Akad Tak Terelak

Akad Tak Terelak
Bab.13 Menunggu


__ADS_3

Dengan menepiskan segala rasa traumanya, Alisha berusaha bersikap wajar dan biasa saja. Ini sudah menjadi jalan yang ia pilih, ia harus menghadapi. Mungkin nanti ia akan pertimbangkan untuk pergi psikolog untuk membantunya mengatasi trauma.


Selesai bersiap untuk berangkat kerja, Alisha sedikit terkejut saat keluar kamar dan mendapati ada tamu di apartemen ini. Ia hanya bisa mengulas senyum tipis sembari menganggukkan kepala sebagai sapaan.


Tamu yang merupakan manajer Arsya itu membalas senyum Alisha dengan balik tersenyum. Bukan hanya itu, pria itu juga menatap Alisha dengan tatapan aneh seolah terpesona.


"Cantik," lirihnya.


Arsya yang duduk tepat di samping manajernya mendengar pujian dari pria itu untuk Alisha. Ia juga melihat tatapan mata Jimmy yang tak beralih dari istrinya. Sontak saja Arsya menimpuk wajah manajernya dengan majalah di tangannya.


Kaget dan sakit membuat Jimmy menjerit. "Gila, lo!"


"Lo yang gila!" Arsya mendelik tajam menatap Jimmy.


"Kenapa?"


"Gue cuma nggak mau mata lo mendadak keluar karena nggak kedip."


Tahu akan maksud Arsya, Jimmy hanya bisa nyengir.


Sementara Alisha pergi ke dapur untuk mengambil nasi goreng yang tadi ia buat. Ia memilih untuk membawanya saja sebagai bekal. Setelah menata bekalnya dan menyingkirkan piring kosong milik Arsya, ia pun segera berangkat.


Sebelumnya ia menghampiri suaminya untuk pamit. "Mas, aku berangkat kerja dulu, ya?" Alisha mengulurkan tangannya.


"Hmm," jawab Arsya tanpa menoleh.


Jimmy yang ada di samping Arsya menyenggol temannya itu agar melihat Alisha yang sedang pamit.


Melihat tangan Alisha terulur, Arsya seolah dengan terpaksa mengulurkan tangannya untuk Alisha cium.


"Assalamualaikum," pamit Alisha.


"Waalaikumsalam." Hanya Jimmy yang menjawab dengan mata tak lepas dari pintu di mana Alisha pergi.

__ADS_1


Sekali lagi Arsya memukulkan majalah tepat di kepala Jimmy. "Jaga, mata, lo!" Arsya beranjak dari duduknya meninggalkan Jimmy yang masih merasakan sakit karena pukulan majalah.


"Istri lo cantik, Sya," ujar Jimmy yang mengikuti Arsya masuk ke dalam kamar.


"Terus?"


"Ya, lo beruntung lah punya istri cantik kayak dia. Sholeha pula."


"Beresin aja baju gue nggak usah banyak ngomong!" titah Arsya tak menanggapi ucapan Jimmy sebelumnya. Kemudian meninggalkan manajernya itu ke kamar mandi.


Setelah bersiap, Arsya dan Jimmy pergi ke Bandara untuk pemotretan di luar kota. Sepanjang perjalanan sampai di tempat pemotretan Arsya tak henti-hentinya mengomel. Pria itu seakan enggan melakukan pekerjaan ini.


"Kenapa lo ambil kerjaan ini, gue males tau kerja bareng cewek ini," ujar Arsya di sebuah studio pemotretan.


"Sttt ... pelan-pelan ngomongnya. Lo pikir cari kerjaan sekarang gampang. Lo ingat, 'kan, kemarin lo kehilangan kontrak eksklusif lo untuk produk denim. Sejak kasus lo waktu itu banyak yang nggak mau pakai lo sebagai brand ambasador. Ini aja kalau bukan karena cewek ini, nggak bisa lo masuk ke iklan ini. Lo tau lah kalau Sherly dari dulu kecintaan sama lo. Makanya gue manfaatkan kesempatan itu. Lo nggak tahu sih, susahnya gue dapatkan kontrak ini. Meski dia bukan spek lo, tapi dia lagi punya hoki yang bisa kita manfaatkan."


"Nah, lo tau kalau dia bukan spek gue. Kenapa juga lo maksain gue satu project sama dia. Gue illfeel tau!"


"Bos, gue sedang mempertahankan karir lo supaya nggak tenggelam. Kalau lo nolak setiap tawaran kerja kayak dulu, bisa-bisa habis karir lo. Tamat!" Jimmy menggerakkan tangganya di depan leher seolah memotong.


Buru-buru Jimmy menyenggol lengan Arsya agar berhenti bicara ketika model bernama Sherly masuk ke ruangan mereka.


"Hai, Bebz, udah siap belum?" Sherly dengan gayanya yang manja dan sok akrab mendatangi Arsya.


"Ngapain lo di____"


"Eh, Sherly. Kita udah siap kok. Tinggal nunggu dipanggil aja," potong Jimmy cepat. Manajer Arsya itu tidak mau jika Arsya mengatakan kejujuran tentang ketidaksukaannya pada wanita bernama Sherly ini.


"Aku juga udah siap. Bisa kita mulai sekarang. Nggak sabar nunggu pemotretan bareng kamu."


Setelah mendengar panggilan dari fotografer, sesi pemotretan pun dimulai. Banyak kesalahan yang Arsya buat saat berpose. Mungkin karena tidak nyaman dengan partner kerjanya kali ini. Meski begitu Arsya berhasil menyelesaikan pemotretan hari ini karena sudah malam.


"Ok ... Bagus. Kita break dulu, kita lanjut besok," ujar fotografer.

__ADS_1


Arsya langsung menyingkirkan tangan Sherly yang sejak tadi bergelayut di pundaknya karena memang begitulah ia harus bergaya demi kebutuhan foto. Sherly sedikit kaget dengan sifat Arsya tapi ia tidak tersinggung sama sekali. Maklum, wanita ini dari dulu memang sudah mengincar Arsyanendra.


Selepas beres-beres dan berganti pakaian, mendadak Sherly kembali muncul di ruangan Arsya.


"Bebz, kita hangout, yuk. Katanya di sini ada kelab yang ok banget," ajak Sherly.


Jimmy melirik Arsya untuk tahu tanggapan pria itu.


"Gue capek!" jawab Arsya ketus.


"Oh, ya, kalau gitu aku pijitin kamu mau, nggak? Aku pinter mijit lho. Mau coba?" Sherly mengerling manja. Membuat Arsya semakin tidak suka.


"Sorry, gue harus telpon istri gue." Tak peduli lagi dengan wanita bernama Sherly, Arsya bergegas pergi. Disusul oleh Jimmy yang sedikit berlari mengikuti langkah sang model.


Sherly yang merasa diabaikan berdecak kesal. Ia menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali. "Lihat aja, gue bakal dapetin lo, Sya. Nggak ada yang bisa nolak gue!"


Rupanya apa yang Arsya katakan tadi tak sesuai kenyataan. Ia tidak langsung kembali ke hotel, tapi mengajak Jimmy untuk pergi ke bar. Di sana, ia melampiaskan kekesalannya karena pekerjaan hari ini.


Sudah beberapa jam Arsya berada di bar tersebut tapi Jimmy tak melihat sekali pun Arsya menghubungi istrinya seperti apa yang pria itu tadi katakan.


"Sya, katanya lo mau telpon istri lo," ujar Jimmy mengingatkan.


"Buat, apa?"


"Ya, ngasih kabar lah. Kan tadi lo belum bilang ke istri lo kalau lo ada kerjaan di luar kota. Gimana kalau istri lo sekarang sedang gelisah nungguin lo pulang."


Arsya menatap tajam Jimmy. "Lo pikir gue sedekat itu sama dia. Lo tahu kan kalau gue nggak pernah menginginkan dia jadi istri gue!" Arsya menenggak kembali minumannya.


Jimmy hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Arsya. Sudah bagus dia nggak jadi penghuni rutan, dapat bonus pula istri cantik dan sholeha. Eh ... masih saja nggak bersyukur.


Seperti apa yang Jimmy takutkan tentang kegelisahan Alisha. Di apartemen, wanita itu tengah menunggu Arsya pulang. Sudah hampir jam dua belas malam tapi suaminya belum pulang juga. Bahkan tidak ada kabar. Ia pun tidak tahu harus ke mana bertanya sebab Alisha tidak memiliki nomor suaminya atau pun manajernya.


"Apa ia akan pulang malam lagi?" batin Alisha. "Dalam keadaan mabuk lagi?"

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim!" Alisha segera menepis pikiran buruk tentang suaminya. Ia juga pernah bekerja sama dengan Arsya dalam event pagelaran, mungkin juga Arsya pulang malam karena pekerjaannya tersebut. Bukankan wajar jika event-event seperti itu selesai larut malam.


Alisha putuskan untuk menunggu saja di ruang tamu.


__ADS_2