Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.107 Membujuk


__ADS_3

"Tampar saja terus, bahkan kalau kamu membunuhku sekalipun aku tetap tidak akan sudi lagi menjadi budakmu. Persetan dengan janjimu dulu yang akan mempertemukan aku dengan keluarga kandungku!" ujar Jenna berapi-api.


Setelah sekian lama hidup tenang di sebuah panti asuhan bersama dengan Devon, akhirnya ia kembali ditangkap oleh anak buah presdir. Pria tua itu rupanya belum bisa melepaskan Jenna begitu saja.


"Ikat dia lagi dan jangan dikasih makan sebelum dia berjanji akan menurut," titah lelaki tua itu pada anak buahnya.


Kembali Jenna di kurung di sebuah ruangan dengan tangan dan kaki terikat. Hukuman itu jauh lebih ringan dari pada yang Devon terima. Setiap hari pria yang berani mengambil keputusan untuk membantu Jenna itu harus menerima siksaan akibat penghianatannya.


Meski begitu tak sedikit pun Devon gentar apa lagi memohon ampun. Ia menerima semua siksaan dari anak buah bosnya. Sejak bersama Jenna, Devon punya keinginan untuk bekerja yang lebih baik. Tidak lagi mendukung tindak kejahatan yang dilakukan orang lain.


******


Nyatanya hanya satu hari Arsya dan Alisha menghabiskan waktu di cottage. Sebab tidak ada yang pria itu lakukan selain mengurung diri di kamar bersama dengan Alisha.


Rasanya rugi sekali sudah jauh-jauh datang tapi waktunya habis hanya di kamar. Alisha memaksa pulang karenanya.


"Kalau cuma mau sama-sama di kamar di rumah juga bisa, Mas. Tidak perlu jauh-jauh sampai menyewa cottage. Hanya buang-buang uang," ujar Alisha menjelaskan.


Sejak sampai di rumah, tak ada sedikit pun senyum di bibir Arsya. Mukanya selalu ditekuk dengan bibir cemberut. Pria itu bahkan menghindarinya. Kendati demikian Alisha selalu punya cara untuk membujuk Arsya.


"Mas ...," panggil Alisha lirih. Ia mengguncang tubuh Arsya yang pura-pura tidur.


Beberapa kali memanggil tapi tidak direspon membuat Alisha tak menyerah. Ia justru menggelitik perut suaminya. Sontak Arsya menggelinjang karena geli.

__ADS_1


Tidak mau kalah dengan istrinya, Arsya membalas dengan yang lebih kejam. Ia ganti menggelitik Alisha hingga wanita itu memohon ampun.


"Ampun ... Mas, sudah," mohon Alisha.


Kasihan dengan raut Alisha yang kelelahan karena tertawa membuat Arsya berhenti menggelitik perut Alisha. Ia menyaksikan bagaimana napas Alisha yang naik turun akibat ulahnya.


"Nggak marah lagi, kan?" tanya Alisha di tengah napasnya yang ngos-ngosan.


Jujur saja Arsya memang tidak bisa berlama-lama mendiamkan istrinya. Terlebih kondisi sekarang di mana ia maunya hanya terus menempel pada Alisha.


Arsya memang tidak menjawab pertanyaan Alisha tapi pelukan yang ia berikan sudah cukup menjawab semuanya. Akhirnya malam ini mereka kembali tidur dengan memeluk satu sama lain.


Alisha memperhatikan Arsya yang sudah terpejam. Ia tersenyum sendiri mengingat apa yang ia lakukan sebelumnya. Seperti anak kecil saja.


Ada hal yang tidak pernah ia sangka. Pernikahannya kembali dengan Arsya membuat hidupnya lebih bahagia dan berwarna. Seolah ia tengah jatuh cinta.


Meski raga ada dalam pelukan Arsya, tapi angan Alisha terbang jauh mengelana. Tanpa sadar banyak harapan yang terucap dalam doa.


"Jangan terlalu lama memandangku, aku tahu aku tampan," goda Arsya yang ternyata belum benar-benar tidur.


Kalimat itu membuat Alisha langsung mencubit perut Arsya. Tak tangung-tanggung. Arsya bahkan sampai menjerit.


"Jangan memulai kalau tidak ingin berakhir dihukum," ancam Arsya.

__ADS_1


Benar saja, pria itu menghukum Alisha hingga berakhir keramas sebelum menunaikan salat Subuh.


Seperti biasanya, usai salat Alisha akan turun untuk membantu pekerjaan dapur. Sekadar menyiapkan kopi untuk Arsya atau pun membuat sarapan.


Sebelum turun Alisha mengambil hijab instan yang biasa ia pakai di dalam rumah. Begitu membuka lemari, pandangannya berhenti pada pembalut yang masih utuh tersimpan di dalam laci.


Alisha terdiam untuk sesaat. Memikirkan kapan terakhir kali ia memakainya.


"Ada apa?" tanya Arsya karena sejak tadi istrinya tak beralih.


Alisha mengambil pembalut itu dan menunjukkannya pada Arsya.


Arsya mengernyit bingung.


"Aku belum memakainya," ujar Alisha.


"Terus?"


"Aku rasa bulan ini aku tidak dapat menstruasi."


Di situlah Arsya paham. Senyum di bibirnya mendadak terbit.


"Apa itu artinya ...?" Arsya tak berani melanjutkan.

__ADS_1


Alisha menggeleng pelan. "Aku tidak tahu."


"Kita periksa?"


__ADS_2