Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.32 Memantik Api Masalah


__ADS_3

Begitu sampai di solo, Arsya hanya istirahat sebentar di hotel. Setelahnya ia harus pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk menjadi juri sebuah event modeling pencarian bakat yang diadakan oleh sebuah agensi model terkenal di Jakarta.


Begitu memasuki area pusat perbelanjaan, Arsya sudah menjadi pusat perhatian. Parasnya yang rupawan mampu memikat ratusan pasang mata yang melihatnya. Banyak yang mengelu-elukan namanya untuk sekadar bersalaman atau meminta foto, tapi karena acara baru saja akan dimulai petugas keamanan yang sudah disiapkan oleh penyelenggara acara melarang hal tersebut. Mereka hanya diijinkan melihat Arsya dari tempat penonton.


Setelah Arsya, juri-juri yang lain pun dipanggil. Ada artis ibu kota juga yang tadi datang bersama Arsya dari Jakarta. Ada juga senior model yang sudah lama mencicipi dunia permodelan nasional hingga internasional, yang lebih membuat Arsya terkejut adalah kedatangan Cinta. Wanita yang dulu sempat menggoda dirinya di apartemen hingga terpergok oleh Alisha.


"Kok lo nggak bilang kalau dia jadi juri juga?" bisik Arsya pada Jimmy.


"Gue juga nggak tahu, dalam kontrak kemarin tidak ada pembicaraan kalau dia jadi juri. Nanti gue cari tahu. Sekarang lo fokus aja." Jimmy menepuk bahu Arsya kemudian meninggalkan pria itu di bangku juri bersama yang lain.


Acara yang digelar sore hari dan diikuti oleh anak-anak muda Solo dan sekitarnya itu pun di mulai. Semua menampilkan kemampuannya dalam hal berlenggak-lenggok di atas catwalk. Ini adalah kesempatan besar bagi mereka untuk bisa ikut dalam agensi yang lebih besar yang tentunya akan membuka peluang yang sangat besar pula. Tak ada yang tak serius, semua bekerja keras demi menampilkan yang terbaik untuk bisa memikat juri.


Acara selesai sekitar pukul delapan malam, karena ada jeda istirahat juga. Di akhir acara diumumkan siapa-siapa saja yang akan masuk ke babak final esok hari.


Setelah dari pusat perbelanjaan, semua juri dan juga tamu undangan dalam event tersebut dijamu oleh tim penyelenggara di restoran sebuah hotel. Di sana mereka masih membahas akan event esok hari dan membicarakan talent-talent yang tadi berkompetisi.


Barulah ketika waktu sudah menunjuk pukul sebelas malam acara jamuan itu berakhir. Ada yang langsung kembali ke kamar mereka tapi ada juga yang justru memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang di kota Solo. Salah satunya Beby, artis sinetron yang sedang naik daun itu mengajak Arsya untuk pergi ke kelab yang ada di hotel tersebut.


"Ayolah, mumpung kita di sini, atau jangan-jangan sejak nikah lo jadi suami-suami takut istri, ya?" cibir Beby, karena Arsya tak kunjung menjawab ajakannya.


Arsya melihat Patricia—model internasional yang didapuk menjadi juri sama seperti dirinya. Lalu beralih pada Cinta, aktris sekaligus model yang pernah memikat hatinya. Ia juga menatap Devan, manajer dari agensi model yang mengadakan acara besar ini.


"Udahlah, ayo berangkat." Devan menepuk lengan Arsya.


Mau tak mau Arsya ikut juga mereka semua untuk menikmati malam di kelab hotel tempat mereka menginap. Begitu memasuki area kelab, suara musik energik langsung mengisi indera pendengaran mereka.

__ADS_1


Arsya dan teman-temannya langsung mengisi bangku kosong yang tersedia. Tak lama, pelayan datang menawarkan minuman. Devan yang pertama memesan minuman, ia juga memesankan minuman yang sama untuk teman-temannya termasuk Arsya.


Sambil menunggu minuman datang, Arsya melihat ponselnya yang sedari tadi belum ia buka. Ada pesan dari Jimmy jika pria itu pergi menemui teman lamanya yang tinggal di Solo. Lalu ada pesan dari mamanya yang mengirimkan kabar jika Alisha sudah berada di rumah mereka tapi belum mau diajak periksa, tapi Arsya tak membalasnya.


"Ayo kita bersulang, semoga acara besok lebih lancar dari hari ini," seru Devan.


Semua mengangkat gelas mereka tanpa kecuali. Arsya pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jas dan ikut mengangkat gelas.


"Cheers!" teriak mereka bersama.


Cinta yang duduk di samping Arsya mencoba mengajak bicara. "Mau turun?" tawarnya.


Arsya menoleh ke lantai dansa di mana banyak orang menari mengikuti alunan musik. "Boleh," jawab Arsya setuju.


Devan dan juga Beby mengikuti jejak mereka untuk ikut turun ke lantai dansa. Begitu pun dengan Patricia dan asistennya. Hanya ada asisten dari Cinta yang masih setia duduk di meja sembari bermain ponsel.


Semakin malam semakin panas saja suasananya, sebab semakin banyak yang justru ingin meluapkan emosi mereka dalam alunan musik yang menghentak. Arsya dan teman-temannya yang sudah cukup lama berolah raga dengan menari kembali ke meja mereka dengan perasaan bahagia dan tawa. Segera mereka semua meredam dahaga yang terasa dengan meneguk air dalam gelas yang tadi mereka tinggalkan.


Tidak cukup satu gelas, asisten Cinta dengan sigap mengisi gelas mereka semua satu persatu dan membuat mereka kembali bersulang. Semua menikmati acara senang-senang mereka malam ini. Sebab besok mungkin mereka akan langsung pulang setelah acara karena kesibukan masing-masing.


"Gue balik ke hotel duluan ya, besok pagi gue ada acara sebelum jadi juri," ujar Beby.


Patricia pun menilik jam di tangannya. Sudah lewat tengah malam, ia rasa ia juga harus segera istirahat. Begitu pun Devan, ia harus mempersiapkan acara esok hari. Hanya Arsya yang terlihat mulai tak sadarkan diri. Pria itu terus memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Eh, kayaknya Arsya sudah mulai mabuk, nih," ujar Devan ketika ia akan pergi. "Siapa yang akan antar dia ke kamarnya?" sambungnya.

__ADS_1


"Payah nih Arsya, baru minum dikit aja udah tumbang," ejek Beby. "Apa kita minta bantuan petugas kelab saja?" usul Beby.


"Ya udah panggil aja," timpal Patricia. "Lo aja yang awasi Arsya sampai ke kamarnya, ya?" pinta Patricia pada Cinta. "Kamar lo sebelahan, kan?"


"Beres," jawab Cinta yakin.


Akhirnya mereka semua meninggalkan kelab malam tersebut dengan Arsya yang dipapah oleh salah satu petugas kelab dan dibantu oleh asisten Cinta.


"Sudah, tidurkan saja di situ," ujar Cinta pada petugas kelab, tak lupa ia memberikan tip karena telah membantunya membawa Arsya.


Senyum di bibirnya tersungging begitu melihat Arsya yang tak berdaya. Ia menatap pada asistennya dan mengacungkan jempol pada pria yang selalu setia mengikutinya ke mana-mana.


Tak lama setelahnya, asisten Cinta keluar dengan senyum puas dan membiarkan artis tersebut berduaan saja dengan Arsya dalam kamar hotel. Ini bukan lagi urusannya.


Pagi harinya, Arsya terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Ia terus memijit pelipisnya untuk mengurangi pusing yang mendera.


"Masih pusing?" tanya seseorang di sampingnya yang membuat Arsya kaget seketika.


"Kamu, ngapain di sini?" tanya Arsya bingung. Lebih bingung lagi ketika wanita itu menarik selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Ia pun melihat keadaannya sendiri. Sama seperti wanita itu, Arsya pun dalam kondisi tak berpakaian.


"Aku nemenin kamu dari semalam. Masak kamu lupa kalau kita melewatkan malam yang indah bersama," jawab Cinta tanpa beban. Bahkan berusaha tersenyum manis di depan Arsya.


Arsya semakin syok dengan jawaban Cinta. Ia telah melakukan hal tak pantas dengan wanita itu. Pikirannya semakin berkecamuk kala teringat ucapan Jimmy agar tak bermain api. Nyatanya, ia telah memantik api itu pada tumpukan jerami masalah. Tinggal menunggu kobarannya saja untuk membuat asap membumbung tinggi.


"Arrghhh!" Arsya menggeram frustasi sembari menarik rambutnya kuat-kuat.

__ADS_1


__ADS_2