Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 102 Bawa Aku Pergi


__ADS_3

"Kita sudah sampai," ujar Devon. Menghentikan mobilnya di basement apartemen tempat tinggal Jenna.


Jenna mendengar tapi ia bergeming. Membuat Devon yang berada di sampingnya menoleh penuh tanya. Hingga ia mengulangi kata yang sama.


"Kita sudah sampai."


Tidak ada respon dari Jenna. Devon pun membiarkan gadis itu terdiam. Devon tahu kalau hari ini adalah hari yang sulit untuk Jenna. Meski tidak tahu persis apa yang Jenna rasakan tapi Devon bisa menebak. Ada perang batin yang sekarang bergelut dalam hati Jenna.


Suara notifikasi pesan di ponsel Devon berbunyi. Memecah sunyi yang sebelumnya mengisi.


Jenna yang tadinya memandang hampa lurus ke depan kini menoleh pada pria di sampingnya. Tatapan mereka beradu sesaat sebelum Devon membuka ponsel dan membaca pesan yang diterima.


"Bersiaplah, aku akan mengantarmu ke pusat agensi," ujar Devon setelah membaca pesan.


Jenna menatap Devon serius. "Bawa aku pergi dari sini."


Devon tersentak. Meraba maksud ucapan Jenna.


"Kamu sudah mau membantuku sejauh ini, bisakah kamu membantuku lagi?"


Devon belum menjawab, tapi Jenna kembali melanjutkan kalimatnya. "Aku ingin pergi dari tempat ini. Bawa aku lepas dari pria tua itu. Aku ingin pergi jauh."


Devon tak percaya jika hal ini yang Jenna minta. "Bagaimana dengan keluargamu ... kakakmu?"


"Aku tidak mau ... aku ingin pergi jauh."


Kini Devon yang dibuat bingung. Mana mungkin ia membawa kabur tawanan bosnya. Devon tahu bosnya bukan orang sembarangan. Pria tua itu punya banyak koneksi untuk bisa menemukan mereka dengan cepat apabila kabur.


Lagi pula ke mana ia akan membawa gadis ini kabur?


Ah ... tidak, Devon tidak mau mengambil resiko itu. Pekerjaannya sekarang ini sudah dibilang cukup mapan untuknya setelah ia bertahun-tahun hidup di jalanan. Pria tua itu cukup memberinya materi yang bisa membuatnya hidup layak. Pun mampu membantu orang-orang yang ia kasihi.


Kalau harus pergi dan membawa kabur Jenna pasti akan sangat tidak menguntungkan baginya.


"Kumohon, bawa aku pergi jauh ...." Tatapan Jenna begitu memelas. Memendam asa yang begitu dalam.

__ADS_1


******


Selesai dari tempat pelatihan kerja untuk para designer pemula, Arsya mengantarkan istrinya ke tempat Mbak Ratih. Hanya sebentar. Sekadar untuk bertemu kangen sembari mengutarakan niatnya kemarin.


Mbak Ratih mendukung penuh ide Alisha untuk membuka peluang usaha bagi para designer-designer muda yang terhalang modal untuk memulai usaha.


"Kalau ada kendala apa pun kamu bisa hubungi aku Al, aku akan bantu semampu aku," ujar Mbak Ratih sebelum Alisha pulang. "Pokoknya aku dukung penuh niat baikmu."


"Terima kasih, Mbak. Kalau begitu aku pamit dulu," ujar Alisha. Yang dibalas Mbak Ratih dengan pelukan.


"Kita pulang dulu, Mbak," pamit Arsya menjabat tangan mantan bos istrinya.


"Baik-baik kalian, semoga selalu rukun. Aku tunggu kabar baiknya tentang keponakanku," jawab Mbak Ratih setengah bergurau.


"Doakan ya, Mbak," ujar Arsya.


Mbak Ratih menepuk bahu pria itu. Terus memperhatikan sampai sepasang suami istri itu keluar dari butiknya. Banyak perubahan yang Mbak Ratih lihat dari seorang Arsya.


Arsya yang sekarang jauh dari arogan. Bahkan perasaan cinta Arsya terhadap Alisha bisa Mbak Ratih lihat dari cara Arsya memperlakukan Alisha dengan begitu manis.


Dari tempat Mbak Ratih, Arsya membawa mobilnya menuju sebuah pusat perbelanjaan. Sesuai rencana awal mereka.


Bukan untuk nonton, hanya sekadar jalan-jalan karena Alisha bilang ia ingin makan donat. Sebagai suami, ia pun tak ingin mengecewakan.


Nampak raut wajah ceria Alisha melihat gerai donat yang ia inginkan. Wanita itu bahkan tidak sungkan memesan selusin donat lengkap dengan minumannya.


Tidak ada teguran dari Arsya. Pria itu justru menikmati raut bahagia sang istri. Arsya juga tidak melarang ketika Alisha melahap donat ketiganya.


"Enak?" tanya Arsya.


Alisha mengangguk saja sebab mulutnya masih penuh dengan donat toping coklat yang separuhnya masih di tangan.


"Pelan-pelan saja."


Arsya merasa istrinya kali ini makan tidak seperti biasanya. Terlihat bersemangat sekali. Sampai tidak sadar jika coklat yang menjadi toping donat meluber di bibirnya.

__ADS_1


Melihat ada coklat yang keluar dari sudut bibir Alisha, pria itu mengulurkan tangannya. Dengan ibu jari ia mengusap coklat yang meluber dan langsung menjilatnya.


Sontak Alisha berhenti mengunyah. Apakah sebar-bar itu cara dia makan sampai meluber ke mana-mana.


Segera ia telan potongan donat yang ada di mulut. "Maaf," ujar Alisha malu. Sementara setengah donat yang ada di tangan ia letakkan kembali ke dalam kotak donat.


"Kenapa harus minta maaf, tidak ada yang salah dari makan donat. Teruskan saja."


Alisha menggeleng. "Nanti saja di rumah."


Alisha pun menutup kotak donat. Memasukkannya ke dalam kantong bersama kotak donat lain yang tadi sengaja ia pesan untuk Bi Sumi dan Pak Tarjo di rumah.


Setelah menyesap moccachinno miliknya, Alisha mengajak pulang saja.


"Mas, aku ke toilet dulu, ya." Alisha memberikan kantong donatnya pada Arsya.


Sementara Arsya menunggu di depan lorong menuju toilet.


Begitu keluar dari toilet, Alisha melihat suaminya tengah dikerubungi banyak gadis untuk meminta foto. Tidak ingin mengganggu mereka, Alisha justru menepi. Ia menunggu sampai gadis-gadis yang menurutnya pasti penggemar suaminya ini selesai berfoto.


"Terima kasih, Kak," ujar gadis terakhir yang berhasil berswafoto dengan Arsya.


Senyum ramah Arsya menjadi jawaban dari setiap orang yang meminta berfoto bersama.


Arsya pun mencari Alisha yang rupanya berdiri sedikit jauh di belakang pria itu dan menghampirinya. "Maaf sudah membuatmu menunggu," ujar Arsya.


"Tidak apa, Mas. Itu kan bagian dari pekerjaan Mas Arsya," jawab Alisha dengan mengulas senyum.


Rasanya begitu bersyukur memiliki pasangan yang saling mengerti dan menghormati dalam hal pekerjaan.


"Ayo!" Arsya menggandeng tangan Alisha keluar dari pusat perbelanjaan. Sepanjang jalan menuju mobil, senyum selalu menghiasi bibir keduanya.


Mereka bahkan mengabaikan banyak pasang mata yang memandang. Tidak peduli sedang ada di pusat publik, Arsya dan Alisha hanya ingin menikmati momen kebersamaan mereka.


Hanya dengan bergandengan tangan saja membuat keduanya begitu bahagia. Juga membuat Alisha merasa dihargai.

__ADS_1


"Mbak Alisha?" Suara seseorang membuat Alisha dan Arsya sama-sama menoleh.


__ADS_2