
"Arsya ...!" Sarah terbangun dari tidur malamnya.
Sudah beberapa hari ini Sarah sering bermimpi buruk, entah memimpikan putranya atau kadang suaminya.
Sejak kedatangan Arsya tempo dulu, anak itu belum pernah lagi datang ke vila untuk menjenguk Sarah. Bahkan telepon pun jarang. Hal ini menambah beban pikiran Sarah. Khawatir terjadi sesuatu pada putra semata wayangnya.
Alisha juga tak bisa menghubungi Arsya karena ponsel pria itu jarang aktif. Jadilah sekarang kondisi Sarah menurun.
Atas permintaan ibu mertuanya, Alisha diminta pulang ke Jakarta untuk menemui Arsya juga menengok Surya. Awalnya Alisha menolak karena takut tidak ada yang menjaga Sarah. Namun, desakan dari mertua membuat Alisha berangkat juga.
"Neng Alisha beneran mau berangkat sendiri, nggak Mamang antar?"
"Enggak, Mang. Mang Asep di sini saja bantu Mak Ijah jaga mama. Kalau ada apa-apa sama mama langsung telepon saya, ya."
Mang Asep mengangguk patuh.
Alisha yang sudah ditunggu oleh taksi segera naik. Hujan di pagi itu tak menyurutkan tekadnya untuk menemui suaminya.
Sepanjang jalan ia mencoba menghubungi Arsya, juga mengirim pesan untuk pria itu. Menanyakan di mana Arsya saat ini. Namun, ponsel Arsya tidak aktif. Pesan yang ia kirim pun hanya centang satu.
Sampai di Jakarta, karena belum bisa menghubungi Arsya, ia memilih untuk menjenguk papa mertuanya lebih dulu. Bertanya kabar seperti pesan Sarah.
Dilihatnya tubuh Surya yang lebih kurus dari sebelum masuk tahanan. Raut wajah pria paruh baya itu juga sayu, tapi masih berusaha tersenyum melihat kedatangan Alisha.
Tak lupa ia memberikan bekal makanan yang ia bawa dari vila. Surya terlihat bahagia menerimanya.
Sebelum ia pamit, papa mertuanya itu berpesan agar Alisha membantunya menjaga Sarah dan Arsya. Sejujurnya itu tugas berat, tetapi Alisha iyakan juga.
Tak bisa berlama-lama karena waktu kunjungan sudah habis. Alisha pun segera pamit.
__ADS_1
"Papa jaga kesehatan, ya. Insyaallah, Alisha akan jaga mama dengan baik juga." Alisha mencium punggung tangan Surya dengan takzim sebelum meninggalkan rumah tahanan.
Dari menjenguk papa mertua, Alisha langsung ke rumah kediaman keluarga Arsya. Dari informasi penjaga rumah, tak sekali pun Arsya pulang ke sana.
Berlanjutlah Alisha ke apartemen. Sama saja. Tak ada Arsya di sana. Malah apartemen mereka terkesan lama tak ditempati karena terlihat berdebu.
Berbekal nomor telepon yang sebelumnya Alisha minta pada Sarah, ia pun menghubungi Jimmy. Bertanya di mana Arsya berada.
Pria itu justru meminta Alisha datang ke kantornya. Tak mau membuang waktu, dari apartemen Alisha langsung ke kantor Jimmy.
"Gue juga nggak tahu di mana Arsya sekarang, dia pergi dari apartemen gue dua hari yang lalu."
Jimmy pun bercerita tentang kejadian pagi itu. Di mana Arsya diminta datang oleh seseorang yang tak lain adalah Cinta, untuk menemui wanita itu di suatu hotel.
Namun, kala itu Jimmy berhasil mencegah Arsya pergi. Jimmy takut jika semua adalah jebakan Cinta yang akan membuat Arsya semakin bermasalah. Arsya menurut, dan urung menemui Cinta.
"Baru dua hari yang lalu Arsya pergi dari apartemen gue tanpa pamit." Jimmy mengulang perkataan sebelumnya.
Jimmy nampak berpikir ke mana modelnya itu pergi. Jujur ia malas mencari, tapi jika mengingat Alisha yang jauh-jauh datang juga mamanya Arsya yang sedang sakit, terpaksalah ia harus ikut pusing.
Cara membuat Arsya lepas dari tuduhan tersangka saja sudah membebani pikirannya. Sekarang pria itu justru berulah dengan pergi tanpa pamit.
Jimmy mulai mengingat-ingat kejadian sebelum Arsya pergi dari apartemennya. "Gue nggak yakin, tapi tidak ada salahnya kita cek," ujar Jimmy spontan setelah mengingat kejadian di malam sebelum Arsya pergi.
Saat itu mereka sedang minum bersama, Jimmy sudah setengah sadar. Samar-samar ia mendengar jika Arsya ingin liburan mencari ketenangan sejenak. Ia ingin ke pantai, tapi yang dekat saja dengan Jakarta.
Alisha mengangguk setuju.
Mereka pun pergi dengan mobil Jimmy. Menuju pantai yang biasanya Arsya kunjungi bersama Jimmy dan teman-temannya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Alisha berharap bisa menemukan Arsya di sana. Membawanya ke vila untuk bertemu Sarah.
Jimmy langsung mengarahkan mobilnya ke sebuah cottage milik keluarga Arsya. Benar saja, ada mobil Arsya terparkir di carport.
"Ayo," ajak Jimmy.
Alisha terus mengikuti Jimmy di belakang. Beberapa kali manajer suaminya itu mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Ia pun mencoba menekan handle pintu yang rupanya tidak dikunci.
"Kebiasaan," gumam Jimmy. Ia mengajak Alisha untuk ikut masuk.
"Sya ... Sya," teriak Jimmy.
Ia membuka satu per satu kamar yang ada di dalam untuk mencari Arsya.
"Nggak ada," ujar Jimmy menoleh pada Alisha.
"Tapi, mobil mas Arsya di luar."
"Mungkin dia lagi pergi."
Alisha dan Jimmy baru saja akan keluar ketika pintu terbuka dan menampilkan dua sosok yang tidak bisa Alisha percaya. Bukan hanya Alisha, Jimmy pun tak menyangka.
"Alisha?" Arsya tercengang melihat ada Alisha di cottage ini.
Tak bisa berkata-kata, Alisha hanya tersenyum getir menyaksikan suaminya dirangkul mesra oleh wanita lain.
"A-aku bisa jelaskan semuanya," ujar Arsya. Ia melepaskan tangan Cinta yang bergelayut manja di sampingnya.
Dengan gerakan tangan Alisha menghentikan. Agar Arsya tak mendekat padanya. Ia segera berlari meninggalkan dua orang yang baginya begitu menjijikkan.
__ADS_1
"Alisha, tunggu!"