
"Lepas!" Jenna memberontak ketika Devon—orang yang ditugaskan untuk menjaganya— berhasil menemukan Jenna.
"Aku bilang, lepas!"
"Maafkan aku, Nona. Aku hanya menjalankan perintah." Tidak menuruti permintaan Jenna, bodyguard itu terus membawa Jenna pergi.
Mirip seperti tawanan, Jenna dibawa kembali pada orang yang telah membayarnya untuk pekerjaan ini.
Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Jenna begitu ia sampai pada pria yang dulu sangat ia percayai. Namun sekarang menjadi pria yang sangat ia benci.
"Kenapa berhenti? ayo tampar lagi!" teriak Jenna menantang. Ia sudah kebal dengan rasa panas dari telapak tangan pria ini.
Jenna bahkan tidak lagi menangis ketika sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya. Kendati rasa panas menjalari kulit, ia berusaha mengabaikan. Tamparan-tamparan sebelumnya mengajarkan ia harus kuat.
Benar, Jenna harus kuat. Dunia ini begitu keras terhadapnya. Ia tidak boleh menyerah dan kalah.
"Aku yakin, mamaku akan bahagia melihat aku dari surga. Melihat betapa kuatnya aku menghadapi pengkhianat sepertimu!"
Pria yang sudah mengangkat kembali tangannya itu mendadak berhenti dan menurunkan tangan. Ia menatap marah pada Jenna.
Berpikir bagaimana lagi harus menghukum gadis nakal ini. Kalau harus melenyapkan, itu tidak mungkin. Sebab Jenna masih ia butuhkan.
Dering ponsel membuat pria itu mengalihkan perhatian sejenak.
"Awasi dia!" titahnya pada Devon sebelum meninggalkan kamar wanita itu.
Devon mengangguk. "Baik, Pak."
Lalu pergi mengantar bosnya keluar.
Di dalam kamar setelah dua pria tadi pergi, Jenna menutup pintu rapat-rapat. Ia sudah berusaha kuat, tapi rupanya ia tidak sekuat yang ia bayangkan. Ia menumpahkan tangis yang sebelumnya ia tahan.
__ADS_1
Kenapa takdir begitu tidak adil padanya. Memang apa salahnya hingga ia harus berada di posisinya sekarang.
Jenna berdiri mengambil cutter yang ia simpan di laci. Mengeluarkan mata pisau dan menatap nanar nadi di tangan.
Ia tempelkan pisau kecil itu di pergelangan tangan kiri. Siap menekan dan mengakhir semua drama yang ia jalani. Ia lelah.
"Pasti semua akan lebih baik. Tidak akan ada lagi kesakitan, tidak ada lagi kesedihan. Semua pasti akan berakhir damai. Yang terpenting aku bisa berkumpul lagi dengan mama," gumam Jenna.
Ia mulai memejamkan mata. Mengingat kenangan bersama mamanya.
Baru saja memikirkan satu-satunya wanita yang begitu mengerti dirinya, tiba-tiba wanita itu datang. Tepat di saat ia mulai menekan cutter. Saat rasa perih mulai ia rasakan.
"Jenna, putri kecilku."
"Mom ...."
Mamanya datang memeluk Jenna.
Wanita anggun bergaun putih itu memeluk Jenna semakin erat. Seperti itu juga Jenna tak ingin melepaskan pelukan ibunya kali ini. Ia ingin terus berada pada dekapan sang ibu. Selamanya.
*****
Di pinggir kolam renang, Anggi duduk menyiku kaki. Satu tangan bermain air tanpa arti.
Ingatannya masih tentang siang tadi. Ketika ia terkejut mengetahui status Arsya yang rupanya sudah kembali beristri.
Siang tadi, sepanjang room tour di rumah baru sang model, perhatian Anggi tak sedikitpun lepas dari Arsya dan Alisha. Semakin berlama-lama dengan mereka, semakin Anggi bisa melihat jelas sikap yang dtunjukkan Arsya.
Siapa pun bisa menilai bahwa Arsya begitu peduli dan mencintai istrinya. Contohnya saat Alisha hampir terpeleset jatuh dari tangga, dengan sigap Arsya langsung menahan tubuh sang istri agar tak sampai jatuh.
"Kamu, nggak apa-apa?" tanya Arsya perhatian.
__ADS_1
"Enggak, Mas." Meski mengatakan demikian tapi nyatanya ketika akan kembali lanjut menaiki tangga kaki Alisha sulit digerakkan. Rasa nyeri mulai menjalar di angkle kakinya.
Merasa istrinya tidak baik-baik saja, Arsya tanpa sungkan menggendong Alisha. Di depan Anggi dan asistennya. Karena alasan itu, Arsya meminta untuk menyudahi pertemuan mereka siang tadi.
Semua di luar ekspektasi Anggi. Arsya telah mematahkan hati bahkan sebelum pria itu tahu perasaannya.
"Sayang ...."
Anggi tersentak dari lamunan. Ia menoleh pada suara yang memanggilnya.
"Ma ... Pa ...." Nita dan Gunawan berjalan beriringan menghampirinya.
Pasangan yang menjadi role mode bagi Anggi. Orang tuanya adalah contoh harmonis dalam menjalin biduk rumah tangga. Tak sekali pun Anggi melihat mama dan papanya bertengkar.
Sikap saling mencintai selalu Gunawan tunjukkan pada sang istri. Bahkan Anggi bercita-cita akan mencari pria seperti papanya. Bertanggung jawab, cinta keluarga dan setia.
"Ngapain di situ?" tanya Nita.
Anggi berdiri menghampiri orang tuanya. "Santai saja, Ma."
Ia sedang tidak ingin berterus terang tentang perasaannya pada siapa pun termasuk orang tuanya. Pikirnya masih terlalu dini mengadu perihal rasa yang belum jelas arahnya.
"Sudah makan?" tanya Gunawan dan dijawab Anggi dengan menggelengkan kepala.
Gunawan pun mengajak anak serta istrinya menuju meja makan. Di meja itulah Anggi semakin bangga pada papanya. Pria yang selalu menyempatkan diri dan waktunya untuk keluarga. Meski sekadar untuk makan malam. Padahal Gunawan adalah pengusaha yang sangat sibuk.
Namun, masih bisa menyeimbangkan urusan bisnis tanpa mengabaikan keluarga. Ah ... bahagianya hidup Anggi. Seolah tanpa cela sejak ia masih kecil.
Melihat kebahagiaan orang tuanya, Anggi kembali teringat Arsya. Andai saja ia bisa bersama pria itu, pastilah semakin lengkap kebahagiaan yang ia rasa.
Baru kali ini Anggi begitu mengharapkan seorang pria.
__ADS_1