Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab. 68 Pulang Ke Mana?


__ADS_3

"Hati-hati, ya. Semoga pernikahan kamu kali ini dilimpahi kebahagiaan," ujar Salwa tadi pagi saat mengantar Alisha ke bandara.


Salwa sempat kecewa di acara akad nikah Alisha kemarin. Ia bahkan memilih untuk pergi setelah Alisha memutuskan menerima Arsya sebagai pengantin. Salwa tidak habis pikir dengan Alisha yang memutuskan menikah dengan Arsya dalam waktu yang sangat-sangat singkat setelah kakaknya mengatakan untuk membatalkan pernikahan. Sesuatu yang berbanding terbalik dengan sikap Alisha dulu ketika Fatih melamarnya. Wanita itu butuh waktu cukup lama untuk memutuskan.


Namun, setelah pulang ia baru bisa menerima semua alasan kenapa Alisha menerima Arsya. Dari Fatih, Salwa baru tahu jika Arsya adalah mantan suami Alisha. Sejak dulu, Alisha hanya bercerita tentang status jandanya tapi tidak pernah mengatakan siapa mantan suaminya.


Fatih juga memberikan alasan kenapa dia membatalkan pernikahan, dan meminta Salwa untuk tidak memusuhi Alisha. Dari situlah, Salwa bisa berpikir jernih. Ia tetap harus berteman dan bersikap baik pada Alisha sesuai pesan kakaknya. Toh, yang gagal adalah pernikahan Fatih dan Alisha bukan persahabatan mereka.


Sehari setelah akad nikah Arsya harus kembali ke jakarta. Ia pun mengajak Alisha turut serta. Imran dan Laras juga kembali di hari yang sama.


"Aku tunggu kabar baikmu," bisik Salwa ketika memeluk Alisha.


"Apa?" tanya Alisha polos sembari melepas pelukan Salwa.


"Keponakan yang cantik dan ganteng," goda Salwa.


"Ish ... apaan, sih." Wajah Alisha memerah karena malu.


"Nggak usah malu, bukankah itu yang ditunggu dari sebuah pernikahan?"


"Iya, nanti aku kabari," tukas Alisha akhirnya.


Salwa pun melepas kepergian Alisha dengan bahagia. Ia juga berjanji akan membantu mengawasi toko milik Alisha.


"Salwa," panggil Jimmy sebelum pergi. "Boleh minta nomor kamu?"


Salwa bergeming. Menatap Alisha dengan tanya. Sementara yang ditatap hanya tersenyum tanpa arti.


"Minta sama Mas Fatih aja, ya," jawab Salwa.


Membuat Jimmy sedikit kecewa. Ia pun langsung balik badan meninggalkan semua orang untuk segera naik ke pesawat.


Untuk terakhir kalinya Alisha kembali memeluk Salwa untuk berpamitan. "Sampai jumpa lagi," ujar Salwa melambaikan tangannya.

__ADS_1


Butuh waktu kurang lebih satu jam dari Solo untuk sampai ke Jakarta. Dari bandara, Arsya mengajak Alisha langsung ke makam Surya dan Sarah, serta calon anak mereka yang telah tiada. Di depan pusara orang tua dan anaknya, Arsya berjanji akan bersikap baik kepada Alisha. Ia tidak akan mengulang kesalahan dulu.


Arsya memang tidak bisa mengubah masa lalu, tapi ia bisa mengupayakan masa depan. Ibarat kata, Tuhan sudah memberinya kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik untuk menebus semua kekhilafan di masa lalu. Arsya akan memanfaatkannya dengan baik.


Selesai berdoa, sebelum mereka meninggalkan makam, Arsya berkata pada Aisha, "Aku ingin memulai semua dari awal. Layaknya orang baru kenal."


Alisha menoleh menatap Arsya karena ucapan pria itu.


"Dimulai dari kita berkenalan. Dulu, kita tidak sempat berkenalan dengan baik, jadi aku tidak bisa mengenalmu dan tidak bisa menghargai mu. Sekarang ijinkan aku memperkenalkan diriku."


Arsya mengulurkan tangan pada Alisha, "Hai ... kenalkan, aku Arsya. Aku ingin tahu namamu?"


Alisha menatap dingin pada tangan Arsya yang terulur. Cukup lama sampai membuat Arsya mulai gelisah. Pasalnya sejak akad nikah kemarin Alisha tak banyak bicara padanya. Pun, ketika mereka tinggal sekamar karena Imran menyuruh Arsya pulang ke rumah Alisha bukan ke hotel.


"Apa aku boleh kenalan?" ujar Arsya mengulang kalimatnya. Seakan semua benar-benar baru pertama kali.


Mata yang sejak tadi tertuju pada tangan Arsya yang menggantung di udara, kini berpindah menatap mata pria itu. Melihat kegelisahan di raut wajah suaminya, Alisha mengulas senyum. Baru kali ini ia melihat seorang Arsya gugup menghadapinya.


Kasian membiarkan tangan Arsya menggantung terlalu lama, Alisha pun mengulurkan tangan. Ia menjabat tangan pria yang telah sah menjadi suaminya kembali. Bagai orang yang baru berkenalan sungguhan, Alisha menyebut namanya. "Alisha."


"Aku tidak akan melepaskanmu lagi," ujarnya lirih sebagai janji.


Inilah awal kisah baru Arsya dengan Alisha. Ia akan menulis kisah indah bersama Alisha dalam bahtera rumah tangga.


"Semoga bahtera ini berlabuh di surga," ujar Arsya dalam hati. Kembali ia mengecup tangan Alisha dalam genggamannya.


"Hei ... Ini masih di area pemakaman belum di kamar. Tahu diri dikit, kek," ujar Jimmy ketus. Ia jengkel dengan Arsya yang seakan tidak tahu tempat. Di sini bahkan ada Imran dan Laras, tapi Arsya seolah tak melihat.


"Sirik banget sih, lo," jawab Arsya.


"Gimana nggak sirik, di sini cuma gue yang jomlo!"


Arsya dan Alisha tertawa, tak terkecuali Imran dan Laras.

__ADS_1


"Semoga Nak Jimmy segera nyusul ya," ujar Imran.


"Bagaimana mau nyusul Pakdhe, kalau calonnya saja belum ada."


"Nah itu yang bikin lo jadi jomlo abadi. Lo nggak ngerti dikodein ama cewek," ujar Arsya.


"Maksud lo, apa?"


"Di bandara tadi, Salwa udah kasih lo kode tapi lo nggak paham-paham."


Jimmy menggaruk kepalanya. Mengingat kembali ucapan Salwa di bandara. Rasanya nggak ada kode.


"Nah, bener kan lo itu beg ____" Belum selesai kalimat untuk Jimmy, Arsya memekik sakit. Alisha mencubit tangan Arsya yang hendak mengatai Jimmy kasar.


"Sorry." Arsya menoleh pada Alisha.


"Apaan sih maksud lo," desak Jimmy.


"Jadi, tadi kan Salwa minta lo buat tanya ke Fatih soal nomornya. Itu artinya Salwa pengen lo ijin dulu ke Fatih kalau mau deketin dia. Gitu aja nggak paham!"


Jimmy tersenyum sambil manggut-manggut begitu mendengar penjelasan Arsya. "Masuk akal juga," batin Jimmy.


"Dah ah ... pulang, yuk!" Arsya membuka pintu mobil untuk Alisha. Setelah Alisha masuk, disusul Imran dan Laras yang duduk di belakang. Sementara Arsya dan Jimmy akan duduk di depan.


"Jangan ngelamun aja, buruan masuk!" Arsya menarik Jimmy yang masih dalam mode berpikir keras.


"Woy ... sabar dikit kenapa!" protes Jimmy. Tak terima ditarik.


Dari pemakaman, mereka mengantar Imran dan Laras lebih dulu ke rumah mereka, barulah mereka pulang.


"Lo mau pulang ke mana? Nggak mungkin kan kalian pulang ke apartemen gue?" tanya Jimmy setelah Imran dan Laras turun.


Arsya menatap Alisha. Ia belum memikirkan ke mana akan membawa Alisha pulang.

__ADS_1


"Pulang ke mana?" tanya Jimmy lagi.


__ADS_2