fokus ke jalan biar kita selamat dan lo bisa secepatnya menyelesaikan urusan lo yang penting itu."
Arsya terbahak-bahak mendengar ucapan kekesalan Jimmy.
Sampai di depan rumah, Arsya segera turun dan menggantikannya di posisi supir. Manajer itu tak pamit apa lagi turun, ia segera tancap gas begitu berada di posisi kemudi.
Tak sabar, Arsya mengetuk pintu. Tidak seperti biasa, kali ini pak Tarjo yang membuka. Dalam hati, Arsya menduga jika Alisha memang tengah menunggunya di dalam kamar seperti ucapan wanita itu sebelum ia pergi tadi.
Sedikit berlari Arsya menaiki anak tangga. Pelan-pelan ia membuka pintu untuk memberi kejutan pada Alisha.
Sayangnya, ketika ia sudah masuk justru ia yang dikejutkan oleh Alisha. Wanita itu rupanya sudah tertidur di atas ranjang. Dengan ponsel yang masih menyala, menampilkan sebuah drama korea yang sebelumnya di tonton Alisha.
Arsya hanya tersenyum melihat wajah cantik istrinya. Ia ambil ponsel yang ada di samping Alisha. Menyentuh ikon keluar dari aplikasi menonton sebelum meletakkan ponsel Alisha ke atas nakas.
Tidak lupa membetulkan posisi tidur Alisha agar nyaman dan menutup tubuh ramping Alisha dengan selimut.
Arsya tidak lantas pergi. Ia justru duduk di tepi ranjang sembari menggenggam tangan Alisha. "Terima kasih ... terima kasih untuk kesempatan kedua yang kamu berikan. Aku bahagia bisa bersamamu."
Dikecupnya tangan Alisha juga kening wanita itu. Sentuhan bibir Arsya membuat Alisha terbangun dari tidur.
"Mas ...," ucap Alisha lirih.
Melihat mata Alisha terbuka, Arsya langsung membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya. Seakan tak melewatkan kesempatan mumpung Alisha sudah terbangun.
__ADS_1
Di kala hasrat mulai tersulut, Alisha memadamkannya tanpa ampun dengan berkata, "Mas, aku masih haid."
Rasanya tubuh Arsya lemas seketika. Kobaran api dalam tubuhnya seolah dipaksa padam dengan siraman air es.