
"Bagaimana, udah siap?" tanya Jimmy.
"Udah, Kak, tinggal pakai jas aja," jawab seorang MUA.
Arsya berdiri, dibantu oleh MUA ia mengenakan jas berwarna navy lalu berjalan mengikuti manajernya.
"Ingat, Sya, jangan salah ngomong. Bisa hancur nanti acara ini."
"Nggak usah lo ngajarin gue!" sentak Arsya. Pria itu berjalan dengan tegap menemui kumpulan wartawan yang sejak tadi menanti keterangan darinya.
Didampingi oleh manajernya, Arsya menggelar konferensi pers untuk memberikan pernyataan atas kasus yang membelitnya. Di depan semua awak media yang hadir, Arsya mengatakan jika apa yang ia lakukan pada Alisha yang sekarang berstatus sebagai istrinya adalah sebuah kekhilafan dan Arsya mengakui itu. Untuk itulah dia berani bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan.
Konferensi pers yang sangat singkat, karena Arsya tidak membuka ruang untuk tanya jawab antara dirinya dan para wartawan. Ia hanya memberikan statement saja. Setelahnya dengan dikawal petugas keamanan ia pergi meninggalkan acara itu tanpa menggubris pertanyaan-pertanyaan yang banyak terlontar dari para pencari berita.
Arsya langsung menuju sebuah kantor produk celana jeans di mana ia menjadi ekslusif brand ambassador. Dia berusaha menjelaskan dan berusaha untuk mendapatkan kepercayaan kembali tentang kontrak kerja yang mendadak diputuskan sepihak oleh perusahaan pemilik brand tersebut.
Di sisi lain, di rumah Surya Bagaspati, Alisha sedang berbincang dengan ibu mertuanya. Ternyata, Sarah—sang ibu mertua—bukanlah wanita seperti yang ada dalam bayangan Alisha sebelumnya. Wanita sosialita yang angkuh dan galak.
Sarah justru begitu ramah dengan Alisha. Seperti saat ini, ia memperlihatkan foto-foto Arsya semasa kecil dan menceritakan kisah masa lalu putranya itu.
"Dari dulu Arsya memang anak yang keras kepala, jika dia menginginkan satu hal ia akan berusaha bagaimanapun caranya agar bisa mendapatkan apa yang ia inginkan," ujar Sarah mengingat sifat putranya.
"Tapi, meski begitu Arsya adalah anak yang sangat peduli dengan keluarganya. Dibalik sikap arogan dan pemarahnya, Arsya selalu berusaha melindungi mama dan juga adiknya." Mata Sarah nampak berkaca-kaca kala bercerita.
"Adik?"
"Ya, Arsya punya seorang adik. Kamu pasti tidak tahu."
Alisha menggeleng jujur.
"Namanya, Naima, dia tidak ada di sini."
"Lalu, dia ada di mana?" tanya Alisha sedikit ragu.
"Dia ada di London."
Alisha sedikit kaget. Setahunya Arsyanendara Bagaspati tak pernah diceritakan dalam berita jika ia mempunyai seorang adik. Bahkan selalu disebut jika Arsya adalah putra tunggal dari Surya Bagaspati.
Melihat Sarah yang mendadak berkaca-kaca, membuat Alisha bertanya-tanya. "Ma, maaf kalau ada perkataan Alisha yang salah."
Sarah segera mengusap matanya agar tak ada air mata yang keluar. "Ah ... tidak, ini bukan salahmu. Aku memang selalu sentimentil jika mengingat Naima. Aku sangat merindukannya."
__ADS_1
"Kenapa tidak ada foto Naima di sini?" Alisha menunjuk album foto yang dipegangnya.
"Tidak ada, tidak ada satu foto pun milik Naima di rumah ini. Kami hanya menyimpan Naima dan kenangannya dalam hati."
Aneh.
Tak ingin melihat kesedihan ibu mertuanya berlanjut, Alisha segera menutup album foto di pangkuannya. Ia pun mengalihkan perhatian Sarah dengan bertanya, "Apa masakan yang Mama suka?"
Entah mengapa pertanyaan Alisha langsung membuat Sarah tersenyum. "Kau ingin memasak untuk Mama?"
Alisha ragu tapi ia mengangguk juga. "Aku tidak pandai memasak, tapi jika Mama ingin, aku akan belajar."
"Aku suka makanan pedas, tapi di sini aku jarang memakannya karena Arsya dan juga Papanya tidak suka pedas."
"Apa yang paling mama suka?"
"Balado jengkol," jawab Sarah sembari tertawa.
"Benarkah?" Alisha sampai ternganga mendengar apa yang ibu mertuanya suka.
"Kenapa, apa ada yang salah?"
"Tidak ... tidak, aku pikir orang kaya tidak akan memakan jengkol. Yah, Mama tahu 'kan, bagaimana baunya?"
"Bagaimana denganmu, apa kamu suka?"
"Ya, Alisha suka. Sangat suka. Budhe dan Pakdhe Imran menyukai menu jengkol jadi di rumah kami sangat sering kami memasak jengkol. Bukan hanya diolah balado tapi kadang di semur, kadang juga dimasak rendang, atau opor. Pokoknya selama itu jengkol kami sangat suka." Terlihat wajah Alisha yang bersemangat.
Sarah begitu serius mendengarkan. "Wah, pasti kalian sangat menikmatinya. Kalau Mama tidak bisa makan menu itu meskipun mama ingin, karena papa dan juga Arsya sangat benci bau jengkol."
"Apa Mama ingin makan jengkol sekarang?"
Sarah menggeleng. "Tidak, Mama tidak mau kena marah Arsya."
"Kita masak saja sedikit, lalu kita makan sendiri. Nanti saat papa dan Mas Arsya pulang tidak akan ada yang tahu kalau kita sudah makan jengkol. Bagaimana?"
Secara random tanpa rencana sebelumnya Alisha segera meminta asisten rumah tangga di sana untuk membelikan jengkol. Setelahnya, ia meracik bumbu dan memasak jengkol tersebut dengan resep ala Budhe Laras.
Cukup memakan waktu, tapi Alisha berhasil menyelesaikan masakannya. Begitu siap, ia memanggil ibu mertuanya dan mengajaknya makan berdua. Terlihat sekali jika Sarah menyukai masakan Alisha. Bahkan wanita berkelas itu sampai nambah nasi saking senangnya.
"Masakan kamu enak, Sayang."
__ADS_1
Alisha jadi tersipu dipuji oleh ibu mertuanya. "Terima kasih, Ma."
Mereka lanjut makan hingga Sarah merasa kenyang. Jengkol yang Alisha masak tidak habis kalau hanya berdua, makanya Alisha memberikannya pada asisten rumah tangga di sana.
Setelah makan jengkol Alisha menyarankan mamanya untuk segera gosok gigi dan berkumur dengan larutan pencuci mulut. Supaya ketika papa mertuanya pulang, mamanya tidak ketahuan kalau habis makan jengkol.
Jadwal pekerjaan Surya yang tidak menentu membuat ayah mertuanya itu pulang larut. Katanya ada kunjungan ke daerah terpencil yang sedang terkena musibah banjir.
Sementara Arsya, pria itu juga pulang larut, tapi Alisha tidak tahu apa yang dikerjakan pria itu di luar sana. Ketika pulang, Alisha bahkan sudah merebahkan dirinya di atas ranjang. Masih sama seperti malam sebelumnya, Alisha tidur dengan menggunakan hijab instan.
Alisha terlonjak kaget ketika mendengar teriakan dari kamar mandi. Segera ia berlari untuk melihat apa yang terjadi. Arsya sedang muntah-muntah di wastafel.
"A-apa yang terjadi?" tanya Alisha yang langsung masuk karena pintu tidak dikunci.
Alisha melelihat wajah Arsya yang lelah karena habis muntah-muntah. Pria itu mengusap bibirnya dengan handuk kecil.
"Lo jorok banget ya. Lo pakai toilet dan nggak lo siram ya?"
"Apa?" Alisha bingung. Seingatnya ia selalu membersihkan toilet setelah menggunakannya. "A-aku membersihakannya. Aku bahkan menyikatnya tadi."
"Lalu kenapa ada bau busuk di sini!"
Alisha bingung. Bau apa, menurut penciumannya kamar mandinya sudah wangi. Bahkan bau jengkol yang biasa tersisa setelah ke kamar mandi sudah tak tercium. Lalu kenapa Arsya marah-marah.
"Memangnya ada bau, apa?"
"Hidung lo buntu ya, ini tu bau banget tau!"
"Maaf, apa bau jengkol?" tanya Alisah takut.
"Jengkol? Lo makan jengkol?"
Alisha mengangguk.
Wajah Arsya sektika murka. Tangannya mengepal seolah menahan amarah. Ingin rasanya ia berteriak memaki orang yang makan jengkol kemudian memakai kamar mandi miliknya.
"Gue nggak mau tahu, lo bersihkan kamar mandi ini lagi sampai bersih. Sampai nggak ada bau busuk itu lagi. Kalau perlu lo cuci kamar mandi ini pakai parfum!" Arsya keluar dari kamar mandi dengan marah. Ia bahkan melempar handuk kecil di tangannya ke wajah Alisha.
Wanita itu hanya bisa menatap Arsya yang terlihat aneh. Hanya karena kamar mandi bau jengkol saja marahnya sudah kayak letusan bom di Hiroshima.
"Kamar mandinya sudah bersih," lapor Alisha selesai membersihkan kamar mandi tapi tak direspon oleh Arsya yang ternyata sudah tidur di sofa.
__ADS_1
Melihat suaminya yang sudah terlelap, Alisha memilih untuk tidur juga. Namun sebelum itu, ia mengambil selimut untuk menutupi tubuh Arsya.