Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.15 Skandal Medsos


__ADS_3

Keesokan paginya, Arsya terbangun karena dering ponsel yang tak kunjung berhenti. Masih dengan mata yang enggan membuka, pria itu mengangkat panggilan telepon yang sudah sangat menuntut untuk diangkat.


"Halo," sapa Arsya.


Mata Arsya membelalak seketika setelah mendengar apa yang orang di sebarang sana katakan. Ia segera mematikan ponselnya tanpa bicara sepatah kata pun pada lawan bicaranya di telepon.


Memaksa tubuhnya untuk segera bangkit dan membuka media sosial untuk mengecek perkataan manajernya barusan. Benar saja. Raut marah langsung tergambar jelas di wajah Arsya.


"Apa-apaan ini?" Berkali-kali Arsya menggulir layar pipih tersebut dan membuatnya membanting ponselnya ke sofa dengan kasar.


"Aarrgghh!"


Alisha yang baru saja menyelesaikan salat dhuhanya tergerak untuk bertanya kala melihat suaminya yang menjambak rambutnya sendiri. Nampak frustasi.


"Ada apa, Mas?" tanya Alisha yang masih duduk di atas sajadah.


Arsya menoleh. Ia baru menyadari keberadaan istrinya setelah mendapatkan pertanyaan.


"Nggak ada apa-apa!" jawab Arsya ketus. Pria itu berlalu meninggalkan Alisha ke kamar mandi.


Alisha hanya bisa menguatkan hatinya sendiri menghadapi sikap suami yang tak pernah bisa ia duga. Semalam, pria itu sempat membuat Alisha takut mengambil hijab milik Alisha. Lalu membuat Alisha kembali takut dengan mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Alisha dan setelah itu pria itu pergi mengabaikan Alisha dengan tawa tanpa dosa.


Setelah membereskan mukenanya, Alisha bersiap untuk berangkat kerja. Hanya mekap tipis yang ia aplikasikan di wajahnya. Tepat di saat dia sudah selesai dengan penampilannya, suaminya keluar dari kamar mandi.


Alisha mengambil tasnya dan menghamprii Arsya. "Mas, aku berangkat kerja dulu, ya." Alisha mengulurkan tangannya.


Meski terpaksa, tapi Arsya membalasnya, ia biarkan istrinya mencium punggung tangannya.


"Oh ... ya, Mas, nanti setelah pulang kerja aku mau mampir ke rumah Pakdhe. Boleh, kan?"


"Terserah!"


Meski kecewa dengan jawaban Arsya yang tak acuh, Alisha tetap berusaha mengulas senyum. "Aku sudah siapkan sarapan buat Mas Arsya, juga kopi di meja bar."


Tak ada tanggapan dari pria itu.


"Aku berangkat, Mas."


Sudah biasa seperti ini bagi Alisha, jadi ia pun tak ingin terlalu memikirkannya.


Sejujurnya sikapnya ini selain untuk menghormati dan memuliakan suami juga untuk membantu dirinya sendiri supaya terbebas dari rasa trauma. Ia pikir jika ia terbiasa dekat dan mendekatkan diri pada Arsya akan membuat dirinya sembuh dari ketakutan yang selama ini ia rasakan.


Nampaknya, semua tak semudah bayangannya. Di kala ia berusaha mendekat Arsya justru acuh padanya.


"Assalamualaikum," pamit Alisha yang tak mendapat jawaban dari suaminya. Pria itu justru kembali duduk di sofa tempatnya tadi ia bangun.

__ADS_1


Alisha memilih langsung pergi. Ketika keluar dari apartemen ada beberapa yang menatapnya tak biasa. Alisha berusaha mengabaikan karena merasa tak kenal. Nyatanya sampai di tempat kerja pun banyak teman yang melakukan hal yang sama. Menatap Alisha dengan tatapan aneh. Antara tidak suka dan kasihan.


Sejak kasus pelecehan dulu mencuat ke publik, Alisha seolah sudah terbiasa dengan tatapan miring orang-orang. Seperti sekarang ini ketika ada teman-temannya bergerombol dan mendadak mereka membubarkan diri di saat melihat Alisha datang.


"Kenapa, Al?" tanya Mbak Ratih yang melihat Alisha mematung di anak tangga terakhir.


"Eh, Mbak Ratih, nggak ada apa-apa kok, Mbak. Cuma lagi mikirin apa aja yang kurang untuk persiapan eventnya," jawab Alle berbohong.


"Semua sudah siap, kan?"


"Semua yang Mbak minta sudah ada sih Mbak."


"Ya udah, ayo berangkat."


Hari ini Mbak Ratih mengajak Alisha untuk survey tempat wedding festival yang akan Mbak Ratih ikuti.


"Ayo, Mbak." Alisha sedikit menggeser tubuhnya agar Mbak Ratih bisa berjalan lebih dulu.


_______________


Di apartemennya Arsya sedang marah-marah di depan manajernya.


"Ini semua pasti karena, lo. Coba aja lo nggak ambil kerjaan waktu itu, pasti dia nggak punya kesempatan untuk bikin postingan gaje kayak gini!"


"Udah marahnya?" Jimmy balik menyentak.


"Semua akan tetap berjalan sesuai yang lo mau jika lo bisa nahan ego lo. Semua pekerjaan akan tetap di tangan dan karir lo akan tetap di atas kalau lo nggak memperkosa Alisha. Asal lo tahu, semua kebodohan lo itu yang bikin gue repot!" Jimmy sudah muak disalahkan terus. Ini saatnya ia membuka mata sang model.


"Lo tahu betapa sulitnya gue menjaga citra lo di depan publik agar lo tetap menjadi model kebanggaan gue. Tapi apa, dengan mudahnya lo hancurkan imej yang udah gue bangun bertahun-tahun. Kalau lo punya pikiran harusnya lo mikir sebelum lo melakukan tindakan amoral itu!" Jimmy menumpahkan segala kekesalannya pada Arsya.


"Selama ini, gue selalu menepis kabar dan mencoba membuat nama lo baik meski gue tahu lo bajingan! Gue hanya ingin bantu karir lo bisa naik. Gue berusaha sana-sini untuk menghandle wartawan yang seakan mau ngejatuhin lo dengan kelakuan minus lo itu. Menutupi semua kelakuan busuk lo. Pernah nggak, lo mikir ke situ?" Jimmy berbicara dengan nada tinggi menyentak.


"Diam lo, bangsat!" Bukannya sadar, Arsya justru marah dan memaki Jimmy. "Gue nggak butuh lo buat jadi manajer gue, sekarang lo pergi dari hadapan gue!" usir Arsya.


"Ok, gue seneng bisa bebas dari lo. Pembuat masalah!" Masih dalam keadaan emosi yang meninggi Jimmy keluar dari apartemen model yang selama ini ia orbitkan.


Kepergian Jimmy semakin membuat Arsya murka. Ia membanting barang-barang di ruang tamu yang bisa ia jangkau.


"Berengsek!" teriaknya. Memgamuk bak orang yang kehilangan kesadaran.


_______________________


Sore hari setelah pulang dari survey lokasi wedding festifal, Alisha langsung ke rumah Imran. Di sana, Imran menyambut kedatangan Alisha dengan suka cita. Hanya Laras yang menampakkan raut kesal melihat keponakannya itu datang.


"Bagaimana kabar Pakdhe?"

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat, kamu sendiri bagaimana?"


"Sehat juga, Padhe."


Beberapa saat mereka terdiam.


"Maaf Al kalau Pakdhe boleh tahu, ada apa kamu datang ke sini. Untuk mengunjungi Pakdhemu ini saja atau ada urusan lain?" Meski pertanyaan itu untuk Alisha tapi tatapan mata Imran mengarah pada istrinya. Seolah ada sesuatu.


"Nggak ada kok Pakdhe, cuma mau tahu kabar Pakdhe sama Budhe saja."


Imran menarik napas lega mendengarnya. Ia kembali melirik Laras.


"Oh ... ya, ini ada sedikit uang untuk Pakdhe dan Budhe, semoga bisa bermanfaat." Alisha mengeluarkan amplop coklat berisi uang yang ia serahkan pada Imran. Sedetik kemudian amplop tersebut sudah berpindah tangan yakni di tangan Laras.


Tanpa basa-basi Laras langsung membuka amplop tersebut dan menghitung isinya. Bibirnya langsung mencibir. "Kok jumlahnya sama aja, bukannya sekarang kamu sudah punya suami kaya, masak nggak ditambah."


Alisha memang memberikan sebagian uang gajinya seperti biasa dengan jumlah yang juga seperti biasanya. Dia memang mendapatkan uang dari Arsya tapi tidak enak jika ia memberikannya pada Pakdhe dan Budhenya. Sebab itulah Alisha memberikan sebagian uang seperti biasanya dari hasil kerjanya. Sementara sisanya Alisha simpan untuk tabungan.


"Pelit!" cibir Laras yang terdengar oleh Imran.


"Buk!"


Laras justru melengos tak acuh dengan teguran suaminya.


"Maafkan Budhemu, Al."


"Nggak apa Pakdhe. Maaf, jika Alisha belum bisa ngasih lebih."


"Makanya punya suami dijaga, jangan dibiarkan dekat dengan wanita lain. Bisa-bisa duitnya bukan untuk istrinya malah untuk simpanannya!"


Alisha mengernyit tak mengerti.


"Buk, ibu ini ngomong apa sih?"


"Loh, aku bener kan, Pak. Suami kalau sudah main serong pasti duitnya udah nggak buat istri lagi tapi buat simpenannya itu. Makanya istrinya dapat jatahnya sedikit. Buktinya ngasih kita aja cuma segini!"


Alisha semakin tak mengerti arah pembicaraan Budhenya.


"Pakdhe." Alisha menatap Imran meminta penjelasan.


"Kamu dan suamimu baik-baik saja, kan?" tanya Imran yang semakin membuat Alisha tidak mengerti dengan semua ini.


"Maksud, Pakdhe, apa?"


"Nih, liat saja sendiri!" Laras langsung menjulungkan ponsel pada Alisha. Menunjukkan foto di salah satu aplikasi media sosial.

__ADS_1


Seketika Alisha menutup mulutnya tak percaya.


"Mas Arsya?"


__ADS_2