
Arsya menunggu dengan tegang proses kuretase yang sedang berlangsung. Penyesalan seakan menguasai hati dan pikirannya saat ini. Menyesal karena terlambat tahu. Menyesal karena tak pernah bertanya tentang kondisi Alisha. Menyesal selalu mengabaikan wanita itu, dan banyak lagi penyesalan lainnya yang kini muncul menyalahkannya.
Jimmy yang sedari tadi menemani hanya bisa terdiam. Ia juga sama kagetnya dengan Arsya tentang kehamilan Alisha.
Mereka berdua duduk dalam diam meski berada di jejeran bangku yang sama. Arsya terus tertunduk lesu dengan segala rasa bersalahnya.
"Selamat malam, dengan Bapak Arsyanendra Bagaspati?"
Panggilan ketika namanya disebut membuat Arsya mendongak dan berdiri. Kaget melihat dua orang berdiri di hadapannya. Meskipun tertutup jaket kulit, Arsya masih bisa melihat seragam polisi yang dua orang ini kenakan.
"Kami dari kepolisian, dan kami membawa surat perintah penangkapan Anda." Salah satu polisi tersebut menyerahkan selembar surat pada Arsya.
Benar saja, isinya menyebutkan jika status Arsya sekarang ini adalah tersangka hingga ia harus ditahan sampai putusan pengadilan dijatuhkan. Jimmy yang ada di sana merebut surat tersebut dari tangan Arsya dan membacanya.
"Pak, kami sedang dalam kondisi berduka tidak bisakah penahanannya ditunda. Saya yang akan menjamin jika Arsya tidak akan kabur." Jimmy mencoba bernegosiasi.
"Kami hanya melaksanakan perintah, jadi mohon kerjasamanya."
__ADS_1
"Tapi, Pak ...." Jimmy tak lagi melanjutkan kalimatnya ketika Arsya mencegah.
"Saya akan ikut Bapak, tapi saya mohon berikan saya waktu sebentar saja. Saya ingin menunggu istri saya yang masih ada di dalam." Arsya menunjuk ruang operasi. "Dan tolong, ijinkan saya untuk memakamkan anak saya. Setelah itu saya akan ikut dengan Bapak."
Kedua polisi tersebut saling tatap. Demi rasa kemanusiaan, mereka pun akhirnya mengijinkan Arsya menunggu sampai operasi selesai.
"Bapak Arsya," panggil seorang perawat ketika pintu operasi dibuka. "Anda boleh masuk."
Sebelum masuk ke ruangan steril itu, Arsya memakai baju khusus yang disediakan. Ia menatap sedih pada Alisha yang masih belum sadarkan diri. Air mata tak mampu ia tahan. Luruh begitu saja.
Hanya beberapa saat Arsya berada di dalam ruangan yang sama dengan Alisha. Tak bisa berlama-lama karena polisi telah menunggunya. Arsya keluar setelah menerima calon janin yang diberikan oleh perawat.
"Saya sudah siap, Pak," ujar Arsya begitu keluar.
Diiringi oleh dua polisi dan juga Jimmy, Arsya berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Sepanjang jalan, Arsya menangis menatap calon janin yang berada di tangannya. Air hujan menyambutnya begitu ia keluar.
Langit terlihat gelap, seakan menggambarkan gelapnya hati seorang Arsyanendra. Penyesalan dan duka sebab kehilangan calon pelitanya.
__ADS_1
Sebelum memasuki mobil polisi, Arsya menangkap bayangan Cinta dari kejauhan. Wanita itu berdiri tepat di samping Joko Permana di bawah payung hitam.
"Silakan masuk, Pak," ujar seorang polisi saat Arsya tak kunjung masuk ke mobil.
Meski diliputi tanya, Arsya berusaha mengabaikan. Ia segera masuk untuk diantar ke pemakaman.
Di tempat peristirahatan terakhir, Arsya menggali sendiri liang untuk calon anaknya. Memakamkan dan mendoakan.
Air langit tak henti-hentinya menetes. Bahkan semakin menderas, menyatu dengan luruhnya air mata Arsya. Banyak doa terucap dari bibirnya, pun ungkapan maaf yang kini tiada artinya.
"Mari, Pak," ujar polisi. Mengakhiri pemakaman ini.
Arsya belum pernah melihat calon anaknya tapi kesedihan merundungnya tanpa bisa terelakkan.
"Gue titip Alisha dan Mama, tolong jaga mereka selama gue di dalam," pesan Arsya pada Jimmy.
Teman sekaligus manajer itu hanya bisa menatap sedih pada mobil polisi yang membawa Arsya. Baru kali ini ia melihat seorang Arsya benar-benar berduka. Tak ada lagi arogansi. Hanya pasrah yang terlihat.
__ADS_1